selaksa makna

seperti kata-kata, hidup memiliki ribuan makna di baliknya..

Peringatan 11/9 dan Kesadaran Kita

Peringatan 11/9 dan Kesadaran Kita

Peringatan sepuluh tahun tragedi 11/9 (11 September 2001), berpusat di Ground Zero, bekas lokasi menara kembar World Trade Center Amerika Serikat, yang diledakkan teroris, diselenggarakan dengan khidmat. Namun, gaung 10 tahun peristiwa itu telah
meledakkan kekerasan di berbagai negara. 11/9 menjadi tonggak terpenting bagi pernyataan perang Barat (Amerika) terhadap musuh yang mereka namakan teroris(me).

Samuel P Huntington (1992) mempublikasikan hipotesis yang terkenal, the Clash of Civilizations, yaitu argumen bahwa pascaperang dingin atau pascakomunisme, Barat akan limbung karena kehilangan musuh. Itu artinya nasionalisme dan perekonomian yang mendukung eksistensi negara, akan ikut goyah. Pascakomunisme, pertentangan bukan lagi antarideologi, sebagaimana sebelumnya antara demokrasi-liberalisme vis a vis komunisme. Pertentangan bergeser menjadi pertentangan antarperadaban (clash of civilizations), yang menurut Huntington didominasi oleh setidaknya sembilan peradaban utama, yaitu Barat, Ortodoks, Islam, Afrika, Amerika Latin, China, Hindu, Budha, dan Jepang. Entah kebetulan atau terprovokasi oleh
Huntington, Barat “meminang” Islam sebagai musuh baru, melalui tragedi 11/9, untuk membangkitkan lagi nasionalisme dan perekonomian negara mereka.

11/9, terlepas dari perdebatan siapa pelakunya, berhasil mendorong munculnya sentimen antiIslam. Kemudian dimulailah petualangan Barat ke Timur Tengah, atas nama demokrasi dan memerangi terorisme, menghancurkan dan menata ulang negara-negara yang sebenarnya memiliki hak untuk mengatur hidupnya sendiri. Seharusnya, pada titik inilah kita berani memberikan penafsiran yang berbeda dari wacana mainstream bentukan Barat tentang peristiwa 11/9.

Bagi Barat, emosi dan kepedihan akibat peristiwa 11/9 disalahgunakan untuk menghidupkan kembali industri nasional dan mencari “tanah jajahan” atau sumber daya alam baru. Sulit diingkari bahwa akhir dari perang-perang di Timur Tengah adalah pembagian konsesi akan sumber daya alam terutama kandungan minyak bumi.

Jika peperangan tersebut semata-mata merupakan pembalasan terhadap teroris, untuk alasan apa negara-negara tertentu harus dihancurkan. Bukankah teroris tidak pernah maujud dalam bentuk negara, apalagi menguasai lahan-lahan besar cadangan
minyak bumi dunia? Apa rasionya tuntutan Barat agar negara dunia melakukan proliferasi senjata pembunuh massal, sementara di sisi lain Barat mengembangkan senjata yang jauh lebih canggih dan mematikan?

Membebaskan Kesadaran

Trauma dan kepedihan akibat peristiwa 11/9 memang tidak dapat dihindari. Namun harus ditanyakan, apakah perlawanan terhadap terorisme harus dilakukan dengan kekerasan, yang bahkan sebagian besar korban perang terhadap terorisme adalah
orang-orang yang tidak tahu-menahu mengenai terorisme.

Teror adalah kekerasan, entah itu mematikan atau “sekadar” menciptakan ketakutan. Tetapi bagaimanapun, peristiwa 11/9 sebagai sebuah teror adalah sebuah hegemoni makna. Tanpa mengurangi kerugian dan kepedihan bagi yang ditinggalkan korban,
peristiwa 11/9 tidak pernah memaksa kita untuk memaknainya sebagaimana makna yang dibentuk Barat selama ini. Adalah kita sendiri yang menerima begitu saja klaim Barat bahwa al Qaeda pelakunya. Jika memang benar, logika mana yang dapat
mengaitkan al Qaeda dengan kebijakan politik Barat terhadap Palestina, Libya, Iraq, Iran, Mesir, Afghanistan, bahkan kebijakan terhadap negara-negara Asia seperti Indonesia yang ikut disibukkan dengan beragam isu terorisme.

Sadar atau tidak, peristiwa 11/9 dijadikan alat bagi Barat untuk mengarahkan dan mengikat kesadaran kita akan setidaknya tiga hal: pertama, negara di luar Barat adalah jahat, yang diungkapkan oleh Presiden Bush mengenai axis evil (2002) yang terdiri dari
Iran, Iraq, dan Korea Utara. Kedua, memerangi negara lain dibenarkan sebagai strategi preemptive mengantisipasi aksi terorisme. Ketiga, pembaratan adalah mutlak terhadap negara-negara non-Barat yang telah dilumpuhkan. Hal ini terlihat pada contoh kasus Afghanistan dan Iraq yang pascaperang dipaksa untuk dikelola (menerima nilai dan kebijakan) secara Barat, yang kenyataannya tertolak dan tidak memunculkan kedamaian.

Perang secara selektif di Timur Tengah, menunjukkan arah menuju penguatan hipotesis Huntington; bahwa benturan peradaban sedang terjadi antara Barat dengan negara-negara (beridentitas) Islam. Lalu apa akhir dari benturan antarperadaban? Konsistensi pada hipotesis Huntington mengarahkan Barat, setelah “aman” dari Islam, beralih “meminang” peradaban lain sebagai musuh bagi warga negaranya.

Sulit membayangkan akhir benturan antarperadaban ini. Manakala Barat mengklaim dirinya memperjuangkan kebebasan dan kedamaian, kita justru menemukan paradoks kebebasan, karena kebebasan diperjuangkan dengan sewenang-wenang yang justru
menghancurkan kebebasan dan kedamaian warga dunia lainnya.

Dialog antarperadaban

Alasan menjaga keamanan dan perdamaian, pasca 11/9 ternyata menyeret dunia ke dalam barbarisme. Sebuah perang yang tanpa alasan adalah teror bagi negara yang diperangi. Teror akan dibalas dengan teror, lantas masing-masing saling menyematkan
predikat teroris kepada lawannya, seraya menghantam.

Perang tidak menghasilkan apa-apa selain hanya mengekalkan siklus kekerasan. Jika demikian, mengapa tidak mencoba dialog antarperadaban sebagai strategi menciptakan kedamaian. Akar kekerasan, termasuk terorisme di dalamnya, erat terkait dengan
kesenjangan kesejahteraan. Sentimen mudah ditumpahkan kepada kelompok atau negara yang tamak mengeruk kekayaan alam tanpa mempedulikan penduduk setempat; atau mereka yang menunjukkan kehidupan berkelimpahan sementara bagi yang lain, kemiskinan dan penyakit adalah sarapan pagi.

Dialog, merujuk Jurgen Habermas, bukan sekadar berbicara, melainkan menenggang posisi lawan bicara. Dialog mengandaikan sebuah kesetaraan, baik dalam kedudukan maupun kepentingan. Tidak ada dominasi mayoritas terhadap minoritas; maka
negara yang kuat tidak boleh memaksakan kehendaknya kepada negara yang lebih lemah.

Dialog antarperadaban membuka pintu pemahaman apakah yang dibutuhkan oleh orang lain dan diri sendiri. Selanjutnya berproses mencapai win-win solution dengan iktikad baik tanpa memanipulasi lawan dialog. Hasil dialog memang tidak memberikan keuntungan maksimal kepada masing-masing pihak, karena semua harus berbagi. Negara adikuasa tidak akan mendapatkan hasil yang setara dengan persentase kekuatan yang mereka miliki. Tetapi hasil dialog akan memberikan jaminan ketenangan bagi negara adikuasa karena negara/kelompok minoritas akan mencapai tingkat kecukupan hidup yang meniadakan potensi provokasi-provokasi kekerasan.

Terorisme dan kekerasan tidak dapat ditoleransi. Tetapi sebelum menuding pihak lain sebagai teroris , harus dipastikan adanya dialog, dan jangan ada provokasi menggunakan kelimpahan kesejahteraan. (Mardian Wibowo: bergiat di Lingkar Studi Politik dan Hukum)

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: