selaksa makna

seperti kata-kata, hidup memiliki ribuan makna di baliknya..

Masa Depan dan Segelas Kopi (3): Etos

Masa Depan dan Segelas Kopi (3): Etos

Masih tentang kopi, dan cerita-cerita yang dia bisikkan kepada kita.

Dalam modernitas yang tergesa dan lintang pukang, filantropi menjadi banal, bahkan mengandung cemooh. Etos pun dipertanyakan, bahkan ditertawakan. Lalu oportunis yang pragmatis?, fuuu.. kukira kredo kita sedang mengarah ke sana.

Gambir, 07:12 WIB.
Aku terbiasa naik gerbong 3, karena saat berhenti di Gambir, dia berada persis di sebelah tangga peron. Segera ketergegasan yang sama menyambut, menyeretku berlari-lari kecil di setiap undaknya, mengimbangi langkah-langkah cepat para kolega.
Ketergesaan yang ringan, namun monoton. Kami semua sama, bukan zombie memang, tapi lebih mirip bionic dengan program yang senada dan konstan: berangkat-kerja-pulang. Yang membedakan kami hari ini dengan kami yang kemarin tak substansial, hanya merek baju saja. Savero pink berganti zara marun; qirani bergaris berganti nevada berenda; levi’s dongker berganti lea tosca; arrow coklat berganti watchout abu. Kaos joger berganti C59. Alisan dan hidayah juga ada, berganti-ganti warna.
Atau tipe sepertiku, alisan putih setiap hari dengan perbedaan pada letak noda coklatnya saja, kadang di lengan, kadang di punggung.

Ketergegasan yang sama, jumlah undakan tangga yang sama, pintu keluar samping loket yang sama, dunkin donuts yang sama, serta lambaian para ojek yang juga sama di sepanjang selasar Gambir.

Nun, di ujung sana, setelah keluasan lapang parkir yang diselimuti mendung, si emak menyeduh kopinya. Aku berharap itu bukan pembelinya yang pertama, meskipun kukira harapanku terlalu berlebihan..

Max baren’s, sepatuku, menapak paving stone lapang parkir, berhenti selangkah di depan si emak. “Kopi susunya ada, mak?”
“Ada,” sambil dipilahnya beberapa sachet kopi beraneka jenis, mulai yang hitam murni, special mix, mocca, dan beberapa lainnya.
Berjongkok, satu dipilih, yang bertuliskan kopi susu. Lalu tangkas diambilnya gunting. “Mau sambil dibawa jalan ya?,” sambil dituangkannya isi sachet ke dalam gelas plastik. Mungkin emak ingat kopi darinya kemarin kubawa jalan.
“Iya mak, buat penghangat sambil jalan.”
Sepertiga air panas sudah tertuang, kemudian sendok teh bergagang panjang diambilnya dari wadah yang lain. Adukannya terhenti pada beberapa putaran, bahkan bubuk kopinya belum sempurna tercampur. Menatapku, lebih tepatnya menatap tanganku. “Yang pas saja, mas. Dua ribu. Emak gak ada kembaliannya.”
Rupanya emak melihat lembar puluhan ribu yang kutarik dari kantong M.Gee . Lembaran bergambar Mahmud Badaruddin II itu memang satu-satunya yang tertinggal di kantongku.
“Gak ada, Mak.” Reflek kujawab demikian, meskipun sebenarnya dalam lipatan tas punggungku, beberapa lembar duaribuan selalu tersedia.
Kuingin mendesakkan suatu situasi pada transaksi kopi kami, yang kadang-kadang secara manipulatif dipaksakan oleh penjual kepada pembeli, yakni tidak adanya kembalian sehingga pembeli terpaksa membeli lebih banyak dari yang semula diinginkannya. Manipulasi ini bukan oleh si emak penjual, tapi olehku, si pembeli, dengan harapan berhasil kupaksakan solusi bahwa sisa uangnya tidak perlu dikembalikan. Pagi ini, nilai guna uang delapan ribu rupiah itu akan kutransfer tanpa syarat kepada emak kopi. Kukira ini sebuah etos, bersedekah tanpa harus si penerima melihatnya sebagai sebuah sedekah.
Waktu pernah mengajariku, bahwa sedekah yang terformulasikan dengan kata-kata lugas, maupun sedekah yang terinstitusionalisasikan secara ajeg periodik, kadang kontraproduktif dan membuat para penerimanya semakin miskin; miskin harta dan miskin harga diri.
Dengan IQ yang tingginya tak terlalu jauh dari rata-rata, dengan tingkat kesalehan yang untuk dikatakan cukup pun aku masih ragu, secara kilat kuskenariokan sebuah sedekah insidental. Dengan berpura-pura tidak punya pecahan kecil.

“Gak ada, Mak.” Sekali lagi kuucapkan kepada si emak yang masih memandangku, mungkin berharap aku merogoh kantong dan menemukan nominal yang tepat untuknya. “Gak usah kembali, Mak. Sisanya dibawa emak saja.”
“Jangan, ini harganya cuma dua ribu.”
“Ya gak apa-apa. Bawa saja.”
“Enggak, gak boleh begitu.” Sambil diangsurkannya padaku kopi dalam gelas yang belum diaduk rata, berikut sendoknya, bergagang panjang kehitaman.
“Sudahlah Mak, kalo memang gak ada, kembaliannya besok saja.” Kuturunkan tawaran. “Besok saya mampir ngopi lagi”.
“Tidak bisa begitu, pak, mas. Emak ini dagang, gak baik seperti itu. Tunggu sebentar ya..,” sambil pergi bergegas-gegas menuju pilar beton agak diujung sana.

Aku mengaduk kopi dalam gelas yang ditinggalkanya di tanganku.
Bubuk hitam timbul tenggelam dalam air kecoklatan, dihempas sendok teh, dia berputar, terpilin, berpilin..

Mendatangiku, si emak mengacungkan delapan ribu rupiah di tangannya. “Makasih ya pak, mas.”
“Makasih kembali, Mak.” Kuterima uang itu, memberikan sendok pengaduk padanya, lalu melangkah menuju gerbang Gambir.

Jakarta masih pagi.
Gambir masih pagi.
Monas masih pagi.

Aku tak tahu harus memulai lamunanku darimana. Mungkin masalah etos, atau keteguhan batin, atau keyakinan pada yang maha transenden. Atau mungkin nanti di kerindangan bintaro kutemukan lamunan lain.

Pusaran dalam gelasku belum juga berhenti, hanya melambat. Bubuk hitam yang timbul tenggelam dalam air kecoklatan, berputar, terpilin, berpilin. Terlihat absurd tak beraturan menemani langkah-langkahku sepanjang gambir-monas, sementara jalanan semakin ramai, dan joki-joki three in one mulai bertebaran mengacungkan jarinya, satu atau dua.
Di balik hijau terali pagar monas, pada lintasan jogging yang batu-batunya mulai berlumut, seorang memandangiku, dia kotor, lusuh, bertelanjang kaki, “untuk makan pak..,” sambil mengusap perutnya.

–jum’atenambelasmaretsepanjangmonasdiantarapokokpokokbintaro–

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: