selaksa makna

seperti kata-kata, hidup memiliki ribuan makna di baliknya..

Impor Beras yang Memiskinkan

Impor Beras yang Memiskinkan

 

Mulai bulan Oktober sampai dengan November 2006, pemerintah melakukan impor beras bertahap sebanyak 210.000 ton. Impor yang dilakukan dari Thailand dan Vietnam bertujuan mencukupi stok beras nasional sehingga harga beras bisa stabil.

Kebijakan impor beras ditentang banyak pihak. Paling keras bersuara adalah para petani karena dengan impor tersebut bisa dipastikan mereka tidak akan bisa menikmati kenaikan harga gabah dan beras. Alih-alih mengalami kenaikan, harga gabah dan beras produksi mereka justru merambat turun.

Penurunan harga gabah dan beras membawa akibat penurunan penghasilan dan daya beli petani bersangkutan. Lebih jauh, petani mengalami penurunan standar kehidupan. Beberapa diantaranya, yang sebelumnya telah berada sedikit di atas ambang garis kemiskinan, dengan sedikit penurunan penghasilan akan terjerembab dalam kubangan kemiskinan.

Impor beras memiliki pengaruh signifikan terhadap terciptanya kemiskinan petani. Signifikansi pengaruh tersebut akan dijelaskan dalam makalah ini. Sistematika yang dipergunakan adalah menyajikan selintas mengenai kemiskinan serta teori-teori kemiskinan; kemudian dijelaskan tentang petani serta karakteristiknya; dilanjutkan pembahasan hubungan impor beras dengan kemiskinan petani; terakhir ditutup dengan kesimpulan serta saran kebijakan pertanian yang sebaiknya dilakukan untuk mengentaskan petani dari jerat kemiskinan.

 

Kemiskinan

Mendefinisikan kemiskinan sangat dipengaruhi oleh dimensi yang kita pergunakan. Namun apapaun dimensi yang dipakai, pada dasarnya kemiskinan dapat dipilah dalam dua jenis berikut. Pertama, kemiskinan dalam arti absolut. Yaitu kondisi riil manusia tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup minimumnya. Kemiskinan absolut merupakan kemiskinan yang diukur dengan (menggunakan parameter) garis kemiskinan, yaitu suatu batas/besaran nilai (diukur dengan uang atau pangan –beserta kandungannya-) yang harus dipenuhi untuk bertahan hidup.

Merujuk pada kriteria kemiskinan yang diajukan oleh United Nations Development Program (UNDP), US $1 per hari per kepala adalah batas antara miskin dan tidak miskin.[1] Artinya, jika seseorang berpenghasilan dibawah US$ 1 per hari maka dia akan digolongkan ke dalam kriteria miskin.

Berbeda dengan kriteria yang disusun UNDP, meskipun sebenarnya pertimbangan yang mendasarinya sama, Badan Pusat Statistik Indonesia menyodorkan kriteria kemiskinan dengan satuan rumah tangga sebagai basis pengukuran. Kriteria rumah tangga miskin yang dirumuskan BPS adalah sebagai berikut:[2]

  1. Luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8 m2,
  2. lantai tempat tinggal terbuat dari tanah/bambu/kayu murahan,
  3. jenis dinding tempat tinggal terbuat dari bambu/rumbia/kayu berkualitas rendah/tembok tanpa diplester,
  4. tidak memiliki fasilitas buang air besar/bersama-sama dengan rumah tangga lain,
  5. penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik,
  6. sumber air minum berasal dari sumur/mata air tidak terlindung/sungai/air hujan,
  7. bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar/arang/minyak tanah,
  8. hanya mengonsumsi daging/susu/ayam satu kali dalam seminggu,
  9. hanya membeli satu setel pakaian baru dalam setahun,
  10. hanya sanggup makan sebanyak satu/dua kali dalam sehari,
  11. tidak sanggup membayar biaya pengobatan di puskesmas/poliklinik,
  12. sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah: petani dengan luas lahan 0,5 ha, buruh tani, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan, atau pekerjaan lainnya dengan pendapatan di bawah Rp 600.000 per bulan,
  13. pendidikan tertinggi kepala rumah tangga: tidak sekolah/tidak tamat SD/hanya SD,
  14. tidak memiliki tabungan/barang yang mudah dijual dengan nilai minimal Rp 500.000, seperti sepeda motor (kredit/non kredit), emas, ternak, kapal motor, atau barang modal lainnya.

 

Kriteria kemiskinan di atas, yang dipergunakan untuk melakukan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2006, menunjukkan jumlah penduduk miskin di Indonesia sebesar 39,05 juta penduduk dari 222 juta total penduduk Indonesia. Atau dalam prosentase, 17,75% penduduk Indonesia adalah miskin. Jumlah penduduk miskin tahun 2006 mengalami peningkatan signifikan dibanding jumlah penduduk miskin 2005. Hasil Susenas Februari 2005 menunjukkan jumlah penduduk miskin 35,10 juta 220 juta total penduduk Indonesia, atau sebesar 15,97%.[3]

Konsep kemiskinan yang kedua adalah kemiskinan dalam arti relatif. Kemiskinan relatif adalah kondisi miskin yang disandang seseorang jika dibandingkan terhadap orang lain. Orang yang mengalami kemiskinan relatif belum tentu tidak bisa hidup jika berada dalam kondisi ini.

Sementara terjadinya kemiskinan disebabkan oleh salah satu atau kombinasi dari ketiga hal, yaitu; penyebab alamiah yang meliputi kondisi bawaan manusia dan kondisi alam; kebudayaan masyarakat atau individu bersangkutan; serta kemiskinan struktural.

Penyebab alamiah antara lain berupa kondisi lingkungan tempat tinggal. Seseorang yang tinggal di daerah tandus, relatif besar peluangnya untuk menjadi miskin karena ketidakmampuan daya dukung lingkungan dalam memenuhi kebutuhan hidup minimal orang bersangkutan.

Faktor penyebab kemiskinan yang kedua adalah kebudayaan. Edward Burnett Tylor mendefinisikan kebudayaan sebagai kompleks keseluruhan yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, hukum, moral, kebiasaan, dan lain-lain kecakapan dan kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.[4] Sementara menurut Koentjaraningrat terdapat tujuh unsur budaya universal yang dapat ditemukan pada berbagai bangsa di dunia. Ketujuh unsur tersebut terdiri dari bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian hidup, sistem religi, dan kesenian.[5]

Mengapa kebudayaan bisa memiskinkan? Hal ini tidak terlepas dari kedudukan kebudayaan sebagai way of life manusia yang selalu diwariskan turun temurun. Sehingga kebudayaan yang tidak memiliki semangat mencapai kemakmuran akan terus mengekang manusia ke dalam ketidakmakmuran. Contoh riil bisa dilihat pada kondisi masyarakat suku Anak Dalam di Taman Nasional Bukit Dua Belas dan Taman Nasional Bukit Tiga Belas, Jambi, yang terasing dan mengasingkan (baca: menutup diri) dari pergaulan dengan dunia luar.

Kemampuan berhitung (sistem pengetahuan) masyarakat suku anak dalam sangat buruk. Bahkan bisa dibilang mereka tidak memiliki kemampuan berhitung, sehingga sering (bahkan hampir selalu) ditipu jika menjual damar hutan kepada masyarakat desa sekitar.[6]

Kebudayaan suku Anak Dalam tidak mewariskan sistem pengetahuan yang cukup sehingga kualitas kehidupan sehari-hari suku anak dalam tidak bisa lepas dari kemiskinan. Tidak adanya sistem pengetahuan yang bisa diwariskan diperparah dengan perilaku mereka yang serba menutup diri dari dunia luar.

Dengan menelaah contoh di atas, bisa kita tarik kesimpulan dari perspektif kebudayaan, memerangi kemiskinan (melakukan social movement) adalah sebuah proses budaya. Wujud kebudayaan yang tidak mendukung pencapaian kemakmuran harus bertransformasi menuju wujud yang lebih mendukung kemakmuran.

Penyebab kemiskinan yang ketiga adalah struktur masyarakat. Kemiskinan yang ditimbulkan atau dibentuk oleh struktur masyarakat disebut sebagai kemiskinan struktural. Struktur disini diartikan sebagai ter-stratifikasi-nya masyarakat baik secara vertikal maupun horizontal. Kelas-kelas (sebagai bagian stratifikasi) dalam masyarakat memiliki fungsi masing-masing, sehingga stratifikasi tersebut berusaha dilanggengkan dengan berbagai cara. Salah satunya dengan diciptakannya regulasi/pengaturan oleh pihak yang memiliki kekuasaan dalam masyarakat.

Revrisond Baswir memberikan definisi kemiskinan struktural sebagai kemiskinan yang dibuat manusia seperti distribusi aset produktif yang tidak merata, kebijakan ekonomi tidak adil, korupsi dan kolusi, serta tatanan perekonomian dunia yang cenderung menguntungkan kelompok masyarakat tertentu.

Contoh kemiskinan struktural ialah kondisi petani yang selalu tidak bisa menjual gabah dan berasnya dengan harga mahal. Karena pasar (dengan intervensi pemerintah) mengkondisikan harga jual gabah dan beras selalu dalam tataran relatif murah. Disini petani memang dikondisikan untuk menjadi warga negara pelengkap, yang semata-meta bertugas menyediakan pangan sebagai sarana kemakmuran anggota masyarakat lain, sementara dirinya sendiri harus puas dengan kondisi yang serba kekurangan.

Artinya, kemiskinan petani adalah produk/ciptaan/hasil (dalam derajat yang lebih rendah adalah imbas[7]) dari sebuah tindakan/narasi besar negara. Dengan asumsi ini, maka bagi orang-orang tertentu (yang miskin), kemiskinan adalah suatu pengkondisian yang ditimpakan kepadanya baik dia (petani tersebut) sadari atau tidak. Keterlibatan negara dalam upaya mengkondisikan kemiskinan petani inilah yang akan dipaparkan lebih jauh dalam makalah.

 

Siapakah Petani?

Perspektif sosiologi menyebut petani kecil dengan istilah peasant. Dalam konsep ini, peasant bukanlah seorang petani dengan lahan kecil, namun seorang petani yang berjiwa subsisten. Jiwa subsisten seorang petani mendorongnya hanya untuk melakukan usaha pertanian sekedar mencukupi kebutuhan minimal hidupnya. Sementara petani yang memiliki jiwa wirausaha dan cenderung mengejar keuntungan dalam setiap usaha pertaniannya, dia tidak bisa disebut sebagai peasant, melainkan agricultural entrepreneur ‘petani modern’.[8]

Raymond Firth (1956) seperti dikutip Raharjo, memberikan definisi peasant dalam konteks keekonomian. Menurut Firth, ekonomi peasant adalah sistem berskala kecil, dengan teknologi dan peralatan yang sederhana, seringkali hanya memproduksi untuk mereka sendiri yang hidupnya subsisten. Usaha pokok untuk hidup dengan mengolah tanah.[9]

Definisi Belshaw (1965) lebih lugas; menyebut masyarakat peasant sebagai masyarakat yang way of life-nya berorientasi pada tradisionalitas; terpisah dari pusat perkotaan tetapi memiliki keterkaitan dengannya; mengkombinasikan kegiatan pasar dengan produksi subsisten.[10]

Lalu apa yang dimaksud dengan subsistensi? Secara sederhana subsistensi diartikan sebagai cara hidup yang cenderung minimalis. Clifton R. Wharton (1963) mengklasifikasikan subsistensi dalam dua jenis, yaitu subsistensi produksi dan subsistensi hidup. Subsistensi produksi berkenaan dengan derajat komersialisasi dan monetisasi yang rendah. Sementara subsistensi hidup berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan minimal sekedar untuk bertahan hidup.[11]

Wharton mengemukakan bahwa pertanian subsisten murni merupakan pertanian yang berdiri sendiri dan mencukupi diri sendiri. Semua produksi dikonsumsi sendiri tanpa ada yang dijual. Selain hal itu, tidak ada pengaruh luar, seperti produsen barang atau jasa pelayanan berkait pertanian, yang masuk atau mempengaruhi pertanian.

 

Kondisi Sosial-Ekonomi Petani

Rata-rata, kondisi petani di Indonesia jauh dari gambaran kemakmuran. Pertanian di Indonesia sebenarnya adalah sektor menentukan bagi kehidupan masyarakat, namun sayangnya selalu diposisikan marginal, sekedar pelengkap derita.

Beras adalah makanan pokok yang selalu dibutuhkan (dikonsumsi) mayoritas masyarakat Indonesia. Dengan demikian, sudah menjadi hukum alam jika petani menjadi pihak yang memegang monopoli. Kondisi pasar monopolis seharusnya membawa petani kepada kesejahteraan yang lebih baik. Tetapi kondisi tersebut tidak terjadi karena adanya intervensi negara melalui “politik pangan murah”. Secara garis besar politik pangan murah menekan biaya produksi pertanian sehingga harga jual menjadi lebih murah.[12]

Menjadi pertanyaan besar mengapa petani nyaris selalu miskin padahal mereka berperan sebagai produsen yang menghasilkan barang kebutuhan pokok masyarakat. Beberapa faktor penyebabnya antara lain sebagai berikut:

Pertama, petani tidak memiliki cukup lahan untuk menghasilkan beras sampai tingkat surplus. Sehingga mayoritas petani di negara ini adalah peasant atau petani yang memproduksi beras hanya sekedar memenuhi kebutuhan hidup. Dalam kelompok ini beras belum menjadi komoditi.

 

Selengkapnya tulisan ini dilakan diunduh melalui

impor-beras-yang-memiskinkan1


[2] ——, “Orang Miskin Bertambah” dalam Kompas, 2 September 2006.

Terlepas dari konteks penulisan makalah ini, perlu disampaikan sedikit kritik terhadap kriteria kemiskinan yang dirumuskan oleh UNDP maupun BPS. Mengutip pendapat seorang penulis Afrika, Vandana Shiva mengatakan bahwa kemiskinan dapat dibedakan dalam dua macam kemiskinan. “Ada gunanya membedakan konsep budaya mengenai kemiskinan sebagai hidup sesuai dengan kebutuhan, dengan kemelaratan sebagai serba kekurangan dari sudut material atau kebendaan akibat perampasan dan kekurangan.” Konsep kemiskinan budaya adalah kondisi dianggap miskin karena tidak mengkonsumsi makanan olahan yang dihasilkan dan diedarkan oleh jaringan agribisnis dunia (barang-barang yang dihasilkan untuk dan diedarkan melalui pasar). Selengkapnya mengenai kondep ini bisa dilihat dalam Vandana Shiva, 1997, Bebas Dari Pembangunan: Perempuan, Ekologi, dan Perjuangan Hidup di India, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, hal. 13-18.

[3] Ibid.

[4] William A. Haviland, tanpa tahun, Antropologi, Jilid 1 Edisi Keempat, Erlangga, hal. 332-333.

[5] Koentjaraningrat, 1990, Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta, PT Rineka Cipta, hal. 203-204.

[6] Lihat Butet Manurung dalam Sejarah Pengembangan Pendidikan Alternatif “Sokolah” Orang Rimba di Taman Nasional Bukit Dua Belas dan Bukit Tiga Puluh, Jambi. ———-, 2003, On/Off Newsletter, Edisi Khusus 19/II/2003, Yogyakarta, Sindikat Kerja Orang Biasa.

[7] Mengandung makna bahwa ada kesadaran tindakan (diketahui dengan pasti bahwa ada beberapa tindakan yang ternyata bisa mengakibatkan kemiskinan terhadap orang lain) untuk mencitakan kemiskinan. Terlepas dari apakah pihak pembuat (penyebab) kemiskinan tersebut melakukan tindakannya dengan sengaja atau tidak dengan sengaja.

[8] Bandingkan dengan dwi fungsi petani yang dikemukakan oleh J.F. Warouw bahwa petani berproduksi untuk memenuhi kebutuhan sendiri (used value) dan berproduksi untuk memenuhi kebutuhan orang lain (exchanged value). J.F. Warouw, 2006, Diktat kuliah Teori Sosial Pembangunan, Jakarta, Magister Administrasi dan Kebijakan Publik, FISIP UI.

[9] Raharjo, 2004, Pengantar Sosiologi Pedesaan dan Pertanian, Yogyakarta, Gadjah Mada University Press, hal. 69.

[10] Ibid., hal. 70.

[11] Ibid., hal. 70-71.

[12] Kebijakan beras murah merupakan kebijakan yang diambil pemerintah (bahkan sebenarnya sudah diterapkan pula oleh pemerintah kolonial) sejak awal kemerdekaan Indonesia. Tahun 1949-1959 pemerintah menerapkan “politik pangan murah” dengan cara menekan serendah mungkin biaya produksi beras. Tahun 1959-1966 diterapkan “politik upah natura” yang mengganti sebagian upah pegawai negeri dalam wujud beras. Tentang politik pertanian (politik pangan/beras) dapat dilihat dalam Mubyarto, 1994, Politik Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Jakarta, Sinar Harapan, hal. 140-144.

Single Post Navigation

2 thoughts on “Impor Beras yang Memiskinkan

  1. Saya mewakili masyarakat yang bergerak dalam bidang mata pencaharian pertanian juga tidak setuju dengan kebijakan pemeringtah yang melakukan impor beras dari luar negari karena dapat merugikan petani dalam negeri yang penghasil beras dan gabah. Karena secara ekonomi dapat menurunkan harga beras lokal sehingga petani jadi semakin terpuruk. Tak hanya cukup diadikan produksi subsistensi semata. Dasar Pemerintah, kaum elite politik yang menunggang kursi kekeuasaan haus akan penghasilan dan tidak beroroentasi pada kemakmuran masyarakat. Indonesia semakin ironiiiiiis.Mengharukan !

  2. Mbak Lusi, kemarahan Mbak turut saya rasakan. Itulah, kita selalu saja tidak pernah bisa menangkap logika yang dipergunakan para pembuat kebijakan untuk selalu mengimpor, padahal sumber alam dan tenaga kerja kita lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sendiri, bahkan melakukan ekspor.
    Kita sedang menghadapi rezim yang bebal. Mari berjuang mengubahnya..!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: