selaksa makna

seperti kata-kata, hidup memiliki ribuan makna di baliknya..

Maaf

Sore kemarin beduk bergetar-getar, bertalu-talu, membahana, seketika setelah lembayung senja hadir mengabarkan ikhwal kemenangan. Yap, Idul Fitri hadir melepas senja; melepas Ramadhan yang dengan setia berusaha selalu dipungkasinya.

Lalu..,

Semalaman parau suara-suara melantunkan bait-bait takbir. Bersahut memanggil nama sang Maha Segala. Gendang besar, gendang kecil, drum minyak, kaleng susu, kaleng khong guan, kaleng tango, galon aqua, galon ades, galon vit, galon aguaria, rebana kampung, rebana kota, tangan bertemu tangan, semuanya ditepuk, dipukul, ditampar, mengiring panggilan kepada-Nya; yang merdu, yang sumbang, yang parau, yang serak, yang haru, yang riang, yang gumam, yang getas, yang kering ..

Lalu..,

Semua keributan itu mengingatkanku pada kabar yang dibawa angin, tentang sebuah maaf yang entah mengapa selalu kutunda memberikannya.

“Tak adil”, begitu kata sebuah suara di sudut hatiku. “Bukankah sudah seharusnya kau memberikan maaf kepada seseorang yang memintanya? Bukankah setiap muslim wajib memaafkan semua orang yang telah mengucapkan permintaan maafnya?”

Lalu..,

Ingatan membawaku mengelana, sekian tahun yang lalu di sebuah desa punggung Pegunungan Seribu; Gunung Kidul. Pada salah satu padukuhannya, tempat dimana hanya pepohonan Jati, singkong, dan bukit-bukit kapur bersedia menjadi peneduhnya, aku belajar tentang maaf.

Desa itu, tempat bersemayam mitos-mitos dan yang gaib; tempat berdirinya sebuah musholla kecil di sudut tikungan sana; tempat sekolah dasar yang dari tahun ke tahun muridnya hanya itu-itu saja; tempat lapangan yang di antara embikan dan lenguhannya anak-anak memainkan bola; tempat jalanan berkulit aspal -tipis dan rontok- menghalangi perjalanan pedagang es lilin masuk desa; tempat pos jaga swadaya ujung jalan yang tak dijaga kecuali jika harimau mengancam masuk desa.

Lalu..,

Di ujung desa, dengan pos jaga menjadi saksinya, kulihat bagaimana maaf melukai para pemberinya, lebih dalam dan jauh lebih dalam..

Awalnya memang tak sederhana, bantuan desa yang tak pernah maujud menjadi apapun; bergema, perlahan-lahan surut menyisakan sekian tanya, kemudian hilang di antara rerimbunan jati. Pun tentang yang gaib, semuanya memandang curiga saat yang bugar tiba-tiba tersungkur bersimbah darah; saat yang waras tiba-tiba tersesat berputar-putar tanpa arah di batas desa; saat kemanapun kami pergi, tetua-tetua merasa perlu melontarkan mantra pelindung ke sekeliling tubuh kami.

Lalu..,

Kebenaran itu terbuka, begitu bening seperti mengusap kaca mobil setelah semalaman melintasi jalanan berlumpur. Begitu benderang seperti dedaunan Jati yang meranggas di ujung musim. Begitu jelas seperti kacamata minus membantu miopia-mu.

Lalu..,

Matahari semakin condong di ujung jalan desa; bayang-bayang pohon singkong memanjang berlomba melebihi batangnya, lompat melintasi pagar batu, bergoyang-goyang meruah ke jalanan. Namun, kesunyian merambati kami yang berkumpul di depan pos jaga, semua lelaki bercangkul yang turun dari ladang; semua ibu dengan ranting-ranting di punggungnya; semua gadis dan remaja tanggung yang sementara menutup candanya.

Pos jaga tenggelam dalam nestapanya, memamerkan plester mengelupas di sudut jendela yang ditumbuhi anak-anak benalu, dan tiga gentingnya luruh ke tanah menyisakan usuk mahoni.

Lalu..,

Adzan Ashar berkumandang dari desa tetangga, saat dia, sang berpunya, dengan rambut yang tak lagi hitam seluruhnya mulai berkata-kata. “Sedulur, maafkan aku atas segalanya, atas kas desa, atas kegaiban, atas rente, atas fitnah, atas keriangan yang kucuri, dan atas sumber hidup yang tergadai.”

Hening masih saja menyelimuti, saat dia, dengan rambut yang tak lagi hitam seluruhnya berkata-kata, “bukankah kita semua bersaudara? bukankah setiap muslim wajib memaafkan semua orang yang telah mengucapkan permintaan maafnya?”

Para lelaki bercangkul yang mengangguk dalam-dalam, ibu-ibu dengan seikat ranting di punggungnya, para gadis dan remaja, mereka maju mendekat menggoyangkan bayang-bayang tubuhnya. Satu demi satu menjabat uluran tangan dan mendeklarasikan kata maaf.

Kemudian dengan segera siang menuntaskan tugasnya, dan senja mengambil alih, mengiringi kehadiran ratusan malam yang berbintang maupun tidak.

Lalu..,

Hampir dua tahun setelah hari itu, aku berdiri kembali di depan pos jaga ujung jalan desa.

Benalu di retakan sudut jendela sudah mati, mungkin terpotong sabit. Namun sekian anak-anakan Benalu bertumbuh di kiri-kanannya.

Genting yang luruh ke tanah belum tergantikan, bahkan empat atau lima lubang baru telah hadir menampakkan usuk mahoni yang ditumbuhi pakis-pakis kecil.

Lalu..,

Di belakang pos jaga, sebuah bukit kecil yang sebagian sisinya dipotong mendatar, kulihat seseorang mengayunkan cangkulnya memecah watu lintang.[1] Sedikit tergesa kakiku melompat naik, menyusur dan berpegang bebatuan kapur abu-abu raksasa, menyapa senyumnya setelah sekian lama tak kulihat.

Kami duduk bersama di sisi bukit, berusaha berteduh di antara bayang-bayang samar dahan jati, memandang jalanan di bawah sana yang tak lagi tersisa kulit aspalnya.

Lalu..,

“Dukuh ini tidak berubah nggih, Pak?”

Lelaki tua itu tersenyum, meraih cangkul dan menggesernya ke ujung kaki.

“Dukuh ini tidak banyak berubah ya, Pak?,” aku mengulang, entah tanya atau sapa.

Angin meniup dedaunan jati, selembar melayang jatuh ke hadapan kami, kering dan berurat. “Tentang segala masalah itu, Pak. Bukankah dua tahun lalu, di depan pos itu, pengakuan sudah dituturkan dan maaf telah saling dipertukarkan?”

Angin kembali bertiup, menerbangkan debu-debu entah kemana.

“Padukuhan ini terlalu mudah memaafkan, Mas. Terlalu mudah..” Dia, lelaki tua itu, menjawab pertanyaanku dengan kalimat-kalimat yang ujungnya lebih terdengar sebagai gumam.

“Mas, apa bener kita sebagai muslim harus senantiasa memaafkan walaupun si peminta maaf tidak pernah sekalipun mengembalikan hak-hak kami?”

Aku mendengar pertanyaannya, lembut, namun tegas mengiris kesadaran. Tapi aku tak tahu bagaimana menjawabnya. Mungkin pertanyaan itu memang tidak sungguh-sungguh ditanyakannya padaku.

Lalu..,

Kebisuan menyelimuti. Kami tak keberatan ketika angin Gunung Kidul menyebarkan pertanyaan itu kepada siapa saja yang melintas di jalanan bawah sana, ke desa-desa di sepanjang jalannya, pun ke kota-kota di kaki gunung.

Lalu..,

Aku menoleh; memandang matanya yang mulai mengabut digerogoti usia; memandang bilah cangkulnya yang mulai berkarat. Kataku perlahan, “Pak, besok Lebaran …”

–mw, Utan Kayu, 1 Syawal 1430 H–


[1] watu lintang (Jw) = batu padas/kapur

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: