selaksa makna

seperti kata-kata, hidup memiliki ribuan makna di baliknya..

Nandur Angen-Angen (2)

Nandur Angen-Angen (2)

 

Monyet kecil itu menggigit jambu hutan oleh-oleh ngarit[1] mbah Marto. Namanya Yoyok. Dan gak ada yang cukup peduli ilham darimana bersarang di benak sang pemberi nama hingga memilih nama yang sebenarnya lazim untuk manusia. Toh memberi nama monyet kan gak perlu ijin kantor catatan sipil, hehe..

Bersila ala monyet, (lha memang monyet kok!), dia menikmati sendiri dunianya yang entah berisi apa saja. Sementara mbah Marto, tetangga sebelah, selonjor[2] di lantai tanah liat, bersandar tiang rumah, sambil kipas-kipas menemani kami menonton televisi.

Ya, sore itu indah. Langit cerah, sementara angin mulai datang mengusir terik mentari. Menyiarkan cerita bahwa di timur sana senja perlahan menghampiri kedamaian bumi. Menghampiri dusun tempatku mondok selama KKN. Menghampiri kami yang sedang bercengkerama; melepas penat seharian. Menghampiri tandus desa di tengah hutan jati ini. Menghampiri untuk menyiramkan kesunyian yang syahdu kepada deretan rumah-rumah kayu, dimana penghuninya hanya mengenal dua pembagian waktu; siang karena terang dan malam karena kelam.

Rumah pondokan kami sederhana saja. Berdinding papan dan gedhek[3] dengan halaman luas serba guna. Tempat pak dan bu dukuh,[4] induk semang kami, menjemur hasil panenan tegalan; padi, ketela, atau jagung; pun kadang sekedar menjemur jerami persediaan pakan ternak mereka.

Ternak? Sebenarnya tidak tepat juga disebut ternak. Itu terlalu sedikit; tiga ekor kambing yang usianya tak sebaya. Serta dua sapi betina, yang andai manusia, mereka masih pantas disebut remaja tanggung. Bagaimana bisa komposisi seperti itu, ditambah beberapa ekor ayam yang tak pernah berkotek ribut memperdengarkan suaranya, bisa disebut ternak?

Ah, betul-betul suasana senja yang ngangeni. Suasana senja ketika Yoyok anteng menikmati jambu hutannya; sementara kami tiduran santai beralas tikar pandan; dan mbah Marto nglesot[5] di lantai tanah, dengan mata ramahnya menatap televisi full color yang mulai menampakkan warna usang jingga di tepian tabung layarnya.

Acara televisi tak menarik, hanya sebuah sinetron, cerita tentang seorang pendusta yang akhirnya mendapatkan karma di hari tua. Kami menontonnya bukan karena ingin menonton. Hanya sekedar ingin mendapat alasan untuk bisa duduk meriung bersama.

Sinetron Indonesia selalu saja begitu. Bisa ditebak kemana arahnya. Orang-orang yang sombong di awal cerita, selalu mendapat balasan yang kadang lebih dari sekedar setara. Bintangnya juga itu-itu saja; wajah sama; peran sama; antagonis yang sama; protagonis serupa; hanya judul sinetron dan stasiun penayangnya berbeda. Sebelas-dua belas, begitu komentar orang-orang kalo kutanya perbedaan cerita antarsinetron.

Di sinetron, wanita-wanita selalu chick dan cantik. Pria-prianya klimis, tampan, dan menarik. Busananya selalu, alamak…

Ajining diri iku soko busono[6], mas…,” tiba-tiba mbah Marto angkat suara.

”He..?,” sedikit menggumam mataku menoleh ke arahnya. ”Apa, mbah?”

”Itu lho, mas. Yang di sinetron itu lho kok nggak menghargai dirinya sendiri.”

”Maksud mbah?,” aku tertarik mendengar pendapat mbah Marto. Kata-katanya seperti intro musik yang menjemput dan mengantarku memasuki langgam yang lain. Langgam dunia mbah Marto tentunya…

”Orang itu dinilai dari cara dia berpakaian, mas,” ucapnya sambil melinting tembakau dalam selembar klobot jagung. ”Kalo dandanannya rame seperti itu, biasanya bukan orang baik-baik, mas.”

”Itu kan hanya sinetron, mbah.”

”Lha yo mboten, mas.” Kata mbah Marto sambil menyulut klobot. ”Mbah itu sudah banyak ketemu orang. Macem-macem orang.”

”Terus?,” Niken, yang sejak tadi duduk diam di sebelahku, angkat bicara.

Lha nggih,[7] mbak Niken.” Berhenti sebentar menyedot klobot di tangannya. ”Menurut pengalaman mbah, orang-orang, terutama wong wadon[8], kalo dandanannya rame, biasanya orang nggak bener.”

Nggak bener bagaimana, Mbah?,” dari nada suaranya, kutahu Niken semakin penasaran dengan jawaban mbah Marto.

”Nggak bener niku[9] sama dengan nakal, mbak. Seneng nggodha wong lanang[10]. Tujuannya bukan untuk serius cari jodoh. Tapi cuma seneng-seneng ngumbar nafsu saja. Mboten wonten[11] yang tujuannya benar-benar karena tresno[12].”

Niken melongo, Suluh diam tanpa komentar, aku garuk-garuk kepala. Eh, lha kok Yoyok yang dari tadi asyik makan jambu tiba-tiba mendongak ke arahku, sambil garuk-garuk kepala juga. Fiuhh…

”Mas, mbak, itu tadi yang mbah maksud ajining rogo soko busono.”

Kami bertiga ndlongop[13]. Kaget, ternyata mbah Marto yang tak pernah mengenyam sekolah lebih tinggi dari sekolah ongko loro,[14] mampu mengurai simpul-simpul pemahaman personality yang sulit kami urai.

Dengan bahasanya yang lugas. Meskipun diksi-nya sedikit canggung, karena sadar berwicara dengan kami, mahasiswa-mahasiswa KKN yang serba tanggung kemampuan bahasa Jawa setempat, Mbah Marto mampu menguraikan makna dibalik busana. Mbah menjelaskan kepada kami bagaimana busana bisa berbicara banyak mengenai siapa pemakainya.

”Perilaku itu juga busana, mas,” ujarnya sambail meraih ekor Yoyok. Menarik monyet itu duduk dalam belaian tangannya.

”Baik atau buruknya nilai seseorang, seringkali bisa dilihat dari perilakunya.”

”He?,” kuakui aku jadi kagok di hadapan mbah Marto. Dari tadi cuma bisa ha-he-ho, gak punya komentar apa-apa.

”Jadi mas-mas dan mbak-mbak, kalo ketemu orang hati-hati. Jangan asal percaya saja. Lihat bajunya, lihat perilakunya, jangan asal percaya hanya karena cantik atau dandanannya menarik. Jangan karena cuma nangisan lalu mas dan mbak jadi iba. Harus selalu hati-hati, apalagi kalo mau cari jodoh. Hahaha…,” derai tawa mbah Marto lepas.

Yoyok kaget. Melompat menjauh, dengan mata lucunya memandangi kami bingung. Lalu, cuurrrr…, kencing dia di muka pintu.

”Hehhh, kurang asemm!!,” aku menggeram ke arahnya.

”Hahaha…,” mbah Marto terbahak. Katanya kepadaku, ”Mbok nggih dimaklumi, mas… Yoyok kan cuma monyet, gak pake busana lagi. Manusia saja, yang cantik dan manis, busananya bagus berkilau, tapi banyak yang tingkahnya nggak bener,” tukas mbah Marto memungkasi reriungan senja kami.

Dan reriungan itu berakhir sudah. Jingga benar-benar membuat langit pegunungan kapur ini merah merona. Pucuk-pucuk pepohonan jati pendar keemasan, seperti diserbu jutaan kepik.

Kepik-kepik negeri imaji. Datang menghantar senja. Menghantar langkah-langkah gegas mbah Marto. Langkah-langkah yang disambut rimbun dedaunan tikungan hutan jati.

”Mbah..,” aku memanggilnya pelan. Tapi tak yakin kalo ingin memanggilnya. Bahkan aku sendiri tak jelas mendengar suaraku. Seperti hanya kuucapkan dalam hati, dan menggema kering di kedalamannya. ”Tapi manusia kan beda dengan monyet, mbah…”

 

(Kalimalang, 21 Juni 2007: untuk kemarin, hari ini, dan esok)


[1] Ngarit (Jw.) berasal dari kata kata dasar arit (atau sabit dalam bahasa Indonesia). Imbuhan ”ng” di depan arit membuat artinya ngarit menjadi ”mencari/memotong rumput dengan menggunakan sabit”.

[2] Selonjor (Jw.) = duduk sambil menjulurkan kedua kaki ke depan.

[3] Gedhek (Jw.) = dinding dari anyaman bambu.

[4] Dukuh = wilayah administratif tradisional. Sekarang hampir bisa disamakan dengan desa. Pemimpin padukuhan biasa dipanggil pak dukuh.

[5] Nglesot (Jw.) = posisi mirip dengan selonjor. Atau bisa dikatakan duduk di lantai dengan posisi seenak empunya duduk.

[6] Ajining diri iku soko busono (Jw.) = Nilai diri terlihat dari busana (dan cara berbusana) yang dikenakannya.

[7] Lha inggih (Jw.) = lha iya

[8] Wong wadon (Jw.) = perempuan

[9] Niku (Jw.) = itu/adalah

[10] Seneng nggodha wong lanang (Jw.) = senang merayu lelaki

[11] Mboten wonten (Jw.) = tidak ada

[12] Tresno (Jw.) = cinta

[13] Ndlongop (Jw.) = ngungun, bengong

[14] Sekolah ongko loro (Jw.) = Sekolah Angka Dua. Sekolah tingkat dasar (semacam SD) selama dua tahun yang diadakan Belanda sebagai formalitas pelaksanaan politik etis. Di awal kemerdekaan Indonesia, sekolah jenis ini masih sering diterapkan meskipun secara informal.

Single Post Navigation

One thought on “Nandur Angen-Angen (2)

  1. devian on said:

    hmmm…. blog lama bedhol desa ke blog baruuu! mana tulisan baru-nya, Om Aan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: