selaksa makna

seperti kata-kata, hidup memiliki ribuan makna di baliknya..

Anak dan Muasal Kekerasan

Anak dan Muasal Kekerasan

Kabar kekerasan oleh anak-anak dan remaja terus bermunculan, dan membuat kita pilu. Siswa sekolah dasar berinisial A di Depok, Jawa Barat, menusuk temannya karena ketahuan mengambil ponsel korban tanpa ijin; belum genap sebulan sebelumnya sekelompok remaja perempuan di Bali terpergok menganiaya dan menelanjangi temannya sendiri.
Lebih massal, Komnas Perlindungan Anak merilis data tawuran antarpelajar di Jabodetabek selama 2011 yang terjadi sebanyak 339 kali dengan korban tewas 82 orang. Meningkat lebih dari dua kali lipat dibanding jumlah tawuran tahun 2010 sebanyak 128 kasus. Dengan jumlah korban sebanyak itu, tentu saja dapat dipastikan adanya penggunaan senjata oleh anak-anak dan remaja. Lalu masyarakat berteriak, media memberitakan berhari-hari, berbagai analisis disusun, aparat negara bekerja, namun kekerasan demi kekerasan oleh anak tetap terjadi dan berulang.
Melelahkan bagi anak, karena orang tua dan sekolah, dua otoritas sosial utama tempat anak bernaung, akhirnya hanya dapat memberikan rumusan-rumusan daftar “what to do” demi menghindarkan anak-anak dari perilaku kekerasan. Sekolah dan orang tua giat menyusun berbagai ekstrakurikuler yang bertujuan untuk “memastikan” bahwa anak-anak tidak akan punya cukup waktu untuk terlibat dalam kekerasan, dan memastikan mereka selalu berada di bawah pengawasan.
Ya, anak-anak dari sekolah ternama yang berbiaya mahal, memang memiliki tingkat keterawasan yang lebih tinggi dibanding anak-anak dari sekolah yang biasa-biasa saja. Namun apakah terbukti hasil akhirnya, dalam menghindarkan kekerasan oleh anak, memiliki perbedaan? Program-program antarsekolah, seperti kompetisi olah raga, perkemahan, kunjungan, hingga pertukaran pelajar, mungkin dapat menenteramkan anak-anak sekolah untuk tidak saling memusuhi anak-anak dari sekolah-sekolah sekitarnya. Tetapi yang kadang luput dari pengamatan adalah, muasal kekerasan itu sendiri bukan dari interaksi antarsekolah.
Keberadaan sekolah-sekolah yang berdekatan, bahkan berhimpit di satu lokasi, bukanlah conditio sine qua non bagi terjadinya kekerasan. Kasus kekerasan oleh A dan kebanyakan kasus bullying menunjukkan secara tepat betapa kekerasan jamak juga terjadi di internal sekolah, bukan dengan tetangganya. Oleh karenanya, mengawasi seketat apapun, atau membangun pagar setinggi apapun, tidak akan ada gunanya jika dalam diri anak-anak telah hadir insting (hasrat akan) kekerasan.

Ruang keluarga muasal kekerasan
Ketika jam sekolah berakhir dan anak-anak kembali kepada keluarga dan rumahnya masing-masing, secara normatif orang tua kembali memegang tanggung jawab penuh atas pendidikan anak. Sebagian besar orang berpendapat, masalah tidak akan pernah muncul dari anak yang beraktivitas di dalam rumah. Pendapat yang menilai kekerasan anak hanya sebagai fenomena “ruang publik” belaka, membuat pemahaman akan muasal kekerasan tidak pernah menyentuh akar sesungguhnya.
Ada kalanya anak keluar rumah dan memasuki ruang-ruang interaksi sosial tidak dengan kondisi nirkekerasan. Meskipun belum teraktualisasikan menjadi kekerasan fisik, hasrat kekerasan dan “manual book” bagaimana melakukan kekerasan telah didapat anak dari dalam rumahnya sendiri. Hasrat dan pengetahuan bagaimana melakukan kekerasan ini menjadi mesiu yang siap meledak dengan pemantik dari interaksi-interaksi sosial di ruang keseharian.
Mari melongok ruang keluarga rumah kita masing-masing. Sepulang sekolah anak-anak dilarang bermain keluar rumah dengan alasan keamanan. Kompensasinya, tanpa didampingi orang tua, anak-anak diberi perangkat hiburan agar mereka betah di rumah. Maka anak-anak yang berpikiran polos dan sederhana sibuk memainkan console, laptop, personal computer, dan banyak gadget permainan lainnya, berjam-jam, setiap hari.
Permainan-permainan tersebut membuat anak betah di rumah, dan para orang tua merasa aman karena anaknya tidak berkeliaran di jalanan. Namun bahaya justru baru saja hadir melalui bermacam game yang mereka mainkan. Apakah para orang tua sadar bahwa game yang dimainkan anak-anaknya sebagian besar adalah game sarat kekerasan, yang terbungkus apik sebagai game anak-anak dan remaja. Digimon, Smack Down, Grand Theft Auto, Resident Evil, Call of Duty, Monster Hunter, Transformer, X-men, dan Street Fighter, hanyalah sebagian dari ratusan game kekerasan yang dimainkan setiap hari oleh anak-anak kita di ruang keluarga, sebagai sebuah hiburan. Selingannya adalah televisi, dengan tayangannya yang paling “mendidik” adalah sinetron dan film yang didominasi kata-kata kasar dan, lagi-lagi, kekerasan.
Tidak ada hal lain yang diajarkan oleh ragam game tersebut selain cara efektif (dan brutal) melumpuhkan lawan pada titik-titik vital (mematikan). Pengetahuan dan kemampuan menemukan titik-titik vital manusia menjadi hal yang sangat berbahaya saat anak mengalami konflik fisik dengan teman sebayanya. Hal tersebut menjawab pertanyaan, darimana anak-anak mendapatkan “manual book” untuk melakukan penganiayaan, bahkan pembunuhan. Maka jumlah korban dalam statistik yang dirilis Komnas Perlindungan Anak di muka-lah yang akan muncul kembali.

Melangkah untuk mengubah
Lalu bagaimana orang tua dan masyarakat harus bersikap jika aparat yang berwenang belum menemukan pola penyelesaian yang tepat. Bahkan, sentra industri cakram padat game maupun film porno seperti Glodok, Jakarta, yang jaraknya tak lebih dua kilometer dari Istana Negara, masih juga dibiarkan beroperasi. Lembaga Sensor Film dan Komisi Penyiaran Indonesia juga terlihat tidak banyak berkutik menghadapi serbuan tayangan-tayangan kekerasan dan pornografi. Apalagi terhadap game elektronik, jangankan diawasi, bahkan pengawasnya pun tidak pernah digagas, apalagi ada.
Tanpa berharap banyak pada pihak lain, orang tua harus memulai dari keluarganya masing-masing. Kuncinya adalah menjadi lebih peduli, dan mengakui kesalahan bahwa perilaku agresif anak antara lain diakibatkan sikap para orang tua yang terlalu permisif terhadap game dan tontonan anak-anak. Sekarang juga para orang tua dan masyarakat harus meluangkan waktu untuk menyeleksi dan mendampingi anak dalam memilih game dan tontonan; bahkan harus mulai mengurangi frekuensi game dan tontonan. Efeknya tentu tidak instan, tetapi ini cara yang paling mungkin untuk mengembalikan anak-anak dan remaja kepada perilaku normalnya.
Menyuarakan aksi individu para orang tua adalah langkah lanjutan yang dapat dilakukan melalui interaksi keseharian maupun dengan bantuan jejaring sosial. Harapannya, gerakan individu ini akan menjadi sebuah gerakan (dan kesadaran) komunal untuk mendepak game dan tontonan kekerasan serta pornografi dari ruang keluarga. (Mardian Wibowo, working parent, asisten hakim pada Mahkamah Konstitusi)

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: