selaksa makna

seperti kata-kata, hidup memiliki ribuan makna di baliknya..

The Sapto (alias: Nasi Goreng Sapto)

The Sapto[1]

(alias: Nasi Goreng Sapto)

***

Namanya bukan Sapto, tetapi kami memanggilnya Sapto.

Tidak ada yang tahu persis nama aslinya. Pernah suatu ketika dia menyebutkan nama aslinya. Tapi tak menarik, lebih enak dan lebih terbiasa bagi kami menyebut dan memanggilnya, Sapto.

Dia tak pernah memandang kami saat berbicara. Hanya melirik saja sekilas, setidaknya menunduk. Tingginya sedang, dengan rambut yang selalu pendek. Dan lengannya kekar, bukan karena fitness, bertinju, beladiri, atau yang sejenisnya. Dia lelaki baik, yang bersetia menggoyangkan wajan ukuran 26 setiap malam, beserta adukan nasinya.

Memilih profesi penjual nasi goreng telah membuatnya berlengan kekar.

***

Namanya bukan Sapto, tapi kami memanggilnya Sapto.

Kami mengenal Sapto di Sendowo, sebuah “kampung kuburan” di sisi barat kampus Gadjah Mada, persis di pinggir ledhok[2] kali Code[3]. Kampung kuburan? Ya ya.., secara bercanda kami menjulukinya sebagai twin sister graveyard town atawa dua kampung kembar bekas kuburan. Kampung Sendowo bersisian dengan kampung Blimbingsari, yang sejarah keduanya belum cukup panjang, yaitu sebagai permukiman baru yang dibangun di atas puing-puing kuburan.[4] Bahkan menurut cerita, beberapa kuburan belum direlokasi karena tak ada lagi ahli waris yang dapat diminta merelokasinya.

Tapi jangan keburu membayangkan yang seram-seram macam miniseri Walking Death yang marak tayang di Home Box Office maupun Glodok[5]. Tak ada aroma seram di kampung ini, percayalah, karena kami sering menghindari siang yang terik dengan duduk-duduk di antara nisan-nisan bawah kerindangan pohon kapuk, mahoni, kamboja, maupun rerimbunan kersen.

***

Di kampung itu kami mengenal Sapto sang chef nasi goreng. Spesialis nasi goreng.

Warungnya kecil saja, dengan sebuah etalase pajang yang hanya berisi panci sayur bikinan istrinya, dan dua magic jar ukuran besar. Di sisinya, sebuah kompor pressure minyak tanah, semeja dengan termos super jumbo penuh nasi matang semi aking bakal nasi goreng. Bedanya dengan nasi dalam magic jar? Dua-duanya dari jenis beras yang sama, beras ekonomis, hanya perlakuannya yang beda. Nasi goreng perlu spesifikasi nasi agak keras, dan karenanya nasi harus didinginkan terlebih dahulu. Sementara nasi sayur tak perlu didinginkan, agar tak mengeras saat dikunyah. Tapi keduanya tetap sama, ketika menjadi dingin, kau seperti sedang mengunyah beras seduh.

***

Rumah Sapto merangkap rumah in de kost. Beberapa kamar di lantai atas, yang sebenarnya lebih tepat disebut loteng, menjadi peraduan para kolega, para utusan kota manca yang mendapat tugas mulia mencerdaskan dirinya di Kampus Biru[6], lalu pulang membawa kemakmuran bagi kampung halaman masing-masing.

Dan bersama merekalah kami berlomba, setiap ba’da maghrib, usai mas Aris mengakhiri doa bersama jamaah masjid Mustaqiem[7], bergegas kami melangkah cepat. Lalu merapatkan barisan sedekat mungkin dengan kompor pressure Sapto, berharap bahwa kedekatan fisik itu akan membuat kami memperoleh antrian pertama. Yup, antrian pertama untuk nasi goreng sang genuine chef berlengan kekar dari Wonogiri.

***

Lihatlah, belum sepuluh orang genap dilayaninya, Sapto telah berpeluh. Punggung tangan menyeka keringatnya, atau kadang jika ingat, handuk yang kuragukan jika warnanya dulu putih, ditarik sekenanya mengusap dahi, ujung hidung, dan kembali tersampir di tengkuknya, menutup manset leher menipis berserabut dari uniform kesukaannya, kaos biru kehijauan dengan gambar besar di punggungnya, seekor burung bango berdiri pada satu kaki.

***

Jika sang genuine chef sudah menggelar dagangannya, maka dipastikan antrian belum akan menyurut hingga dua atau tiga jam kemudian. Dua hal yang membuatnya menjadi sang genuine, pertama mengenai orisinalitas idenya untuk menentukan harga yang sangat tak wajar. Bahkan merusak mekanisme penetapan Harga Eceran Terendah untuk komoditas yang sama. Sebungkus nasi goreng Sapto, dilengkapi telur dadar, hanya tiga ribu rupiah. Sementara chef-chef yang lain, di jalanan sana, mematok tak kurang dari enam ribu rupiah.

***

Genuine bukan? Idenya orisinal untuk menyuguhkan hanya telur dadar. Karena dengan mengocok banyak telur bersamaan hingga berbuih mengembang, akan didapatkan telur dadar yang besar di penggorengan panas, tapi tanpa disadari akan menyusut pelan-pelan dalam bungkus nasimu, dan ketika kaubuka dia sudah menjadi sosok telur dadar yang jauh berbeda, terutama ukurannya. Apalagi dari adonan sepuluh telur yang dikocok bersama, akan bisa diciptakan setidaknya 15 telur dadar. Cerdas, dan tak mengundang protes, karena akad jual belinya adalah terhadap sebungkus nasi goreng telur, bukan sebungkus nasi goreng plus satu butir telur.

***

Kecerdasan kedua sang chef adalah ketika menutupi kerasnya nasi (semi) aking dengan cara memasaknya dengan api besar, dipadu minyak dan tajamnya aroma bumbu bawang merah-putih, serta cabe rawit. Tak lupa segenggam garam dan vetsin[8] diurapkan. Maka uap nasi gorengnya benar-benar membuat perut dan saliva kehilangan keteguhan, jatuh cinta pada bujuk rayu si nasi goreng.

***

Sebenarnya ada satu lagi kecerdasan yang secara (tak) sengaja ketemu saat kami sering menyimpan nasi goreng Sapto sebagai pengganjal perut kala begadang. Nah, ketika malam tlah larut, dan warung yang tersisa cuma burjo kuningan dan indomie rebus, maka nasi goreng Sapto adalah satu kenikmatan tersendiri, hemat dan…

Orisinalitas idenya di bidang kuliner masih membuatku terkagum-kagum (atau mungkin prihatin?:) hingga saat ini. Sapto menemukan masakan nasi goreng yang dapat difungsigandakan oleh anak-anak kost sebagai lauk makan malam. Bayangkan saja, betapa nasi goreng si chef itu kala dingin berubah menjadi nasi semi aking yang diaduk dengan garam, bawang, vetsin, dan cabe tumbuk, lalu disiram minyak goreng. Maka yang kaurasakan saat memakannya adalah keras, asin, pedas, sekaligus gurih. Serta muncul siklus sensasi lengket serta panas di sekitar mulut dan pangkal lidah, yang sensasinya akan hilang saat kita mengunyah dan menelan; kemudian sensasinya muncul lagi; lantas hilang lagi dengan meneruskan kunyah dan makan; demikian terus menerus sampai sebungkus nasi itu tandas. Dan besok, di antara antrian warung chef Sapto, kausadari dirimu ada lagi di sana.. Selain karena efek asin, gurih, pedas, dan berminyak, tidak usah ragu untuk mengakui bahwa keberadaanmu dalam antrian adalah karena dompet sudah beberapa hari tersimpan tenang dalam lemari tanpa terusik, dan hanya buku catatan[9] Sapto yang mampu menghidupimu.

***

Pameo jeruk makan jeruk, homo homini lupus, fren makan fren, berlaku juga di dunia pernasian. Nasi goreng Sapto adalah contoh cocok betapa nasi pun telah makan sesama nasi. Maksudnya adalah mengenai peruntukan dan kodrat nasi. Struktur dan strata di piring makan menganut pola piramida, yaitu golongan elit menempati puncak piramida, sementara berjenjang di bawahnya, dengan jumlah yang makin massif, adalah golongan yang stratanya lebih rendah. Seharusnya, dalam sebuah tata sosial piring makan, nasi goreng akan menjadi strata terendah dengan jumlah paling massif namun dengan nilai gizi dan kenikmatan paling kecil. Strata atasnya adalah krupuk yang jumlahnya mampu menutup hampir setengah luasan piring. Dan strata elitnya adalah telur dadar yang tentu ukurannya jauh lebih kecil, namun tertinggi gizi dan kenikmatannya.

***

Namun, Sapto sang genuine chef mampu memporakporandakan tatanan strata yang telah bertahan ribuan tahun itu. Ya, Sapto menemukan nasi goreng yang dapat dijadikan lauk bagi nasi putih.

Dalam keseharian, daily practice, secara kreatif sebagian dari kami terbiasa menanak nasi sendiri agar sedikit menghemat pengeluaran. Sayur atau lauk bolehlah beli dari berbagai warung di sepanjang jalan kampung Sendowo yang ujung buntunya berhenti di garasi ambulans Sardjito[10]. Dan ketika bulan makin menua, periuk nasi masih mengepul namun kunjungan ke warung makan adalah kegiatan pertama yang harus dikurangi, besar-besaran. Maka, nasi goreng Sapto, yang tentu karena rasa bumbunya yang sangat ekstrem, cocok dijadikan lauk gurih-pedes teman nasi putih. Heri, si kandidat dokter nan eksentrik kolegaku, biasanya, dengan datar akan bilang menu baru ini sebagai selingan, alias sekali-sekali saja. Tapi celakanya, yang selingan itu kok yo semakin tua bulannya, semakin sering kami seling-kan dalam menu harian, weleh..:)

***

Namanya bukan Sapto, tapi kami memanggilnya Sapto.

Kami tidak yakin apakah nasib kami akan sama, wallahu a’lam, jika Sapto tidak memilih profesi berjualan nasi goreng. Entah bagaimana pula jika garam, vetsin, cabe, dan minyak tidak meracuni pikiran Sapto, sehingga tentu tak lahir pula pikiran-pikiran genuine yang dapat membantu para mahasiswa duta manca menyambung hidup demi mengasah kegeniusan masing-masing.

***

Hampir satu dekade setelah hari-hari bersama Sapto, tetap segar di ingatan betapa panas-pengap dan ributnya kala makan pun kala antri di warung si chef wonogiri berlengan kekar itu. Raungan bungsunya keras seperti guruh, selalu merajuk, bergulung di lantai melempar apa saja yang terpegang oleh tangannya. Teriakan istrinya dalam usaha meningkahi raungan si bungsu. Gurauan para pengantri, yang konon para pelajar intelek, namun lebih sering bertindak sebagai kompor bagi perseteruan ibu-anak, alih-alih menengahinya.

Lalu terkeras, gelegar suara Sapto yang setengah marah menyuruh sulungnya menyiapkan es teh atau jeruk, sementara si sulung selalu berusaha diam-diam kabur, menikmati kemerdekaan masa remajanya. Ah ya, si sulung bengal yang selalu berusaha bebas, dialah sebenarnya si empunya nama Sapto, nama yang kemudian hari kami nisbahkan kepada bapaknya, si genuine chef.

[jakarta22maret2012]


[1] Untuk para kolega di Sendowo E-103, Yogyakarta, dan sekitarnya pada tahun-tahun sekitar Y2K (year of 2000). Dalam cerita ini, banyak hal sesuai fakta, namun banyak hal pula yang fiktif.

[2] Ledhok (Jw) = lembah.

[3] Jangan dibaca sebagai “kod” dengan ejaan english, baca dengan huruf c seperti mengeja cuplis.

[4] Pada mulanya daerah yang sekarang menjadi kampung Sendowo, terutama kampung Blimbingsari, adalah areal pekuburan luas yang menempati tanah Sultan ground dengan sistem sewa selama puluhan tahun. Lambat laun, banyaknya pendatang di Jogja mulai berekspansi masuk kawasan pekuburan, membangun rumah, bertempat tinggal, dan beranak-pinak di sana, sampai sekarang.

[5] Kompleks bangunan pertokoan elektronik di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta, yang bagian belakang pertokoan menjadi tempat hidup dan berkembangnya industri cakram padat film bajakan.

[6] Nama lain untuk kompleks UGM yang terletak di kampung Bulaksumur. Nama Kampus Biru melekat dengan UGM karena trilogi novel Ashadi Siregar sekitar tahun 1970-an ber-setting UGM, dan salah satunya diberi judul “Cintaku di Kampus Biru”, yang pernah difilmkan pada sekitar 1976 dengan bintang Roy Marten dan Yati Octavia.

[7] Masjid Al Mustaqiem, Sendowo E-103, Sinduadi, Mlati, Sleman, DIY.

[8] Istilah pendek untuk menyebut bumbu penyedap berbahan mono sodium glutamate atau disingkat MSG. Senyawa bumbu yang menimbulkan chinesse food syndrome, yaitu rasa tidak nyaman pada pangkal lidah dan tenggorokan, dan pada dosis tertentu menyebabkan pening serta mual. Efeknya adiktif alias nagih, sehingga biarpun terasa pahit di mulut, tetap saja kita suka mengkonsumsinya.

[9] Idealnya frasa “buku catatan” ini merujuk pada buku ekspedisi panjang yang berisi catatan rapi dalam kolom-kolom. Namun bagi Sapto, buku catatan itu tak harus berbentuk dan berformat khusus, kadang sisa-sisa halaman kosong buku sekolah anaknya pun jadi. Catatannya hanya berisi nama-nama dan empat digit nominal angka di sebelah kanannya. Ya ya ya.. gampangnya, sebut saja itu buku utang, hehe..

[10] Sardjito adalah nama Rektor UGM periode awal, yang diabadikan sebagai nama rumah sakit umum daerah sekaligus rumah sakit pendidikan yang diampu Fakultas Kedokteran UGM.

Single Post Navigation

2 thoughts on “The Sapto (alias: Nasi Goreng Sapto)

  1. membaca artikel ini membuat pikiran saya melayang ke masa lalu..
    saya termasuk penikmat nasi goreng ini..

  2. salam kenal. selamat mengingat dan mengenang. silakan mampir di link FB berikut ini, tulisan yang sama tetapi mengundang beberapa alumnus sendowo; mungkin ada yang tahu/kenal. http://www.facebook.com/#!/notes/mardian-wibowo/the-sapto/328640497185027

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: