selaksa makna

seperti kata-kata, hidup memiliki ribuan makna di baliknya..

Untukmu Hape, Kugadaikan Hidupku!!

Data Buku

Judul               : Kartun Benny & Mice: Talk About Hape

Penulis            : Benny Rachmadi dan Muhammad Misrad

Penerbit          : Nalar, Jakarta

Cetakan          : Pertama, Maret 2008

Tebal               : vi + 106

 

 

Untukmu Hape, Kugadaikan Hidupku!!

 

Seandainya ada, penghargaan kategori penemuan paling menggelisahkan abad ini pastilah diraih jajaran teknologi komunikasi. Di antara yang menggelisahkan tersebut, telepon seluler tentu akan menempati peringkat pertama.

Meskipun teknologinya telah ditemukan jauh sebelumnya, telepon seluler atau handphone alias hape baru marak di Indonesia pada penghujung 90-an. Marak dalam arti fenomenal; fenomena yang tak habis-habisnya memunculkan pertanyaan sulit dijawab; yaitu, bagaimana sebuah teknologi betul-betul kita terima secara massal sebagai kepanjangan indera kita. Sebuah teknologi yang bukan sekedar pelengkap; karena tanpanya hampir semua dari kita merasa tidak benar-benar hidup.

”Connect to the world,” demikian dikatakan Benny & Mice melalui komik Talk About Hape, mengomentari ketergantungan kita kepada hape. Ritual yang diikuti hampir semua orang ketika bangun pagi: meregangkan otot dan menguap, cuci muka, serta membuat segelas kopi sembari mengaktifkan hape. ”Klik” dan semua orang merasa ”connect to the world,” kembali ke dunia nyata (hal. 62-63).

Saat membaca komik Talk About Hape ini, tak peduli siapapun Anda, Benny & Mice akan mengajak berjalan-jalan menelusuri berbagai sisi keberadaan hape. Mereka menggambarkan (sebenarnya lebih tepat jika disebut mengingatkan) bagaimana manusia memberi makna kepada hape; serta bagaimana tanpa disadari hape berbalik memengaruhi manusia penggunanya.

Hape menjawab kebutuhan kita akan komunikasi. Teknologi yang maujud dalam kotak segenggaman tangan itu menjawab kegamangan kita menghadapi kesadaran bahwa ada jarak dan waktu yang membentang. Teknologi dalam genggaman tangan itu, meminjam istilah Yasraf Amar Piliang (2004), membantu kita melipat dunia -jarak dan waktu-.

Jarak bukan lagi hambatan untuk berbincang dan bertatap muka; ada suara yang bisa diperdengarkan kepada lawan bicara kita di mana pun dia berada; ada potret wajah yang bisa dikirim kepada siapapun melalui MMS. Bahkan teknologi terbaru berjuluk 3G memungkinkan sebuah komunikasi tatap muka langsung melalui hape.

Kartun Benny & Mice: Talk About Hape tidak mengajak pembaca mengarungi sejarah teknologi telewicara. Komik ini mengajak kita melihat realitas masyarakat yang merasa ”melek” teknologi, ditandai menjamurnya hape dimana-mana. Padahal sebenarnya bukan kondisi ”melek” yang ada, melainkan sebuah hegemoni secara subtil.

Hape menawarkan bantuan dan kemudahan, namun sebenarnya dia mengkonstruksikan budaya konsumtif baru dalam benak kita. Sebuah kebudayaan yang dipaksakan namun tanpa sadar justru kita anggap sebagai kebutuhan yang tumbuh dari diri kita sendiri.

Dalam komik ber-”genre” sosiologis ini Benny Rahmadi dan Muhammad Misrad, nama asli Benny dan Mice, menggambarkan shock culture ’gegar budaya’ yang dialami sebagian besar warga kita. Kehidupan tradisional, yang dibatasi oleh dimensi jarak dan waktu, tiba-tiba digeser oleh sebuah jenis kehidupan baru dimana dimensi jarak dan waktu bisa disiasati, dan bahkan dilipat-dekatkan.

Tidak terikatnya lagi manusia, dengan bantuan hape, terhadap dimensi jarak dan waktu memunculkan potensi kesenggangan dan kebutuhan yang luar biasa. Kesenggangan dalam arti bahwa waktu untuk saling mengunjungi bisa dihemat sedemikian rupa karena adanya hape membuat kita tak lagi perlu menempuh jarak (dan waktu) untuk berinteraksi dengan orang lain. Kemudian tercipta siklus, kemudahan berinteraksi (berkomunikasi) dan waktu senggang menciptakan ketergantungan kepada hape.

Tersedianya hape dengan berbagai variasi harga, mulai yang murah hingga yang seharga mobil bahkan rumah, serta pertarungan tarif murah antaroperator membuat kepemilikan hape menjadi hal mudah. Gelombang mode kepemilikan hape menjadi histeria massa, menjangkiti siapapun, dari latar belakang sosial-ekonomi apapun, dengan ciri tiba-tiba merasa bahwa ada yang kurang dalam hidup mereka.

Kelanjutannya adalah, di hadapan hape, kebutuhan komunikasi tak lagi murni. Semua mencoba mengada-adakan dan mencari-cari alasan untuk berkomunikasi menggunakan hape. Sekali lagi Benny & Mice menceritakan hal ini dengan jenaka, tentang Gafur (hal. 66-67) yang selalu menteror Benny untuk mengajak diskusi politik lewat hape.

Hape yang semula ”hanya” berfungsi mengirim pesan, saat ini justru diberi posisi lebih dominan dibanding pesan yang dikirimkannya. Persis tengara yang dikemukakan Marshall Mc Luhan bahwa medium is the message. Yang terpenting bagi kita bukan lagi pesan yang disampaikan melalui perantaraan hape; melainkan hape itu sendiri yang dipentingkan.

Maka, hape menjadi sebuah gaya hidup. Kerelaan mengurangi jatah makan, jatah rokok, bahkan jatah odol, sabun, dan shampoo, demi hape dan pulsa menjadi bukti terjadinya pemujaan (fetisisme) terhadap hape (hal. 94-102). Benny & Mice menertawakan diri sendiri (dan kita tentunya) yang rela menderita demi menjaga kelangsungan hidup hape kita.

Mulai pejabat sampai kenek bus kota; mulai pengusaha hingga pengangguran, semua memegang hape. Bahkan seringkali bukan hanya memiliki satu hape; bisa lebih! Ataupun bagi yang tidak berduit, cukuplah memiliki lebih dari satu sim card agar bisa menggunakan berbagai operator serta menikmati fasilitas-fasilitas yang berbeda (hal. 23).

Apa sebenarnya yang diusung Benny & Mice melalui komik mereka ini? Mereka bukan hanya menggambarkan realitas, namun lebih dalam dari itu. Benny & Mice sedang melontarkan kritik sekaligus menertawakan masyarakat. Duo komikus-sosiolog ini memarodikan diri mereka untuk menyindir ketaksadaran masyarakat yang menempatkan hape sebagai segala-galanya.

Pada cerita yang berjudul Bluetooth Handsfree (hal. 18), Benny digambarkan membeli bluetooth handsfree. Dengan penuh gaya, dicantelkannya bluetooth handsfree di telinga sepanjang siang, sore, malam, subuh, saat naik motor maupun mencuci. Namun sialnya, tak ada seorang pun yang menghubungi hape-nya. Melalui parodi terhadap dirinya, Benny mencoba menyindir perilaku sebagian kita yang membeli hape karena tertarik kecanggihan teknologinya; padahal banyak dari kita sama sekali tidak membutuhkan teknologi pendukung secanggih itu.

Pembaca tentu juga ingat fenomena nomor cantik yang pernah melanda dunia per-hape-an Indonesia. Nomor-nomor cantik (mudah diingat) yang diburu orang meski harganya selangit, ternyata tak banyak berguna. Karena ssat disimpan dalam phonebook, yang muncul adalah nama pemiliknya dan bukan nomor cantik berharga mahal. Duo Benny & Mice mengisahkan kritik tersebut di hal. 28-29 tentang seorang kaya yang membeli nomor cantik dengan harga 500 ribu rupiah. Kandungan moralnya: ternyata konstruksi budaya hape membuat sebagian dari kita jadi tak lagi bernalar.

Komik Talk About Hape sendiri adalah salah satu dari beberapa komik yang dihasilkan kedua alumnus IKJ 1993 ini. Beberapa komik mereka lainnya adalah Kartun Benny & Mice: Jakarta Luar Dalem (2007); Lagak Jakarta Edisi Koleksi Jilid 1 dan 2 (format cetak ulang, 2007); Lagak Jakarta: 100 Tokoh yang Mewarnai Jakarta (2008); dan Kartun Benny & Mice: Jakarta Atas Bawah (2008).

Meskipun komik, tapi Kartun Benny & Mice digarap mendekati kenyataan sehari-hari. Ini seperti sebuah penelitian partisipatoris dimana mereka berdua melakukan pergumulan langsung dengan hape dan para penggunanya, kemudian menuangkan dalam bentuk gambar dan cerita.

Melalui penggambaran mereka, kita seperti sedang melihat diri sendiri. Tertawa melihat kelakuan tokoh-tokoh dalam komik, sekaligus tersindir secara tajam. Dengan nakal Benny & Mice menyatakan penolakannya terhadap fetisisme hape. Di halaman penutup, dengan ”kenaifan yang hiperbolis”, mereka menyatakan bahwa pencerahan bagi pembaca komik ini ditandai dengan menjual hape lalu kembali kepada kehidupan normal.

Benar-benar kritik menyegarkan di tengah kejengahan kita terhadap kekuasaan hape yang semakin menjadi-jadi..

(Mardian Wibowo, editor freelance, tinggal  di Jakarta)

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: