selaksa makna

seperti kata-kata, hidup memiliki ribuan makna di baliknya..

Masa Depan dan Segelas Kopi (2)

Masa Depan dan Segelas Kopi

Bemula dari Gambir, sebuah tempat yang menyenangkan untuk memulai cerita..

Kereta pada jam yang seperti biasa, sekitar 7 pagi, merapat ke stasiun Gambir. Turunan tangga yang sama, langkah-langkah yang sama, kolega-kolega sesama pengguna kereta yang sama, dan menangkap sosok emak[1] penjual kopi yang sama. Kopi dalam segelas plastik, dengan air panas cukup dua pertiganya, segera berpindah tangan. Dua ribu rupiah. Transaksi cepat, kukira tidak kalah dengan layanan drive thru atau drive through..

Yang kupilih berbeda, kopi panas itu tidak kunikmati sambil duduk-duduk menyelonjorkan kaki di beton pembatas parkiran samping emak kopi. Aku memilih cara kedua, menikmati kopi panas sembari berjalan melintas monas menuju kantorku di sisi sebelah barat.

Monas berangin, semburat meniup uap kopi, kadang mampir ke hidung, kadang menerabas kerindangan pepohonan entah kemana. Sebagai aroma, sah-sah saja dia hendak pergi kemana. Tak perlu dituliskan klausula dalam bungkus kopinya bahwa kehilangan aroma kopi karena tiupan angin adalah bagian tak terpisahkan dari akad jual beli..

Monas sudah terlewat, security di halaman kantor tersenyum menyapa ramah, “ngantuk ya, Pak?”

“Hehe..,” aku tertawa kecil, mengangguk, dan melambai, sementara sebelah tangan, dengan tiga jari, memegang bibir gelas kopi, ringan namun erat.

Lift membuka, mempersilakanku masuk, bersama reriungan yang sudah menyambut di dalamnya.

“Kopi ya mas?,” suara ramah menyapaku. Ternyata si Mai. Rupanya aroma kopi, lembut dan pelan, mulai memenuhi lift dan menyapa kami semua yang berdesakan merapat di dalamnya. Bercampur dengan kesegaran aroma sabun mandi, shampoo, cologne, pengharum baju, dan bau jeruk yang khas dari pengharum ruangan.

“Beli dimana, kok gelasnya seperti itu?”

“Di Gambir, tadi sekalian jalan.”

“Kok?”

“Maksudnya?”

“Kok beli di stasiun?”

“Ya gak apa-apa. Pingin minum kopi aja.”

“Trus?”

“He?, ya gak ada terusnya. Terus ya begini ini..,” jawabku sambil mengangkat gelas kopi sedikit lebih tinggi.

“Trus dibawa jalan gitu?”

“Ya iyalah Mai. Gak keren ya jalan-jalan bawa gelas plastik?,” tanyaku balik padanya. Aku merasa itu pertanyaan yang tidak perlu dijawab. Si Mai pun cuma tersenyum, menghadirkan dekik[2] di pipinya, tentu sambil menggeleng kuat-kuat dan buru-buru berkata tidak. Namun, selain si Mai, tentu akan banyak yang mengatakan sebaliknya. Kira-kira mereka akan bilang membawa kopi seduh dua ribu rupiah di gelas plastik tak bisa dibilang keren. Ada banyak yang lebih keren, gelas semi stirofoam hijau ala café s****uck, tumbler merah ***cafe, atau mug milik salah satu gerai jajanan donat.

Harus diakui gelas plastik memang bukan bandingan gelas, mug, dan tumbler keluaran café-café yang gerainya keren, adem, bersih, dan segar. Tapi kukira bukan itu masalahnya. Ini soal ideologi kopi. Menurutku, kopi dan semua komoditas, seharusnya memiliki kemampuan memberdayakan. Dan kopi tidak dapat melakukan pemberdayaan oleh dirinya sendiri. Para peminum lah yang menjadi kepanjangan tangan bagi kopi untuk melaksanakan tugas mulianya.

Kukira sudah waktunya kita mengalihkan diri dari café-café dan gerai-gerai waralaba yang telah menangguk untung besar dari berjualan kopi. Dan berganti membeli dari mamang-mamang pendorong gerobak minuman, ujang-ujang pembawa kopi sepeda, atau kalau di Gambir, tentu pada emak penjual kopi itu, maupun pada para koleganya yang setia mengais rejeki di keteduhan kolong jalur kereta.

Lamunanku terputus ketika untuk kesekian kalinya lift berhenti, dan Joel, si security berkumis a la Antonio Banderas di film Zorro, mengingatkanku, “lantai tujuh, Pak.”

Pintu lift membuka, aku menengok pada si Mai dan para kolega yang tersisa, melindungi gelas kopi dari desakan, sambil menyapa, “Mari semuanya..”.

Dingin air conditioner lantai tujuh menghembus. Hanya sebentar saja dia tertahan oleh jaket dan topi, sebelum menyentuh tengkuk. Brrr…, namun dingin adalah sebuah ironi, kehadirannya justru membuat segelas kopi di tanganku jadi lebih hangat.

Di muka pintu mbak Ina menyapa, “Wah, sudah sempat ngopi..”. Sapa si mbak membuka lagi lamunanku. Seandainya dua ratus saja dari ribuan penumpang yang setiap harinya masuk dan keluar Gambir, membeli kopi emak, maka secara ceteris paribus,[3] dalam sebulan isi kotak kayunya akan bertambah ragam barang dagangan; dalam beberapa bulan berikutnya dia akan bisa memiliki gerobak kecil yang lebih mobile; dan dalam setahun terhitung sejak hari ini besar kemungkinan emak akan memiliki sebuah kedai kopi kecil di deretan kantin Gambir. Lalu kopi akan membuatnya menjadi emak yang hidup berkecukupan..

“Heh, malah ngelamun..,” si mbak mengagetkanku. “Hehe, iya mbak..,” sambil melintas kujawab sekenanya, “Lagi mbayangin ideologi kopi..”

–pagidiharikelimabelasbulanmaretantaragambirmonaskantor–


[1] Pada tulisan terdahulu (Masa Depan dan Segelas Kopi) dia kusebut nenek. Tapi sepertinya lebih nyaman kalau dia kusebut emak. Orangnya masih sama.

[2] Dekik = lesung pipit.

[3] Dalam ilmu ekonomi, lebih kurang, ceteris paribus adalah istilah kondisi yang diasumsikan sewajarnya, atau all other things being equal. Dalam cerita kopi ini ceteris paribus merujuk pada faktor emak yang hemat, tidak ada operasi tramtib, tidak ada jatah preman setempat, serta tidak ada sakit yang harus diobati segera.

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: