selaksa makna

seperti kata-kata, hidup memiliki ribuan makna di baliknya..

Kaku

Kaku

Masih menumpang gerbong yang sama, dengan wajah-wajah sesama yang sama pula. Dua-tiga ibu hampir paruh baya yang selalu -tak pernah tidak- mengeluhkan buruknya manajemen kereta serta membincang berita terbaru selebritis, dari smartphone mereka atau curi-curi pandang koran sebelah. Sementara yang lain duduk terkantuk, menyumbat telinga dengan earphone, tak ingat benar sudah berapa ratus kali lagu yang sama didengarnya. Sisanya asik memainkan gadget-nya, atau sekadar melamunkan entah.

Semuanya nampak sama, kereta hari ini dan yang kemarin. Membincang kesamaannya dari hari ke hari, seperti halnya mengingat detil tarikan nafasmu. Bisa diingat, tetapi kita selalu menganggapnya tidak perlu, lalu melupakannya.

Kadang, menjalani segala sesuatu tanpa harus merasa ingin tahu segala sesuatunya, adalah hal yang menarik. Menetapkan satu tujuan, lalu menggelinding meraihnya. Satu tujuan. Dan itu membuat kita merasa ringan serta bebas.

Seperti kereta yang (di)tetapkan tujuannya, dari bekasi ke stasiun kota. Lempeng. Biarpun ada cabang jalan, pertigaan, perempatan, perlimaan, lajunya lurus. Selalu.

Untuk pilihan menjadi seperti kereta, kita dengan bangga menyebutnya teguh, gigih, pun ulet.

Sampai suatu ketika, jendela kereta, di sekitaran jatinegara, menghadirkan pemandangan anak-anak yang bermain-main dengan anjing kesayangannya. Sebenarnya kesayangan mereka atau bukan aku tak cukup tahu. Tapi sementara ini anggaplah saja demikian.

Sebuah bilah kecil bambu dengan makanan digantungkan di salah satu ujungnya, diikat pada punggung anjing sedemikian, hingga gantungan makanan itu berada sejengkal di depan si anjing. Begitu dilepaskan, si anjing mengendus, menatap girang, lalu bergerak maju meraih makanannya.

Hap, selangkah dia maju, selangkah pula makanan menjauhinya. Hupp, selompat ke depan, selompat pula makanan itu menjauhinya. Keinginan dan rasa penasaran yang memuncak mendorongnya berlari meraih makanan, dan secepat itu pula makanan berlari menjauhinya.

Dengan segera permainan itu menjadi mengasikkan bagi kelompok anak-anak kecil di antara lajur-lajur rel kereta. Mereka melihat anjing yang sehat, lincah, bergerak kesana-kemari, melompat ke depan, belok ke kiri, berguling ke kanan, mengendap, berputar dua kaki, menggeram, mengibas, berjingkat, dan makanan itu selalu saja sejengkal di depannya.

Kuyakin anjing itu menikmatinya, sebagai sebuah perjuangan; kegigihan yang mengagumkan; maupun sebuah tekad yang patut diteladani. Begitu pula dengan kita bukan?

Kukira semua orang yang setiap pagi bersamaku di dalam gerbong ini memiliki tujuan. Mengapa harus berangkat pagi, bergelantungan dan berdesakan di kereta, lalu pulang selepas mentari senja terbenam, jika tidak memiliki sebuah tujuan? Dan tentu dua belas jam lebih meninggalkan rumah, dalam sehari, harus dimaknai sebagai sebuah perjuangan; kegigihan yang mengagumkan; maupun sebuah tekad yang patut diteladani.

Sampai suatu ketika, manakala anjing itu habis nafas dan kosong tenaga, dia akan terduduk, menjulurkan lidah, bulu-bulu badannya bergetar-getar, menatap nanar makanan sejengkal di depannya, lalu menaruh kepalanya bertumpu kedua kaki depan. Gentar.

Dia menghabiskan segala upaya, namun tidak mendapatkan tujuannya.

Dia anjing. Cukup sulit baginya menyadari bahwa dalam setiap langkah dan lompatannya, dia memiliki kebebasan. Kebebasan untuk menentukan, apakah akan melompat mengejar makanan tergantung di depannya, atau cuekin gantungan itu, lantas mengeduk tanah di samping sembari berharap menemukan makanan lain. Anjing itu tentu juga tak cukup pintar untuk memahami konsep permainan kejar makanan. Konsep manipulasi hasrat yang menjadikannya seolah-olah sebagai perjuangan, kegigihan, dan tekad yang keras.

“One-dimensional man”.

Meminjam kata-kata mbah markus[1], itulah sebutanku untuk si anjing. Atau lebih tepatnya kusebut dia one-dimensional dog, yaitu anjing yang tidak pernah berusaha untuk memiliki pilihan dan alternatif lain dalam singkatnya hidup.

Sepertinya akan sulit menemukan anjing kota yang memiliki beragam dimensi dalam hidupnya. Namun apakah sesulit itu juga menemukan manusia (kota!) yang memiliki keragaman dimensi? Alternatif pilihan kita sebanyak pilihan si anjing. Kebebasan kita juga sebebas kebebasan si anjing. Perbedaannya hanyalah, dalam hal permainan kejar makanan, si anjing tidak mampu memahami sementara kita memang tidak mau memahami.

Entahlah.

Memikirkan hal itu sekarang, adalah sebuah langkah mundur, set back. Tetapi daripada tidak sama sekali, tentu lebih baik terlambat..

Dari jendela kereta, stasiun gambir sudah terlihat, dan permainan anjing kejar makanan telah lewat sejak lima belas menit yang lalu. Aku meraih tas dari para-para gerbong kereta, berusaha melangkah ke pintu, lalu memandang tanpa sengaja pantulan bayangku di buramnya kaca jendela. Desis rem kereta terdengar samar. Ada wajahku di kaca jendela. Tepat di tempat si anjing tadi mempertontonkan kegigihannya..

“To be (dog), or not to be, that is the question.”[2]

 [limaaprilduaribuduabelas-medanmerdekabarat]


[1] Nemu istilah itu dari sini. Herbert Marcuse, 1964, One-dimensional Man: studies in ideology of advanced industrial society.

[2] Dikutip sekenanya dari William Shakespeare, 1605 (?), Hamlet.

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: