selaksa makna

seperti kata-kata, hidup memiliki ribuan makna di baliknya..

Pasar Buku, Ikon yang Tergusur

 

Mengganggu ketertiban dan merusak keindahan. Kedua pertimbangan tersebut sering dikemukakan sebagai alasan setiap penggusuran. Entah apakah pertimbangan itu pula yang dipakai sebagai landasan menggusur pasar buku di belakang kampus IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Hal yang pasti, pasar buku dimuka cafetaria sudah tidak ada lagi. Sepertinya juga tidak ada relokasi, karena sampai saat ini belum diketahui kemana pindahnya pedagang-pedagang buku tersebut.

Membicarakan keadilan dalam penggusuran akan menjadi lingkaran tanpa ujung. Hak untuk hidup sebagian pedagang tentu akan dibenturkan dengan kenyamanan masyarakat luas. Terlebih kenyamanan pemilik lahan dimana mereka menggelar buku-buku dagangannya.

Tanpa mengecilkan arti kerisauan pihak-pihak yang terlibat, tulisan ini tidak akan membicarakan konsep keadilan. Serta tidak juga bermaksud menggugat kewenangan IAIN untuk menata wilayah kampus mereka. Hanya mencoba melihat sisi terlupakan dari penggusuran pasar buku.

Dalam penggusuran tersebut, ikut serta terusir sebuah ikon intelektualitas. Ikon yang menandakan bahwa Yogyakarta adalah kota pendidikan, sumber ilmu pengetahuan. Andai diurai, maka predikat kota pendidikan yang disandang Yogyakarta setidaknya dibentuk oleh tiga unsur.

Pertama, yang paling menonjol, adalah banyaknya institusi pendidikan. Bermacam institusi pendidikan tinggi ada di Yogyakarta, mulai dari universitas, akademi, diploma, kursus, sampai bimbingan belajar.

Atas pengaruh unsur pertama dimuka, munculah unsur kedua, yaitu penerbitan buku. Yogyakarta memiliki banyak penerbit buku, meskipun tidak bisa disangkal bahwa sebagian besar dari mereka adalah penerbit musiman. Artinya, penerbit tersebut tidak secara rutin menerbitkan buku, tetapi tergantung pada ketersediaan dana yang dimiliki. Bahkan, beberapa penerbit hanya sempat menerbitkan satu atau dua judul, lalu gulung tikar.

Keterbatasan dana, lebih lanjut akan membatasi distribusi buku, akhirnya justru memunculkan eksklusifitas. Buku-buku tertentu (penerbit lokal) hanya bisa didapatkan di Yogyakarta. Kondisi demikian mencuatkan Yogyakarta sebagai sumber buku alternatif, kemudian membawa efek domino dengan memunculkan pasar-pasar serta toko-toko buku murah.

Pasar dan toko buku murah menjadi unsur/ikon ketiga yang menguatkan predikat Yogyakarta sebagai kota pendidikan. Bagi penggemar buku, kemunculan pusat-pusat buku murah merupakan jawaban atas semakin mahalnya harga buku. Kehadiran pusat-pusat buku murah bisa membantu kantong tipis pembaca.

Bahkan, bukan hanya masyarakat Yogyakarta yang menikmati kondisi demikian. Banyak pengunjung pasar buku datang dari luar kota, seperti Purwokerto, Semarang, Solo, bahkan Malang dan Surabaya.

Yogyakarta memiliki tiga lokasi yang bisa disebut pasar buku: Shoping Centre simpang empat Gondomanan, pasar buku Terban, serta pasar buku belakang kampus IAIN. Dari ketiga pasar tersebut, IAIN menjadi tempat yang paling rentan dalam hal penggusuran. Karena status pedagang-pedagang buku disana hanyalah penghuni ilegal. Bahkan, beberapa bulan terakhir pasar buku IAIN menghilang karena kegiatan pembangunan kampus dilokasi tersebut.

Sekali lagi, tulisan ini bukan hendak menggugat kewenangan IAIN. Karena memang pedagang-pedagang tidak memiliki sedikitpun hak menempati lokasi kampus. Namun disayangkan, “pengusiran” tersebut ikut menghapus satu aset penting kota Yogyakarta.

Intangible asset, sebutan dari sisi marketing untuk citra kota pendidikan. Citra kota  yang ikut dibangun oleh ikon-ikon kecil berupa pasar buku. Kehilangan salah satu pasar buku merupakan kerugian besar kota, khususnya IAIN.

Pedagang buku yang melakukan okupasi (pendudukan) ilegal cenderung dilihat sebagai parasit. Padahal, jika mau lebih bijak, keberadaan pasar buku “liar” di lingkungan kampus bisa menjadi simbiosis mutualisme.

Simbiosis, dari segi ekonomi menguntungkan pedagang buku, sementara disisi lain mengangkat citra kampus yang ditumpangi. Bahkan, sebagai perbandingan, universitas sekelas Gadjah Mada merasa perlu membangun mall buku di jalan Simanjuntak untuk mengangkat citra intelektualnya.

Sumbangsih pedagang-pedagang buku “liar” bagi citra kota tak jua disadari, selalu dituduh melulu bermotif ekonomi. Akhirnya muncul blunder, seperti kebijakan IAIN yang justru mengingkari potensi pasar buku “liar” dikampusnya.

Civitas Yogyakarta patut berduka untuk ikon intelektualitas yang tergusur. Sebelum nasi benar-benar menjadi bubur, pihak-pihak bersangkutan sebaiknya mawas diri serta lebih menajamkan pandangan jauh kedepan.

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: