selaksa makna

seperti kata-kata, hidup memiliki ribuan makna di baliknya..

Nandur Angen-Angen

Nandur Angen-Angen[1]

 

Pagi ini gerimis menyapa Jakarta. Jalanan jadi becek, tapi lumayanlah, setidaknya debu dan asap pekat sedikit berkurang. Dalam rinai gerimis itu ingatanku melayang pada sosok yang kutemui sekitar tiga tahun yang lalu di sebuah desa ujung selatan Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Mbah Marto, demikian tetangga-tetangganya biasa menyapa. Posturnya tak istimewa, sama dengan kebanyakan orang-orang desa.

Usia Mbah Marto mungkin sekitar pertengahan empatpuluhan tahun. Tapi penampilannya jauh lebih tua dari orang-orang seusia itu di jakarta. Maklumlah vermaak wajah sudah menjadi kelaziman di Jakarta, sementara di Gunung Kidul? Alih-alih menicure dan pedicure, untuk makan sehari-hari saja susah.

Mbah Marto punya kapling ladang kecil, sebidang tanah di lereng bukit yang telah dibersihkannya dari taburan watu lintang[2]. Bertanam jagung, singkong, kadang kacang tanah, atau menanam lombok jika musim hujan tiba adalah aktivitasnya. Sementara jika hujan tak segera turun, ya sudah, ladang jagung segera berubah menjadi lapang tandus tanah liat.

“Kalo sudah begitu, apa yang bisa ditanam dalam kondisi kering kerontang?,” tanyaku padanya suatu saat.

“Ada kok Mas,” jawabnya sambil mengipasi badan yang mulai keriput dimakan usia.

“Apa itu, Mbah? Sudah ada varietas jagung baru yang tahan kekeringan ya?” Aku mulai tertarik, dan ikut slonjor[3] di lincak[4] bambu emperan rumah Mbah Marto.

“Mana ada Mas tanaman seperti itu?”

“Lho? Trus apa dong?, nanam (pohon) jati nggih Mbah?”

“Ya nggak bisa. Jati kan tanaman menahun. Nanamnya harus di lahan khusus karena baru bisa panen belasan bahkan puluhan tahun. Kalo Mbah punya jati, itu untuk diwaris ke anak dan cucu Mbah besok. Kebutuhan Mbah sehari-hari harus bisa dipenuhi dari ladang yang lagi kering itu, Mas.”

“Trus nanam apa Mbah?”

Mosok Mas Aan ini gak tau. Kan mahasiswa dari mana itu? KKN? Gajah Modo[5] nggih? Kok mboten[6] paham tanduran musim kering?,” ucap Mbah Marto sambil menyulut rokok klobot jagung.

“Sayangnya saya memang gak mudeng[7] sama sekali, Mbah..”

Asap rokok klobot linting itu dihembuskannya ke atas, “fuhhhhh…,” lalu jawabnya, “Nandur angen-angen[8],” diiringi tawanya lepas, “hahaha..”

“Lha?”

 

 

kalimalang, 22 mei 2007


[1] Nandur angen-angen (jw) = bertanam cita-cita

[2] Watu lintang (jw) = batu bintang. Disebut batu bintang karena mengandung banyak kapur sehingga berwarna putih.

[3] Slonjor (jw) = duduk dan meluruskan kedua kaki

[4] Lincak (jw) = bangku panjang tanpa sandaran, terbuat dari bambu

[5] Gajah Modo, demikian masyarakat desa sekitar (Gunung Kidul) menyebut nama sekolahku: Universitas Gadjah Mada

[6] Mboten (jw) = tidak

[7] Mudeng (jw) = paham

[8] Nandur angen-angen (jw) = bertanam cita-cita

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: