selaksa makna

seperti kata-kata, hidup memiliki ribuan makna di baliknya..

Mata

Mata

 

 

Sudah hampir empat jam duduk menatap pendar-pendar monitor laptop tanpa tahu apa yang bisa dilakukan. Belasan paragraf pembuka sudah dituliskan, tapi semua sama, diakhiri dengan dua sentuhan tergesa-gesa: ctrl A dan tuts Del.

Semua paragraf pembuka yang kutuliskan tak benar-benar mampu membuka rasa hati yang ingin kutumpahkan. Lalu apa yang bisa dilakukan?

Memandang foto di atas meja, berharap menemukan inspirasi dari sana, ternyata makin memampatkan hatiku. Semakin besar kerinduan pada gadis di foto yang memeluk ijazah wisudanya, semakin tak bisa kutuliskan apapun.

Ternyata, mulut tak mampu mengungkapkan apa-apa, saat hati benar-benar ingin bicara. Hanya mata yang mampu mengobati kerinduan pada dia, yang di hadapannya kita tak bisa berucap apa-apa.

Mata? Iya, mata, kenapa dengan mata?

Bahkan Jean Paul Sartre pun mengakui bahwa tatapan mata (le regard) lah yang pertama kali mengidentifikasikan (secara sosial) siapa berada di posisi apa. Sartre mengatakan, melalui tatapan kita menentukan derajat si tertatap di hadapan kita.

Melalui tatapan manusia mampu memilih: hendak menempatkan tatapan si penatap sebagai yang harus dilawan, maka itu menciptakan kebencian. Atau menerima tatapan itu dengan segenap penerimaan; membalasnya dengan tatapan yang penuh pengertian, maka terciptalah cinta.

Saat engkau menatapku, serta merta aku menjadi obyek yang hadapanmu berusaha ikut menimbang dan memosisikan diri sendiri. Nilaiku ada dalam tatapanmu. Sebaliknya pun begitu, saat aku menatapmu maka engkau adalah obyek di hadapanku yang serta merta berusaha mencari tahu apa penilaianku kepadamu, untuk kemudian kau jadikan penilaianku sebagai pertimbangan bagi aneka ragam tindakanmu.

Itu semua tentang mata.

Ternyata, bola berlensa yang kita sebut mata bukan sekedar gumpalan kelenjar syaraf belaka. Keberadaannya jauh lebih bermakna; karena dialah yang pertama kali memproduksi makna. Seminimal mungkin, dialah yang mengumpan pada pikiran agar mereproduksi makna. Lalu dari centang-perenang produksi dan pertukaran makna itulah, dunia kita tercipta.

Betapa, perdebatan mengenai obyek yang ditatap mata, bisa ditarik jauh ke masa yang bahkan sulit membayangkan masa itu adalah nyata. Plato menyatakan bahwa kebenaran hakiki adalah yang idea; realitas adalah yang idea. Sementara manusia berada di dunia yang dipenuhi citra. Mata kita hanya memandang pendar-pendar bias alam idea; sehingga kebenaran yang kita lihat dengan mata bukanlah kebenaran yang sesungguhnya.

Maka, tugas manusia adalah mencocokkan hasil pandangan mata mereka dengan yang ada di alam idea. Merenunglah; lebih banyaklah memandang; lebih banyak bertanya; lebih terbuka menerima kebenaran ”yang lain”; maka setidaknya kebenaran di alam idea relatif dekat dengan kita.

Mata menangkap setiap pancaran cahaya, dan bayangan yang jadi pasangannya, tanpa diskriminasi apapun. Menangkap mentah-mentah warna-warni bias cahaya lalu membiarkan pikiran (dan hati) yang menentukan subyek apa yang sedang dipandang mata.

Ah.., dari proses kecil yang tak sederhana itulah aku menemukan dirimu. Dari mata, engkau dan jilbabmu warna ungu datang tiba-tiba, menerobos, memaksa masuk, dan tinggal di hatiku. Tanpa salam, tanpa permisi, juga tanpa minta ijin terlebih dahulu.

Jika sudah begitu, rasanya aku tak peduli apa kata Sartre. Seperti aku juga tak peduli apa kata Plato. Aku tidak peduli apakah dengan tatapanmu engkau sedang berusaha memberi bentuk pada citra diriku. Aku juga tidak peduli andai di alam idea terdapat bayangan berbeda dari engkau yang tertatap oleh mataku.

Aku hanya yakin, ketika engkau berhasil menghalau rintangan-rintangan di sepanjang jalan menuju hatiku; ketika engkau telah masuk dan tinggal di kedalamannya; ketika engkau menciptakan kesejukan di relung-relung yang ada; ketika kehadiranmu yang begitu saja tak terduga telah menghangatkan kebekuan di dasarnya; maka engkaulah kesejatian yang kucari-inginkan..

Terima kasih, selamat datang di hatiku…

 

 

–hadiah ulang tahun untukmu–

Kali Malang-Monas, 6 Maret 2008

Single Post Navigation

3 thoughts on “Mata

  1. ..nah tu..keknya tau deh sama ambar mata itu..^-^..ciyeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee..:D

  2. pinjam mata tetangga sebelah, Mbak, hehehe…

  3. mas..bener deh…ceritanya lum di baca abis..tapi pengen komentarin fotonya …itu kok mirip temen baik dulu..yang sekarang telah pergi ..ntah kemana :(

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: