selaksa makna

seperti kata-kata, hidup memiliki ribuan makna di baliknya..

Masa Depan dan Segelas Kopi

Masa Depan dan Segelas Kopi

Kereta tidak terlambat, lima belas menit sebelum pukul delapan, sudah sampe Gambir[1].

Gerbong yang berbeda, namun lintasan yang sama, tangga turun yang sama, ketergegasan yang sama, dan kerumunan ojek yang sama..

Sedikit di ujung stasiun, di sudut bawah pilar beton penyangga lintasan kereta, seorang perempuan tua yang sepantasnya disebut nenek, mengusap rambut putihnya ke belakang, persis saat aku membuka topi yang menguarkan aroma gatsby dari rambut tersisir rapi.

Hari masih bisa dibilang pagi, meskipun sudah tidak lagi dingin.

Jaketku, MGee, dapat di obralan Robinson seratus dua puluh lima ribu rupiah, minta dilepas karena gerah merambati punggung. Sementara, di ujung sana, nenek itu dengan sia-sia mencoba merapikan jaketnya, yang kusut dan warnanya tak lagi enak dilihat. Dia masih merasa dingin, kutahu itu dari bebatan syal di lehernya. Bukan syal, tepatnya selendang batik, yang bagi penyuka batik sepertiku kuyakin dulunya selendang itu sangat cantik, mungkin dari Tanah Abang[2], atau dapat dari anaknya, entahlah..

Tangannya mengaduk. Tangan yang renta tapi masih cukup kuat mengaduk kopi mengepul dalam dua gelas plastik, yang diletakkannya di tumpukan batako bersisian dengan kotak terbuka obat batuk bronchitis, berwarna hijau.

Sepertinya itu obatnya, mengingat tergeletak di dekat sendok dengan sisa-sisa cairan kecoklatan, dan kukira itu sisa obat batuk.

Alas kardus itu hanya muat satu orang, dua sisinya terhalang pilar beton dan kotak kayu yang serba muat apapun barang pribadinya. Tentu kotaknya tak besar karena tak banyak barang-barang pribadinya, sekaligus tempat sachet-sachet kopi tergantung, gula dalam kantong, setumpuk gelas plastik, dan termos yang terbebat erat plastik dan karet, mungkin agar hangatnya tetap kuat.

Diangsurkannya segelas yang mengepul kepada security Gambir, yang kuyakin membelinya dengan melupakan kebersihan, semata kasihan, mengingat tak jauh di lobi Gambir, berderet warung makan dengan beragam pilihan kopi, harga bersaing, tempat bersih, dan waiter yang ramah nan wangi.

Kopi hitam seduh, Kapal Api, kuingat slogannya di tivi “secangkir semangat”, seharga dua ribu rupiah. Kuhirup aromanya, wangi, dan seruputan pertama menghantarkan hangatnya melintas lidah mengalir ke lambung. Aku punya maag, sebentar lagi pasti nyerinya akan menusuk ulu hati, karena kopi. Tapi percayalah, nyeri ulu hati karena kopi pahit dalam gelas plastik, tidak ada apa-apanya dibanding nyeri ulu hati membayar pajak bulanan dan segala retribusi, sementara kita tahu orang-orang seperti nenek penjual kopi ini tidak pernah ikut merasakan nikmatnya santunan negara.

Seruputan kedua mengalir lega..

Satu dua kenalan lewat menyapa. Bersama ojek mereka melaju, berebut jalan, menembus keramaian menuju gedung-gedung megah yang menawarkan kesejahteraan dan jaminan masa depan.

Masa depan? Selangkah di samping gelas kopiku yang masih mengepulkan panasnya, nenek itu menyimpan masa depannya. Melipatnya dengan penuh kegamangan, atau mungkin sudah tidak lagi dipikirkannya, kemudian menaruhnya sembrono di bawah gantungan sachet-sachet kopi. Apalah bedanya hati-hati dan sembrono, masa depan apa yang bisa dirawat dengan baik di kolong lintasan rel kereta? Masa depannya adalah cangkir-cangkir kopi itu; pada security yang tidak mengusir dari kardus peraduannya saat malam menjelang; dan pada satu dua penumpang yang bersedia menukar kopi panas dengan dua ribu rupiah.

Masa depan itu tak pantas lagi disebut masa depan..

Sementara kita mulai membuka berkas kerja dalam ruangan dingin ber-AC sembari merencanakan dalam hati kegiatan akhir pekan, nenek itu masih setia menunggui kopinya; menarik-narik jaket yang diharapkannya selalu dapat lebih panjang melindungi dari dingin; mengusap rambut putihnya; dan memandangi kotak sirup bronchitis yang entah kapan dapat dibelinya lagi, sebotol saja.

Bahkan, bagi nenek itu, adalah luar biasa absurdnya, berpikir tentang hendak menghabiskan usia, dan meninggal dimana..

Dhuha di sepanjang Gambir, 10 Oktober 2012.


[1] Stasiun Gambir, Jakarta Pusat.

[2] Pasar Tanah Abang.

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: