selaksa makna

seperti kata-kata, hidup memiliki ribuan makna di baliknya..

Pahlawan

Pahlawan

Malam ini, sambil menimang-nimang Kimi, anakku yang belum mau bobo’, aku melamunkan esok. Ya, esok pagi, seperti pagi-pagi 10 November sebelumnya, semua sekolah, instansi pemerintah, militer, dan kepolisian, mengadakan upacara bendera memperingati Hari Pahlawan. Pemilihan tanggal itu terinspirasi dan didedikasikan kepada perlawanan rakyat dan militer Indonesia melawan pasukan pendudukan Belanda pada 10 November 1945 lampau di Surabaya.

Kubayangkan wajah-wajah para pahlawan; muncul wajah Diponegoro di benakku, ada Pattimura, ada Slamet Riyadi, ada Supriyadi, ada Pangeran Antasari, ada Tan Malaka, dan banyak lagi wajah para Pahlawan. Tentu saja para pahlawan yang gambar wajahnya banyak digantung di dinding sekolahku dulu; atau setidaknya wajah-wajah yang banyak menghias buku-buku pelajaran dan uang rupiah kertas.

Kubayangkan gambar wajah Diponegoro yang bersurban menatap tajam ke depan, menjelma dalam sosok berjubah mengayunkan kerisnya mengiris tubuh-tubuh kaku serdadu Marsose. Kemudian, pengasingan mengakhiri kehidupannya.

Lalu Supriyadi sang shodanco PETA, dengan topi pet berbuntut a la Heiho menembakkan senapannya dor dor dor, sembari terbungkuk berlari menyeberangi lapangan berpagar kawat berduri. Dia menembaki sarang senapan mesin pasukan Jepang penjaga barak. Sebelum akhirnya meninggal berselimut misteri dan mitos.

Ada Pattimura dengan kumisnya yang segarang parang. Menyabet kesana-kemari, menumpahkan darah serdadu-serdadu Kompeni yang dengan hongi tochten akan merampas kedaulatan Maluku, tanah al mulk ‘tanah raja-raja’. Thomas Matulessy yang pattimura ‘murah hati’ akhirnya mengakhiri hidupnya di tiang gantungan Belanda.

Wajah-wajah pahlawan bermunculan satu per satu, tapi semuanya kututup dengan bayangan yang sama. Seperti hikayat dalam buku-buku sejarah; mereka semua mati terbunuh atau sebagai orang hukuman.

Lalu mengapa mereka semua, orang-orang yang kemudian “ditakdirkan” kalah, dipilih menjadi pahlawan?

Belasan tahun lalu, pertanyaan itu pernah ditanyakan dua orang murid SMP kepada guru PPKn-nya. Akibatnya, kedua murid itu, yaitu aku dan seorang sohib sebangku, harus mencabut ilalang di antara rerumputan taman depan kelas sambil menekuri nilai-nilai kepahlawanan dan mencari tahu kesalahan kami …

———-

Lalu apa sebenarnya Pahlawan? “Orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; atau pejuang yang gagah berani,” begitu Kamus Besar Bahasa Indonesia memberi arti pada kata Pahlawan.

Kalo begitu Pahlawan harus pemberani; harus jagoan; harus pandai bersiasat; harus pintar berdiplomasi; harus ahli bela diri; dan harus mencintai tanah air.

Itu saja?

Ora to yo, tidak lah. Pahlawan juga harus rajin ke masjid atau ke gereja; harus rajin beribadah; harus jujur; dan seperti kata Kamus tadi, harus berani berkorban membela kebenaran.

Nah lo, membela kebenaran? Frasa ini yang paling absurd dari semua absurditas definisi ciri-ciri pahlawan. Kebenaran itu yang seperti apa?

Kebenaran itu ya nilai-nilai yang dianut masyarakat. Nilai-nilai yang secara moral dianut oleh mayoritas anggota masyarakat.

Ooo.. jadi kalo masyarakat yang tinggal di kampung maling; maka malingitas itu nilai kepahlawanan. Dan menjadi maling adalah menjadi pahlawan?

Lha ya bukan. Nilai-nilai anutan itu haruslah nilai yang tidak merugikan anggota lain masyarakat.

Kalo misalnya anggota lain masyarakat tidak ada yang merasa rugi, maka nilai-nilai itu baik?

Tull… tepat!!

Tapi “tidak merasa rugi” kan tidak sama artinya dengan “tidak rugi”?

———-

“Eaaa..,” Kimi kecil menggeliat dalam timanganku. Rupanya dia belum tidur dan merasa jengah dalam kesunyian lamunan ayahnya.

Mata bulatnya menatapku lekat-lekat; dengan dahi berkerut-kerut. Mungkin dia mendengar lamunanku, dan ikut berpikir bagaimana cara menjadi Pahlawan di jaman sekarang.

Jangan-jangan Kimi tahu bahwa tidak mudah menjadi pembela kebenaran, apalagi pouvoir c’est savoir; kata Foucault kuasa itu bisa mengkonstruksi pengetahuan (kebenaran).

Kalo Kimi berpikir seperti itu, aku ingin balik bertanya padanya, bukankah sebaliknya savoir c’est pouvoir? Bukankah pengetahuan (dan kebenaran) bisa menciptakan kuasa?

“Eaaa..,” Kimi menangis lagi. Mungkin dia males menjawab pertanyaan ayahnya. “Absurd Yah, absurdddd…”

 

[Utankayu, 9 November 2009]

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: