selaksa makna

seperti kata-kata, hidup memiliki ribuan makna di baliknya..

Ingat

Ingat

obesitas itu tidak baik, tetapi tentu ini bukan tentang tubuh, melainkan tentang informasi yang secara tidak sehat kita terima tanpa disaring,

atau tentang informasi yang secara tidak sehat pula, tanpa kita saring, kita sebarluaskan kepada orang lain.

akibatnya sederhana, tetapi jelas buruk, kita berputar-putar saja dari satu pertengkaran menuju pertengkaran lain; dari satu dusta ke dusta yang lain; dari satu kebimbangan menuju bimbang yang lain,

lalu apa yang diperoleh, ujungnya tidak ada, karena hal ini akan membentuk siklus yang memburuk,

pertengkaran, dusta, dan kebimbangan, akan membuat kita makin percaya pada isu dan gosip, yang memperburuk kualitas informasi; kemudian informasi yang akurasinya jauh dari tepat akan memperburuk derajat pertengkaran, dusta, dan kebimbangan; dan begitu terus berputar-putar, going worst,

menyebar dan menular, seperti panu, influenza, atau bahkan gudig[1].

ah, tapi ada saja yang berkilah, “bukankah gatal itu senyatanya enak.., memunculkan nikmat saat menggaruknya..”

sebenarnya itu semua tentang isu dan gosip, tentang sas-sus dan berita yang bersumber dari “kata si ini, kata si anu”

saya teringat ucapan om hardiman, yang pernah belajar pada habermas, bahwa ketika isu dan gosip sudah dipercayai sebagai yang benar, itu menandakan komunikasi above the line sudah sangat-sangat tidak sehat.

sebenarnya ini semua tentang keinginan untuk mengajak menghentikan segala isu, gosip, pergunjingan, dan semua berita yang tanpa klarifikasi, tanpa tabayyun, tidak cover both side, maupun tidak audi et alteram partem. mari kita merasa risih untuk semua aktivitas komunikasi yang sejenis isu dan gosip.

terbayang reaksi mbah mahfud, kyai yang mengimami masjid kampung saya dulu, andai didengarnya orang bergunjing, tukar menukar gosip dan mengembangbiakkan sas-sus, pastilah akan ditegurnya lugas, “mandheg le, nduk, ngomono sing apik[2]. kalo yang ditegur masih tak paham juga, mbah mahfud pastilah melanjutkan, “sakdurunge ngomong, iki dienggo[3], sambil berucap tangan kanannya menunjuk sudut kening.

ah ya, bayangkan jika kita sedang bergosip ria, bertukar sas-sus,

entah ngomongin suntik bibir, entah tentang mobil baru pegawai sebelah, entah tentang pakaian bermerk si sekretaris, entah tentang bleaching wajah, entah tentang kebijakan pimpinan, entah tentang si anu yang gonta-ganti pacar, entah tentang kutil pak lurah di tengkuk, jemuran aduhai bu eRTe, sunatan sumbangan kematian, film bokep via BB, menu hambar kantin baru, mukena yang tak pernah dicuci,

lalu tiba-tiba mbah mahfud datang menghardik dengan kata-kata, “sakdurunge ngomong, iki dienggo”, sambil mengacungkan tangannya menunjuk jidat,

ahh, betapa tersinggungnya kita nanti.

maka, dengan segenap kerendahan hati, curahan ini diciptakan sekadar mengurangi kemungkinan malunya kita saat dihadapkan teguran mbah kyai mahfud, atau mungkin anak, istri, tetangga, atau sahabat, atau yang lebih ciloko lagi, bagaimana kalo teguran itu langsung dari utusan sang rabb.

nah, trus bagaimana menjawabnya?

–ayahkimi;sudutbaratmonumenasional;30032011–


[1] Sebutan jawa untuk sejenis penyakit kulit, yang terasa gatal dan berair, semakin digaruk semakin menyebar rasa gatalnya.

[2] Terj. “hentikan nak, bicaralah yang baik”

[3] Terj. “sebelum bicara, ini digunakan”

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: