selaksa makna

seperti kata-kata, hidup memiliki ribuan makna di baliknya..

Petisi Benny Rachmadi dan Muh Misrad untuk Jakarta

 

Data Buku

Judul               : Kartun Benny & Mice: Jakarta Luar Dalem

Penulis            : Benny Rachmadi dan Muhammad Misrad

Penerbit          : Nalar, Jakarta

Cetakan          : Pertama, September 2007

Tebal               : viii + 135

  

Petisi Benny Rachmadi dan Muh Misrad untuk Jakarta[1]

 

”Silver bird atau bajaj…

town house atau kontrakan…

tuna sandwich atau toge goreng…

senang… susah…

life goes on….”

(Kartun Benny & Mice: Jakarta Luar Dalem, 2007)

 

Kritik terbaik adalah ketika kita menghadirkan diri untuk dilihat apa adanya. Hal inilah yang dilakukan Benny dan Misrad dengan sangat cerdas. Mereka melakukan kritik tidak dengan gaya yang meledak-ledak maupun mengacungkan telunjuk kesana-kemari. Benny dan Misrad melakukan –berkata-kata dalam bentuk gambar– kritik dengan menghadirkan keseharian diri kita apa adanya ke dalam bentuk gambar. Gambar yang berisi rentetan perilaku kita.

Melalui tokoh yang bukan kebetulan bernama sama dengan kartunisnya, (Benny untuk Benny dan Mice untuk Misrad, ditunjukkan sebuah pendekatan yang tak lazim namun mengena. Suatu kritik yang dilakukan melalui kritik terhadap diri sendiri. Kita bisa menyebut gaya ini sebagai sebuah victims approach, sebuah pendekatan (sebagai) korban; gaya kritik dengan menempatkan diri sendiri sebagai pelaku sekaligus sebagai korban sebuah tindakan. Tujuannya adalah agar orang lain –pembaca– tidak merasa ditunjuk hidung.

Gaya Benny dan Misrad tidak bisa dilepaskan dari kondisi masyarakat kita yang sulit bersikap dewasa kala menerima kritik. ”Kritikus adalah musuh”, demikian dianut mayoritas kita. Sehingga, demi menghindari ketersinggungan, Benny dan Misrad memilih memarodikan peristiwa-peristiwa dalam masyarakat dengan aktor parodi mereka sendiri.

Parodi terhadap peristiwa-peristiwa, dan bukan parodi terhadap tokoh utama dalam peristiwa tersebut. Artinya kedua kartunis ini menempatkan diri sebagai ”masyarakat awam” yang ketiban awu anget (efek) kebijakan atau trend terkini. Namun, sekali lagi, kedua orang ini tidak menempatkan diri mereka sebagai pembuat kebijakan atau trend setter seperti presiden, walikota, menteri, anggota DPR, aktor film, penyanyi, dan lain sebagainya.

Seperti dikatakan Bre Redana, dalam pengantar buku kompilasi Penerbit Nalar ini, kedua tokoh tersebut adalah ”…dua lelaki bertampang super biasa … mewakili satu kelompok dengan kelas sosial dan strata kearifan khusus dalam masyarakat. Yakni manusia kelas bawah dalam usia produktif yang sampai produktivitasnya hendak surut, tetap termarginalisasi oleh kemiskinan kota besar.”

Dengan tegas Bre Redana menilai bahwa kedua tokoh, Benny dan Mice, adalah contoh anggota masyarakat kikuk yang misplaced dan oddity ’salah tempat dan aneh’ akibat proyek modernisasi buru-buru. Tingkah laku mereka menjadi serba konyol dan naif, tetapi sama sekali bukan bodoh. Kecerdasan mereka berdua mengingatkan kita kepada aksi-aksi genuine sang sufi cerdas Nasruddin Hoja; mengkritik dengan bertindak konyol sehingga orang menjadi sadar untuk tidak mengikuti tindakannya.

Karya Benny dan Misrad secara jenius menggambarkan bahwa penerapan nilai-nilai baru sebagai bagian proyek modernisasi –diantaranya dalam bentuk peraturan perundangan serta asupan mode– ke dalam masyarakat, niscaya mengalami kegagalan manakala tidak dilakukan secara komunikatif. Dalam perspektif komunikasi Jurgen Habermas, suatu tindakan bersama harus didasarkan pada kesepakatan yang tidak manipulatif. Semua pihak dalam kesepakatan harus menerima secara ikhlas serta sebelumnya telah memahami sebenar-benarnya apa yang mereka putuskan untuk dipatuhi bersama.

Simaklah salah satu rangkaian kartun satire mengkritik kebijakan (peraturan) menyalakan lampu sepeda motor pada siang hari. Demi mematuhi peraturan, Benny dan Mice berkendara sepeda motor siang hari dengan menyalakan lampu. Saat malam justru lampu sepeda motor mereka matikan dengan alasan sederhana; patuh pada peraturan. ”Ingat!! Jam 17.00 sampe 22.00 waktunya hemat energi… matikan minimal 2 bolam”, demikian mereka katakan saat mematikan lampu sepeda motor; beberapa detik sebelum keduanya terjungkal masuk lubang galian jalan. ”Gubrag!”

Kritiknya tak langsung ditujukan kepada pembuat kebijakan. Namun mereka menceritakan diri mereka sendiri yang menjadi korban karena sangat naif menerjemahkan peraturan. Tetapi apakah sebenarnya si korban peraturan Benny dan Mice benar-benar korban kenaifan diri sendiri?

Mereka memang naif tapi masalahnya tidak sesederhana itu. Di balik unjuk kenaifan kedua korban peraturan itu, tersimpan pesan moral kepada pembuat kebijakan bahwa mereka (para pembuat kebijakan) perlu duduk bersama mensinergikan kebijakan yang dibuat. Terdapat pertentangan logika antara himbauan hemat energi dengan cara mematikan lampu rumah di malam hari, terhadap himbauan untuk (justru) menyalakan lampu sepeda motor di siang hari.

Pembuat kebijakan tentu berpendapat bahwa kedua peraturan tersebut tidak bisa dibandingkan begitu saja, quad non. Sehingga tidak akan ada kontradiksi apapun di antara keduanya. Masing-masing peraturan memiliki logika dan ”yurisdiksi” yang berbeda-beda. Tetapi yang tak cukup disadari pembuat kebijakan adalah masyarakat tidak mau bersusah-payah mengembangkan logika yang berbeda untuk setiap peraturan. Masyarakat hanya memiliki satu logika terhadap segala macam peraturan: ”ikuti saja peraturannya, karena satu suara tidak akan bisa mengubah apapun”.

Prinsip ini ditunjukkan melalui kisah saat sepasang anggota masyarakat ini mengurus surat di sebuah departemen. Di meja pertama mereka membayar ceban untuk layanan petugas yang hanya berupa menyusun berkas. Di meja kedua, Benny dan Mice ”dipalak” dua puluh ribu rupiah untuk jasa pengetikan lima lembar berkas. Di meja ketiga, mereka kembali merogoh kocek sepuluh ribu rupiah sebagai uang pengganti map. Selanjutnya di meja bagian pemanggilan, sebelum petugas sempat berucap sepatah katapun, duo naif ini menyerah. ”Habis ini, masih ada berapa meja lagi Pak? Kami nyerah deh..,” kata mereka sembari menempelkan koin gopek di dahi, menunjukkan kantong celana yang telah kosong, dan mengibaskan sapu tangan putih tanda menyerah.

Kedua satire terhadap pembuat peraturan di atas hanyalah sekeping kritik sosial mereka. Secara berimbang mereka mengangkat fenomena lain yang bergantian menerpa masyarakat Indonesia, terutama Jakarta sebagai trend setter. Antara lain tren celana boxer, tren data storage sebagai aksesoris, isu kolor ijo, kacamata tiga dimensi, tukang gendam, dan banyak lagi yang lain.

Kritik yang dilontarkan keduanya cukup mendalam. Bukan melulu secara informatif mengatakan fenomena apa (what) yang terjadi, namun juga memaksa kita –pembaca– untuk berpikir bagaimana (how) dan mengapa (why) fenomena tersebut terjadi.

Bukan hal mudah memahami perilaku masyarakat Jakarta, tetapi Benny dan Misrad mampu melakukannya. Melalui lebih kurang 125 rangkaian gambar, keduanya membuktikan diri sebagai kartunis yang memiliki kepekaan seorang sosiolog.

Tentu pengalaman banyak berperan dalam mengasah ketajaman ”mata sosial” mereka. Sekurangnya kedua kartunis ini, yang bernama asli Benny Rachmadi dan Muhammad Misrad, telah belajar dan berkarya sebelum kelulusan mereka tahun 1993 dari Jurusan Desain Grafis Institut Kesenian (IKJ) Jakarta. Malang melintang di dunia grafis, kemudian membidani kelahiran Kartun Benny & Mice yang hadir saban Minggu di harian Kompas sejak tahun 2003.

Karya-karya yang dihadirkan kedua kartunis ini menjadi semacam petisi, bukan hanya  kepada pemerintah,  melainkan ditujukan kepada kita –stake holder Jakarta. Petisi yang mengajak legislatif untuk lebih arif membuat kebijakan; mengajak implementor agar menerapkan kebijakan secara jujur; sekaligus meminta masyarakat menyikapi segala fenomena dengan lebih cerdas dan kritis.

”Silver bird atau bajaj… town house atau kontrakan… tuna sandwich atau toge goreng… senang… susah… life goes on….” Ungkapan mereka terdengar seperti kepasrahan, tetapi sebenarnya membunyikan genta jauh di lubuk hati kita, mengajak untuk berubah demi hari esok yang lebih baik.

Selamat berkaca pada Kartun Benny & Mice!!

 

[Mardian Wibowo. Penikmat buku, tinggal di Jakarta]


[1] Dimuat (dengan revisi) di harian Media Indonesia, Sabtu, 3 November 2007.

Single Post Navigation

One thought on “Petisi Benny Rachmadi dan Muh Misrad untuk Jakarta

  1. ayuk ay on said:

    saya sangat suka kisah-kisah dlm komik benny & mice… lucu, unik, dan jujur….
    applaus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: