selaksa makna

seperti kata-kata, hidup memiliki ribuan makna di baliknya..

“Tafsir Ekonomi Terpimpin”

Data Buku

Judul              : Ekonomi Terpimpin

Pengarang      : Mohammad Hatta Resensi BMK_Ekonomi Terpimpin

Penerbit          : Penerbit Djambatan, Jakarta

Tahun             : 1967, cetakan ketiga

Tebal               : vi + 62 halaman

 

 

”Pasal 33 ini adalah sendi utama bagi politik perekonomian dan politik sosial Republik Indonesia. Disitu tersimpul dasar ekonomi teratur. Dasar perekonomian rakjat mestilah usaha bersama, dikerdjakan setjara kekeluargaan. Jang dimaksud dengan usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan ialah kooperasi. Kooperasi paham Indonesia, jang memberikan segi ekonomi kepada kooperasi sosial lama: gotong-rojong.”

Demikian tafsir Mohammad Hatta atas pengaturan dalam UUD 1945 mengenai sistem perekonomian Indonesia. Hatta mengemukakan dua ciri yang seharusnya dimiliki oleh pola/bentuk kegiatan ekonomi dasar dalam masyarakat. Kedua ciri ini dianggap mampu membangun sistem perekonomian yang adil dan berkesinambungan. Kedua ciri yang diinginkan oleh Hatta adalah; pertama, usaha bersama; kedua, dikerjakan secara kekeluargaan. Dua ciri ini usaha perekonomian ini maujud dalam bentuk koperasi. Kedua ciri tersebut, vis a vis, menentang individualisme dan kapitalisme.

Hatta melihat individualisme dan kapitalisme pada gilirannya akan menghancurkan demokrasi; sebuah bentuk yang diinginkan Hatta menjadi ”roh” negara Indonesia. Oleh karena itu, koperasi harus dimunculkan sebagai tafsir atas demokrasi.

Dalam buku ini, terlihat keyakinan Hatta bahwa paham koperasi Indonesia akan mampu membangkitkan kembali kolektivisme masyarakat. Kolektivitas yang berakar pada adat-istiadat masyarakat. Namun dalam koperasi yang digagasnya, kolektivisme ”tradisional” ini diberi bentuk moderen.

Hatta menggagas (atau membayangkan?) bahwa koperasi akan mengutamakan kerja sama antaranggota. Kerja sama anggota-anggota yang sederajat dan bebas dari paksaan. Artinya, kebebasan anggota adalah prasyarat penting bagi sosok koperasi. Tetapi kebebasan di sini adalah kebebasan yang bertanggung jawab; kebebasan yang dinikmati dengan tetap menghormati kebebasan orang lain; kebebasan individu yang harmonis dengan kepentingan umum.

Dikatakan Hatta, ”Kooperasi jang sematjam itu memupuk selandjutnya semangat toleransi –aku-mengakui pendapat masing-masing– dan rasa tanggung djawab bersama. Dengan itu kooperasi mendidik dan memperkuat demokrasi sebagai tjita-tjita bangsa dan sendi negara jang ke-empat seperti tertanam dalam Pantjasila.” Hal lain yang diinginkan Hatta sebagai efek kooperasi adalah terciptanya kemandirian dan rasa percaya pada kemampuan diri anggota-anggotanya.

 

Ekonomi Terpimpin

Bedarfdeckungsprinzip, istilah dalam bahasa Jerman tersebut kurang lebih berarti organisasi kolektif yang bertujuan memenuhi kebutuhan hidup. Jadi, ditegaskan oleh Hatta, koperasi bukanlah organisasi yang tujuan utamanya mencari keuntungan; melainkan memenuhi kebutuhan semua anggotanya.

Berkaitan dengan UUD 1945, Hatta mengatakan bahwa koperasi bukanlah perusahaan (murni) swasta, meskipun koperasi bekerja mandiri. Koperasi haruslah berjalan seiring dengan kebijakan pemerintah. Koperasi seyogyanya mengambil peran (dalam konteks bidang usaha) untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan masyarakat yang belum bisa disediakan oleh Negara. Di sinilah kaitan antara koperasi dengan sistem ekonomi terpimpin. Koperasi merupakan alat ideal bagi terlaksananya ekonomi terpimpin.

Lalu apa yang dimaksud dengan ekonomi terpimpin itu sendiri? Dalam sebuah paragraf panjang di buku ini (hlm. 1) Hatta menjelaskan ”Pada umumnya ekonomi terpimpin adalah lawan dari pada ekonomi merdeka, jang terkenal dengan sembojannja laissez faire. Apabila ekonomi merdeka menghendaki supaja Pemerintah djangan tjampur tangan dalam perekonomian rakjat dengan mengadakan peraturan ini dan itu, ekonomi terpimpin menudju jang sebaliknja. Pemerintah harus aktif bertindak dan mengadakan berbagai peraturan terhadap perkembangan ekonomi dalam masjarakat, agar tertjapai keadilan sosial…”

Konsep itulah yang ”dibaca” Hatta dari Pasal 33 UUD 1945 “Tjabang-tjabang produksi jang penting bagi negara dan jang menguasai hadjat hidup orang banjak dikuasai oleh negara. Bumi dan air dan kekajaan alam jang terkandung didalamnja dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakjat.”

Buku Ekonomi Terpimpin hanya setebal enam halaman romawi dan 62 halaman isi. Namun cukup mampu menyuarakan beberapa pokok pikiran Hatta, terutama masalah koperasi selain tentu saja pengertian pokok ekonomi terpimpin.

Hatta membagi pembahasan dalam buku ini menjadi dua bagian. Bagian pertama diberi judul ”Ekonomi Terpimpin”, yang mengulas pengertian ekonomi terpimpin secara umum. Bagian ini meliputi sejarah kemunculan paham ekonomi terpimpin. Sedangkan bagian kedua diberi judul ”Ekonomi Terpimpin bagi Indonesia”, yang memaparkan tafsiran sosial ekonomi Hatta terhadap konstitusi (UUD 1945 dan UUDS 1950), khususnya ”roh” ekonomi terpimpin dalam kedua konstitusi tersebut. Tahun penulisan buku ini menjadi penjelas mengapa dalam bukunya Hatta mengulas dua konstitusi sekaligus.

Kecelakaan tidak selalu merugikan; bahkan kadang memberikan keuntungan tersendiri. Kondisi itu tepat untuk menggambarkan buku yang disajikan ini. Buku ini sebenarnya tercetak karena ”kecelakaan”. Pada awalnya dua tulisan dalam buku disusun atas permintaan Ikatan Sardjana Ekonomi Indonesia untuk disampaikan Mohammad Hatta dalam rapat ISEI dan Kongres ISEI pada 1959. Namun karena rapat dan kongres tidak jadi dilaksanakan, maka diputuskan untuk menerbitkan kedua tulisan Hatta menjadi sebuah buku. ”Kecelakaan” itu ternyata memberi keuntungan; sekeping pemikiran Hatta bisa didokumentasikan dengan baik. (mw)

 

Single Post Navigation

2 thoughts on ““Tafsir Ekonomi Terpimpin”

  1. Salam, mas Mardian…

    Masnya membeli buku Ekonomi Terpimpin di mana?

    Terima kasih…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: