selaksa makna

seperti kata-kata, hidup memiliki ribuan makna di baliknya..

Radio

Radio[1]

 

Jauh di masa kanak-kanak, kusangka suara-suara yang berasal dari radio diucapkan oleh orang-orang yang ada di dalamnya. Kusangka, jika kuintip ke dalam kotak berjuluk radio itu akan kulihat sederetan musisi yang siaga dengan peralatan musiknya; beberapa pria dan wanita berbaju batik dengan naskah berita di tangan; sementara di ruangan yang lain –dalam kotak yang sama– sepasukan prajurit Majapahit menggelar pertempuran dengan prajurit Blambangan; bahkan kusangka akan kutemukan pula stadion mini dimana berbagai pertandingan olah raga dimainkan dengan seru.

Tak pernah kubayangkan betapa capeknya mereka, orang-orang yang tinggal dalam kotak kecil itu. Aku hanya suka memutar kenop-kenop radio. Mengganti berita pembangunan menjadi balap mobil; berpindah dari pertempuran jaman Majapahit menuju pasar induk di ibu kota negara.

Memutar kenop volume suara; kubayangkan orang-orang di dalam radio itu akan menegangkan urat leher mengeraskan suaranya. Sesaat kemudian kuputar kenop menuju angka nol; dan kubayangkan mereka –orang-orang dalam radio– melanjutkan pertempuran, olah raga, berita, pidato, atau apapun tanpa bersuara.

Hari ini, belasan tahun sudah masa kanak-kanakku terlewat. Radio tak lagi semisterius dulu. Tak lagi kusangka bahwa di dalamnya terdapat belasan, bahkan puluhan orang, yang senantiasa melakukan aktivitas berbeda. Pernah dulu kuintip ke dalam sebuah radio. Tak ada siapapun di dalamnya. Hanya komponen-komponen elektrik beraneka bentuk. Komponen-komponen mati yang tak memiliki jiwa, kehendak, maupun nalar.

Ternyata radio tak sehebat seperti selama ini kusangka. Radio tak terdiri dari kumpulan orang-orang bebas yang bisa melakukan apa saja sekehendak mereka –sementara aku sekedar mencuri dengar pembicaraan.

Semakin lama berinteraksi dengan radio, semakin kupahami bahwa mereka hanyalah corong dari sebuah studio berantena tinggi. Radio hanyalah kepanjangan tangan dari orang-orang yang berada dalam studio itu. Studio yang memancarluaskan berbagai keinginan, berbagai perintah, serta berbagai kepentingan orang lain.

Pagi ini aku duduk di depan pesawat radio. Memandang layar digital berkelip-kelip memunculkan kode-kode frekuensi radiasi elektromagnetik.[2] ”Maaf Radio, kekagumanku pada dirimu mulai hilang. Ternyata kau tak lebih hebat dariku; kau tak lebih independen dariku.”

”Radio, ternyata kita sama; menjadi corong belaka dari kepentingan yang lebih besar dari kita, dan tak pernah benar-benar kita pahami keberadaannya. Ternyata kita hanya sebuah alat kepanjangan tangan orang-orang yang bahkan tak kita kenal siapa dia.”

”Aku tak lagi mengagumimu dengan sangat. Tapi percayalah aku akan tetap berteman denganmu. Karena setidaknya kita senasib. Kau membangkitkan kesadaran, bahwa aku harus berbeda denganmu. Bahwa menjadi corong kepanjangan tangan orang lain bukanlah suatu kesalahan selama nurani kita tetap mengkritisinya.”

”Radio, teruslah bernyanyi. Tetaplah menyajikan berita-berita. Jangan bosan menyuarakan kepentingan siapa saja. Agar aku bisa terus bercermin padamu; meneguhkan perbedaan antara aku –manusia– dengan dirimu.”

 

 

(Kalimalang, 11 juni 2007)


[1] Radio tak bisa memilih apakah tetap menjadi dirinya sendiri, atau hendak berubah menjadi manusia yang bebas merdeka. Sementara, berkebalikan, manusia memiliki keleluasaan untuk dengan sadar menjadi diri sendiri yang bebas merdeka, atau menjadi radio –sekedar corong belaka.

[2] Kita menyebutnya sebagai gelombang radio.

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: