selaksa makna

seperti kata-kata, hidup memiliki ribuan makna di baliknya..

Bisakah Hukum Menjerat Iklan?

Ketika ingin mengelap muka yang berkeringat, tissue apa yang Anda beli? tissue wajah bergambar merpati, bergambar bunga-bunga, atau yang lain? Saat menghisap rokok, benarkah yang anda inginkan tar-nikotin dan bukan citra jantan yang dipamerkan dalam iklan? Berapa banyak setiap harinya barang/jasa yang tidak anda butuhkan namun tetap anda konsumsi tanpa sadari? Bisakah hukum melindungi anda?

Bukan rokok serta regulasinya yang akan dibicarakan, melainkan menjajaki sejauhmana hukum positif Indonesia memberikan perlindungan bagi konsumen terhadap pengaruh iklan yang menyesatkan (misrepresentation).

Iklan adalah benda kasat mata yang mudah (bahkan selalu) ditemui dimana-mana, tetapi menjerat iklan menyesatkan adalah pekerjaan yang hampir bisa dibilang mustahil. Mustahil, karena (bahkan) menyadari bahwa suatu iklan dapat menyesatkan adalah permasalahan tersendiri yang sulit diatasi.

Menurut kesepakatan umum, iklan diartikan sebagai bentuk komunikasi massa yang menggunakan teknik persuasi tertentu serta disebarluaskan melalui bantuan media untuk menginformasikan produk berupa benda atau ide. Kata kunci pertama dalam memahami iklan adalah persuasi, yaitu persuasi dalam komunikasi massa.

Persuasi bekerja di area pikiran, erat berkaitan dengan permainan pencitraan, pengendalian informasi, serta pembentukan persepsi kedalam benak komunikan. Tujuan persuasi, sesuai dengan namanya, adalah membuat orang lain (dalam hal ini komunikan) percaya sepenuhnya pada informasi yang disampaikan komunikator. Semakin daya kritis komunikan hilang, semakin dianggap berhasil komunikasi persuasi yang dilakukan.

Sementara iklan, fenomena usang yang tetap menarik, bukan sekedar melakukan persuasi, melainkan melakukan persuasi atas keinginan beli masyarakat luas. Persuasi yang dilakukan iklan bukan lagi sewajarnya, tetapi telah sampai pada tahap meliarkan nafsu konsumsi hingga ke tahap konsumtivisme atau bahkan mengarah pada obesitas konsumsi.

Keliaran konsumsi dicapai melalui pembentukan dunia maya dimana konsumen menganggap segala benda (buatan produsen) yang ada di dunia adalah mutlak kebutuhan mereka. Melalui proses hegemoni, konsumen menganggap kebutuhan yang dicipta-kendalikan oleh produsen adalah benar-benar kebutuhan hakiki mereka.

Di sini konsumen memiliki dunia post-realitas atau disebut juga sebagai realitas kedua, yaitu suatu dunia yang terbentuk tidak berdasarkan realitas sesungguhnya. Melainkan khayalan-khayalan/citra-citra yang tampak (seolah-olah) nyata; tersentuh, tercium, merasuk ke dalam dan dianggap sebagai bagian dari kesadaran.

Contoh klasik kondisi ini adalah iklan-iklan kosmetik yang mengeksploitasi kecantikan. Mitos kecantikan yang diwujudkan selalu dalam sosok berkulit kuning (putih?), tinggi semampai, berambut hitam panjang, hidung bangir, serta senyum menawan dengan gigi-gigi putih kesat.
Daerah mana di Indonesia yang memiliki kriteria kecantikan “tradisional” atau alami seperti klaim iklan kosmetik di atas?

Klaim produsen iklan tersebut sedikit sekali (bahkan tidak) memiliki referensi nyata. Semua ciri diciptakan untuk menunjang penjualan krim pemutih kulit, suplemen dengan formula peninggi badan, shampoo dan semir penghitam rambut, jasa operasi plastik, pasta harum pemutih gigi, dsb.

Pembentukan citra telah menjadi poin utama dalam iklan. Iklan bukan lagi sekedar penyampai informasi tentang produk, melainkan telah menjelma menjadi pencipta realitas/referensi baru. Realitas semu yang bahkan lebih dipercaya oleh masyarakat dibanding realitas sesungguhnya. Seperti bahwa perokok lebih percaya rokok mampu meningkatkan “kejantanan” dibandingkan kenyataan resiko impotensi yang harus disandang.

Dahulu iklan menjual produk dengan cara yang terang-terangan, sekarang iklan tidak lagi se-vulgar seperti pada masa-masa awal kelahirannya. Iklan kini cenderung menciptakan citra untuk membungkus barang dagangannya. Mata konsumen terkelabui oleh citra pembungkus produk. Akhirnya konsumen melakukan pembelian tanpa melihat apa yang mereka beli, seperti membeli kucing dalam karung!

Ada sebuah iklan permen yang menggambarkan bahwa orang yang mengulumnya akan tetap percaya diri (pe-de) dalam kondisi apapun, termasuk ketika hak sepatunya patah. Apa korelasi antara kandungan mint dalam permen tersebut dengan peningkatan kadar pe-de?
Jika tak ada bukti (melalui tes kimiawi) bahwa mint benar-benar mempengaruhi hormon-hormon dalam otak untuk berpikir lebih logis dan cerdas (serta pe-de), maka bisakah iklan permen tersebut dikatakan melakukan tindak pidana?

Tindak pidana penipuan diatur dalam KUHP Pasal 378-395, namun sejak diundangkannya UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK), permasalahan berkenaan dengan pidana iklan (bukan periklanan!) diambil alih oleh UUPK berdasar asas lex specialis derogat legi generali.
Penipuan sendiri adalah bentuk penyajian informasi yang tidak benar, dilakukan dengan sengaja kepada orang lain supaya orang lain tersebut percaya.

Pasal dalam UUPK yang memiliki kemungkinan diterjemahkan sebagai pelarangan terhadap iklan-iklan pencitraan menyesatkan/menipu adalah Pasal 9 dan Pasal 10. Kedua pasal tersebut, antara lain berisi, larangan untuk mengiklankan barang/jasa dengan menawarkan sesuatu yang mengandung janji yang belum pasti, dan larangan mengiklankan barang/jasa dengan pernyataan menyesatkan mengenai kegunaan suatu barang/jasa.

Melihat Pasal 9 dan Pasal 10, sebenarnya iklan-iklan pencitraan bisa dikategorikan sebagai “janji yang belum pasti” dan “pernyataan menyesatkan mengenai kegunaan suatu barang/jasa”. Karena, seperti disinggung di muka, citra yang dibuat iklan seringnya tidak memiliki referensi nyata alias khayalan produsen belaka. Benarkah anda merasakan sensasi yang ditimbulkan lagu What a Wonderful World saat mengendarai mobil yang diiklankan dengan memakai lagu Louis Amstrong tersebut?

Citra adalah janji yang belum pasti. Dikatakan demikian karena ternyata citra tidak diperoleh seketika saat konsumsi atas barang/jasa dilakukan. Bahkan bisa jadi citra yang ada dalam iklan tidak diperoleh sama sekali oleh konsumen. Ini adalah penipuan yang dilakukan oleh produsen dengan menggunakan iklan sebagai alatnya.

Dari sini, pelaku, korban, serta alat/sarana penipuan sudah bisa dipilah-pilah. Tetapi kenyataan penegakan hukumnya … (mw)

Single Post Navigation

2 thoughts on “Bisakah Hukum Menjerat Iklan?

  1. Carlos on said:

    Saya Baru saja ber konfirmasi sam produk element pniggi badan(situs tinggibadan.com)
    Dia mnyuruh mngirim uang nya ke rek yg ditentukan,,tapi saya blng agar datang saja krumah dan byar dtmpat skalian mnyakan produknya…
    tapi dia tidak bisa…
    Itu sama aja Pnipuannn bukan??

    • mardian on said:

      Belum tentu penipuan, karena Anda belum mengalami kerugian apapun. Tapi pola penjualan seperti itu memang rawan untuk dipergunakan sebagai sarana menipu. Apalagi untuk produk-produk baru yang belum teruji jaminan kualitas baik produk maupun layanan konsumennya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: