selaksa makna

seperti kata-kata, hidup memiliki ribuan makna di baliknya..

Ein Rich! Ein Volk! Ein Fuehrer!

Judul Buku     : Fasisme

Judul Asli        : People and Politics : Fascism

Penulis            : Hugh Purcell

Penerjemah    : Faisol Reza, dkk.

Pengantar       : Mansour Fakih

Penerbit          : INSIST (Institute for Social Transformations) Press, Jogjakarta

Edisi                : Cetakan ke II, April 2003

Tebal               : 126 + xv halaman

 

“Ein Rich! Ein Volk! Ein Fuehrer!” -Satu Negara! Satu Bangsa! Satu Pemimpin!

Ketika Hitler dengan NAZI (National Sozialistische) berkuasa di Jerman dan sebagian besar Eropa tahun 1933-1945, teriakan slogan ini terdengar lebih sering dibanding cicit-cicit burung di udara. Tidak kurang dari wilayah Austria, Cekoslovakia, dan Polandia terharu biru oleh slogan otoritarianisme yang dibungkus tudung keunggulan ras Aria.

 

Sementara pada periode yang sama di Italia, Mussolini meneriakkan “to Believe! to Obey! to Combat!” menandingi slogan liberal “Liberty! Equality! Fraternity!”

Perbedaan fasisme dengan demokrasi liberal begitu nyata, tetapi ironis bahwa tidak banyak yang tahu apa itu sebenarnya fasisme. Banyak sekali yang menyamaratakan antara fasisme dan komunisme, keduanya memang sama-sama pernah menjadi hantu bagi peradaban, tetapi tidak ada alasan untuk menyamakan mereka begitu saja. Justru ketika fasisme dipandang sebagai komunisme, maka kebangkitannya akan sulit dideteksi!

 

Kata fasisme sendiri muncul pertama kali pada tahun 1920 di Eropa. Fasisme berasal dari bahasa latin “fasces” yang berarti ikatan, diadopsi sebagai nama gerakan revolusioner “Fasci” yang didirikan Benito Mussolini di Italia -bandingkan bahwa Karl Mark telah menulis “Manifesto Komunis” tahun 1848, dan Lenin telah mendirikan komunis Soviet tahun 1817.

Perbedaan mendasar adalah bahwa komunisme bersifat internasionalis sementara fasisme bersifat nasionalis, komunisme bergerak berdasarkan keyakinan akan perjuangan kelas berbeda dengan fasisme yang berlandaskan pada keagungan bangsa/ras. Tetapi memang dalam hal totaliter, mereka berdua hampir tidak memiliki perbedaan.

 

Buku “Fasisme” terbitan INSIST ini merupakan terjemahan dari “People and Politics: Fascism” tulisan Hugh Purcell, London. Ditulis dengan tujuan menghindari kesalahpahaman berlarut-larut dalam masyarakat yang bisa berakibat kontra produktif terhadap pencegahan fasisme. Maka dijelaskanlah apa itu itu fasisme, siapa kaum fasis, siapa saja yang pernah menjadi fasis, serta mengapa hanya dalam tempo 20 tahun fasisme mampu menjadi ideologi pembunuh di Eropa.

Fasisme, secara nyata maupun samar, bercirikan totaliter yang meniadakan perbedaan antara kehidupan publik dengan kehidupan privat. Ciri selanjutnya adalah rasialisme dan nasionalisme, dalam hal rasial kaum fasis berkiblat pada ubermensch gagasan Nietzsche. Ciri ketiga adalah kuatnya prinsip kepemimpinan yang kelak menghasilkan diktator-diktator totaliter. Bedanya dengan diktator-diktator kebanyakan adalah bahwa diktator fasis merupakan diktator populis, lahir karena dukungan masyarakat. Sedangkan sosialisme merupakan ciri menonjol terakhir dari fasisme.

 

Buku bercover penghormatan ala Hitler ini terkesan lebih banyak berbicara tentang sejarah NAZI, tetapi memang harus diakui NAZI adalah contoh “sukses” fasisme Eropa.

Terlepas dari label nekrofilia yang disandang Hitler, idenya tentang keunggulan ras Aria yang diterima bangsa Jerman menunjukkan bahwa benih-benih fasis telah ada dan dengan mudah menjelma menjadi (sampai batas-batas tertentu) kesadaran kolektif jika terpicu.

 

Sejarah menyebutkan latar belakang kemunculan NAZI adalah terlukanya harga diri bangsa Jerman karena kekalahannya dalam Perang Dunia I. Kekalahan tersebut sekaligus memicu kegagalan ekonomi. Sementara demokrasi tidak berhasil menenangkan dan memenangkan simpati rakyat, serta ditambah ketakutan akan munculnya kekuatan komunis (tahun 1917 Lenin memenangkan revolusi Bolsheviks melawan Tsar Rusia dan itu diyakini sebagai ancaman baru bagi Jerman). Hampir bersamaan di Italia muncul pula perasaan yang sama dengan Jerman kendati Italia merupakan anggota blok pemenang perang.

Kemudian munculah nama Hitler di Jerman, Mussolini di Italia, Leon Degrelle di Belgia, dan di Inggris muncul nama Oswald Mosley.

 

Hugh Purcell memang mengajak anda untuk menelaah fasisme melalui pembacaan ulang sejarah NAZI. Namun yang terpenting dari buku ini adalah kekhawatiran kondisi bangsa Indonesia saat ini hampir (atau sudah?) memenuhi prasyarat kemunculan fasisme seperti beberapa dasawarsa silam di Eropa.

Kualitas terjemahan menjadi satu kritik terhadap buku terbitan INSIST ini, ketidak tepatan diksi di beberapa bagian cukup mengganggu, namun demikian secara keseluruhan buku ini mudah dipahami.

Kalimat terakhir; tidak perlu takut membaca buku “Fasisme”, karena jika anda menyatakan diri sebagai musuh fasis maka hal pertama yang harus dilakukan adalah mengetahui siapa sebenarnya musuh anda!

Single Post Navigation

2 thoughts on “Ein Rich! Ein Volk! Ein Fuehrer!

  1. Ping-balik: INSISTPress | insistpress

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: