selaksa makna

seperti kata-kata, hidup memiliki ribuan makna di baliknya..

Lima Tahun Hidup Bersama

Lima Tahun Hidup Bersama[1]

 

 

Data Buku

Judul                 : Pembentukan dan Pembubaran Uni

Pengarang         : Mr. Muhammad Yamin

Penerbit            : Bulan Bintang, Jakarta

Tahun               : –

Tebal                : 64 halaman

 

 

 

De Nederlands-Indonesische Unie wordt ontbonden; het Uniestatuut wordt vervallen verklaard. (Artikel I)

 Uni Indonesia-Nederland dibubarkan; Statut Uni dihapuskan. (Pasal I)

 

 Kutipan dalam dua bahasa, Nederland (Belanda) dan Indonesia, di atas adalah bunyi Pasal I Protokol Pembubaran Uni Indonesia-Nederland yang ditandatangani Delegasi RI dan Delegasi Kerajaan Nederland 10 Agustus 1954.

 

Lebih kurang lima tahun sebelumnya, 1949, peperangan yang panjang memaksa kedua negara bertemu dalam meja perundingan di Den Haag dan menghasilkan tiga butir kesepakatan. Kesepakatan pertama menyatakan dilakukan serah terima kedaulatan dari pemerintah kolonial Belanda (kerajaan Nederland) kepada Republik Indonesia Serikat, kecuali untuk wilayah Papua Barat. Kesepakatan kedua, dibentuk sebuah persekutuan Belanda-Indonesia, dengan monarch Belanda sebagai kepala negara. Kesepakatan ketiga, pengambilalihan hutang Hindia Belanda oleh Republik Indonesia Serikat.

 

Kesepakatan di atas dirumuskan dalam sebuah konferensi yang bertajuk Konferensi Meja Bundar, atau sering disebut dengan singkat KMB. Memang konferensi tersebut mengakhiri penjajahan a la militer Nederland atas Indonesia, namun penjajahan secara politis tidak serta merta berakhir.

 

Kesepakatan kedua dari tiga kesepakatan KMB, yaitu mengenai pembentukan Uni (persekutuan) Indonesia Belanda dengan Ratu Belanda sebagai kepala negara, meletakkan Indonesia sebagai pihak yang subordinat. Kerjasama antara Indonesia-Belanda yang meliputi hubungan luar negeri, pertahanan, keuangan, perekonomian, dan kebudayaan, seharusnya berjalan dengan seimbang. Namun bagi pihak Indonesia, pelaksanaan kerjasama tersebut mengurangi kedaulatan Indonesia sebagai negara merdeka. Bahkan penulis buku ini, Muhammad Yamin, mengatakan hubungan Uni tersebut sebagai ”duri dalam daging” bagi pertumbuhan Republik yang masih belia.

 

Setelah lima tahun mengikat hubungan sederajat yang (prakteknya) tak setara, akhirnya digagas pembubaran Uni Indonesia-Belanda. Untuk membicarakan lebih lanjut, antara 28 Juni sampai dengan 10 Agustus 1954 diadakan konferensi setingkat menteri antara kedua negara di Den Haag. Perundingan kedua delegasi, delegasi Indonesia dipimpin Mr. Sunario dan Beanda dipimpin Mr.Luns, menghasilkan persetujuan pembubaran Uni.

 

Dalam buku ini Muhammad Yamin menguraikan beberapa hal mendasar yang memunculkan gagasan dibubarkannya Uni Indonesia-Belanda. Hal tersebut antara lain Indonesia menganggap Belanda tidak beritikad memecahkan masalah Irian Barat yang masih diduduki Belanda –dalam pengakuan kedaulatan Indonesia di KMB, Belanda tidak mengakui Irian Barat sebagai bagian Indonesia. Status Ratu Juliana sebagai kepala Uni Indonesia-Belanda juga dirasa mengganggu kedaulatan Indonesia. Sementara, tidak kalah pentingnya, bentuk Uni ternyata mengurangi kedaulatan Indonesia di bidang ekonomi dan keuangan.

 

Buku yang ditulis sekitar dasawarsa pertama kemerdekaan Indonesia ini bukanlah sebuah buku sejarah yang berisi kronologis peristiwa di seputar pembubaran Uni. Buku ini lebih tepat jika disebut kumpulan dokumen kesepakatan pembentukan serta pembubaran Uni. Namun tidak diterangkannya peristiwa-peristiwa di seputar Konferensi Meja Bundar –konferensi yang menjadi akar kelahiran dan pembubaran Uni– bukan hal yang sangat mengganggu. Buku-buku rujukan lain tentang sejarah Indonesia cukup mudah didapatkan di pasaran. Dengan sedikit membuka-buka rujukan lain, kita akan bisa memahami latar belakang buku Muhammad Yamin tentang pembubaran Uni Indonesia-Belanda.

 

Di tengah kelangkaan dokumentasi peristiwa-peristiwa penting awal kemerdekaan, kehadiran buku Muhammad Yamin sangat membantu. Sedikit banyak, 64 halaman buku ini membantu merekonstruksi sejarah politik dan ketatanegaraan Indonesia; menunjukkan bahwa sejak mula haluan negara ini dikendalikan dalam tantangan serta kesulitan yang teramat besar.(mardian)


[1] Dimuat dalam rubrik “Pustaka Klasik”, majalah Konstitusi: Berita Mahkamah Konstitusi, No. 22 Maret-April 2008

Single Post Navigation

One thought on “Lima Tahun Hidup Bersama

  1. TAHANK YOU INFONYA.. JADI BISA KERJA TUGAS DEH…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: