selaksa makna

seperti kata-kata, hidup memiliki ribuan makna di baliknya..

Utaka

Pada suatu senja, di ujung deretan warung-warung bertenda, pecel lele, pempek Palembang, martabak manis, soto lamongan, dan tenda-tenda yang berderet-deret mulai menguarkan serta menawarkan kehangatan, kulihat pria paruh baya mendekap anaknya, erat-erat, dalam diam.

Senja selanjutnya ternyata tak berbeda. Di ujung jalan yang sama, pada keramaian yang sama, dengan diam yang sama, dekapan lelaki paruh baya itu masih di sana. Bersama sosok kecil, yang kuyakin adalah anaknya, tenang diredam peluk.

Senja berikutnya menghentikan laju motorku. Bukan menghalangi jalan; melainkan senja membiarkan pemandangan yang sama berada di sisi lintasan jalurku; lelaki paruh baya yang mendekap anaknya dalam diam.

Tak ada yang istimewa dari dekapannya, tapi harusnya kita yakin bahwa senja tidak pernah menyapa kepada hal-hal yang biasa dan sewajarnya.

Aku memandang matanya, lelaki paruh baya itu, yang terlihat sayu, mungkin lelah, dan berhias ornamen semburat memutih, uban di alis dan sekujur rambutnya. Mata itu, dan raut wajah yang entah bagaimana melukiskannya, bercerita tentang yang ditatapnya, bercerita tentang yang didekapnya, bercerita tentang yang berkelindan di benaknya.

Dia berdiri di Utaka, di ujung deretan warung tenda yang menawarkan rasa kenyang dan kehangatan. Lirih dipandangnya kembali satu per satu, hingga di ujung sana, sosok gagah toserba yang terang lampu-lampunya memancarkan cahaya berwarna-warni, kuning, biru, merah, berkelip-kelip ..

Di Utaka, dia tak hendak membelikan anaknya pecel lele, tak hendak pula dibelinya siomay, tongseng kambing, pempek kapal selam, baso, maupun sate ayam yang aroma nan gurih dari panggangannya menghambur melintasi jalanan menyesaki dadanya, dada yang meskipun getas selalu menjadi sandaran terkuat bagi anaknya. Tak pula dia hendak mendorong pintu toserba itu hingga loncengnya berbunyi merayu mendayu, ting ting ting ..

Dia hanya memimpikan, suatu saat nanti, diayunkannya langkah kaki bergegas mengikuti anaknya yang berlari-lari menghambur ke setiap warung tenda dan toserba sambil tertawa-tawa dan berteriak padanya, “bapak, bapak aku mau sate ayam, aku mau siomay, aku mau baso, aku mau semuanya..” Lalu dia akan menjawab permintaan anaknya dengan senyuman, keyakinan bahwa semua keinginan buah hatinya akan terpenuhi.

Tapi hari ini, pada senja yang semburat jingganya mulai menua dan kelam, mimpinya harus tertunda lebih lama. Bibirnya tak sedang tersenyum dengan segala kebanggaan seorang bapak yang berhasil memenuhi keinginan anaknya. Anaknya pun tak sedang berlarian penuh sukacita menggigit Walls sambil menggenggam aneka coklat diiringi denting-denting lonceng pintu toserba laksana lagu cinta.

Ah, senja menyadarkannya, bahwa Walls atau sekadar siomay untuk anaknya adalah hal yang tak perlu diimpikan. Bukankah mimpi memang tidak pernah menjadi nyata. Bukankah senyatanya, kehidupan mendorongnya terpojok ke ujung jalan ini, tanpa apapun kecuali si kecil yang terlelap gelisah dalam dekapannya.

sumber foto: penyairgelandangan.blogspot.com

Senja telah benar-benar menghilang berganti temaram, sementara dalam dekapannya, si kecil bergerak-gerak kemudian kembali diam, mungkin kedinginan, atau mungkin lapar, tapi sepertinya dia tahu bahwa hari masih terlalu sore dan warung-warung masih terlalu ramai untuk memberikan kepada mereka sekadar remah-remah, atau setidaknya sebungkus nasi disiram kuah dengan harga murah.

Dekapan lelaki paruh baya makin erat, berusaha dengan lengan kurusnya melindungi si kecil dari dingin angin malam. Tapi melindungi dari lapar? Dia tahu benar, lapar tak pernah bisa dihalangi oleh barikade sekuat apapun, apalagi hanya oleh lengan ringkihnya.

Maka diputuskannya berjalan dan melupakan, dengan karung yang terasa ringan di pundak, dengan si kecil yang menggeliat dalam dekapannya, berjalan menahan lapar dan dingin menuju entah, menyusul senja yang telah meninggalkan mereka, menjauhi deretan warung tenda yang memenuhi mimpi-mimpinya, mungkin ke deretan warung tenda lain yang lebih ramah atau menuju angin malam yang lebih hangat ..

 

[utan kayu dini hari sepuluh juni, untuk keluarga-keluarga yang tinggal di jalanan]

Single Post Navigation

3 thoughts on “Utaka

  1. Didik Darmanto on said:

    Mari Bung, bersama kita tuntaskan kemiskinan dari bumi Indonesia..

  2. hmm, sebuah renungan yang menggugah nurani.

    Salam kenal mas ~ jogja

  3. salam kenal mas widi,
    semoga masa depan selalu lebih baik, bagi semua orang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: