selaksa makna

seperti kata-kata, hidup memiliki ribuan makna di baliknya..

Reposisi Membangun Eksistensi

Reposisi Membangun Eksistensi[1]

Keraton, dimasa kejayaannya, menjadi pusat kegiatan politik, ekonomi, sosial, kebudayaan, dan segala aspek kehidupan masyarakat. Membandingkannya dengan kehidupan masyarakat sekarang, keraton jelas telah kehilangan legitimasinya, kecuali tentu saja bagi sebagian kecil masyarakat Indonesia.

Membicarakan relevansi keraton, terlalu pe-de untuk mengatakan bahwa keraton masih memilikinya. Keraton sudah kehilangan relevansinya, bahkan dalam semua bidang kehidupan. Kehidupan politik keraton (dalam hubungannya dengan masyarakat luas) jelas telah tercerabut bersamaan dengan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan melihat contoh nyata Keraton Yogyakarta dan Pakualaman, kekuasaan politik keraton hanya menyisakan jabatan gubernur serta wakil gubernur. Tetapi jabatan tersebut, mengingat tingkat rasionalitas masyarakat pemilih Yogyakarta, sebenarnya sama sekali bukan didasarkan pada nuansa keraton melainkan pada kualitas pribadi yang “kebetulan” terpublikasikan dengan baik karena posisinya sebagai penguasa keraton.

Dari segi ekonomi, keraton-keraton di Indonesia tidak terlihat memiliki sumbangan berarti bagi tingkat pertumbuhan ekonomi di wilayah masing-masing. Bahkan beberapa keraton untuk sekedar berada di posisi subsisten-pun sudah tidak mampu. Bukannya meningkatkan perekonomian, keraton justru menjadi beban bagi masyarakat sekitarnya, terutama para abdi dalem yang demi pengabdian serta kebanggaan rela hidup serba pas-pasan bahkan kekurangan.

Di beberapa tempat, keraton menjadi pusat (dikelilingi) industri-industri kerajinan. Kemunculan industri-industri seni yang diklaim sebagai bentuk pengaruh keraton atas perekonomian masyarakat memang tidak bisa dibantah. Tetapi harus dilihat skalanya relatif kecil, belum mampu melibatkan lebih banyak pelaku pasar apalagi sampai menciptakan pola ekonomi baru.

Bisnis keraton sekarang hanyalah berada pada tataran mengelola/memanfaatkan aset-aset yang dimiliki dan belum beranjak pada tataran menambah/mengembangkan aset. Kegiatan perekonomian internal keraton sendiri terbatas pada mengadakan festival-festival atau pertunjukan-pertunjukan yang bersifat temporer belaka, tidak ditemui adanya kegiatan perekonomian berskala besar dan berkelanjutan. Beruntunglah keraton yang masih memiliki aset besar seperti sultan ground di Yogyakarta, setidaknya bisa disewakan untuk menambal neraca keuangan keraton. Memilukan ketika keraton-keraton yang tanpa aset tanah, terpaksa menjual benda-benda peninggalan untuk mempertahankan eksistensi mereka.

Hidup dari menjual benda-benda peninggalan, bisa bertahan sampai kapan?

Segi sosial-budaya keraton juga tidak bisa diharapkan memberi cukup sumbangan bagi perkembangan mental-spiritual masyarakat. Belum lama masyarakat disuguhi drama konflik perebutan kekuasaan di salah satu keraton Jawa, dan hal tersebut sama sekali bukan contoh yang baik. Bagaimana mungkin masyarakat bisa tetap berkiblat pada keraton dalam hal etika serta teladan hidup, jika menyelesaikan konflik internal saja keraton sudah tidak sanggup. Bagaimana petinggi-petinggi keraton bisa tetap menjadi panutan, ketika yang terlihat dari mereka hanya ambisi pribadi tanpa konsep pengembangan masyarakat yang jelas.

Keraton adalah axis mundi secara spiritual, yaitu (simbol) poros penghubung antara dunia dengan alam tuhan pencipta. Dalam kasus perebutan kekuasaan diatas, yang terjadi adalah simbol yang saling memperebutkan makna, petinggi-petinggi keraton  saling berebut makna “penuntun rakyat” untuk dilekatkan pada diri mereka sendiri. Akibatnya kontraproduktif, makna yang diperebutkan menghilang dan mereka hanya menjadi simbol-simbol kosong belaka.

Melihat budaya dari sisi non-spiritual-pun, tak banyak yang bisa diharapkan. Keraton-keraton memang cukup kaya akan kesenian-kesenian, pertunjukan-pertunjukan tari, wayang, upacara adat, dan sebagainya. Tetapi pernahkah keraton sebagai pusat budaya menciptakan trend budaya baru selain hanya berupaya nguri-uri (melestarikan) budaya lama? Keraton terjebak pada pemahaman pusat budaya melulu sebagai tempat untuk mempergelarkan kesenian-kesenian peninggalan nenek moyang yang bersifat fisik, dan melupakan sisi lainnya yang justru krusial yaitu pikiran (mind).

Cultural studies mengajarkan bahwa realitas kekuasaan sebenarnya dipegang oleh pihak yang bisa melakukan hegemoni budaya, yaitu menciptakan, mempopulerkan, serta membuat masyarakat menganggap budaya tersebut sebagai hasil olah pikir mereka sendiri. Pernahkan keraton berupaya melakukan perubahan pada pola pikir masyarakat?

Melihat pertunjukan-pertunjukan seni keraton, rasanya seperti membuka lambaran-lembaran arsip lama. Memicu memori, mendatangkan kenangan masa lalu, menina-bobokan dengan membuat masyarakat berbangga diri akan kejayaan yang sebenarnya sudah tidak relevan untuk dipergunakan memecahkan masalah-masalah kotemporer. Fungsi keraton sebagai pusat budaya tergeser telak menjadi museum budaya belaka, tidak pernah ada pencerahan pikir diciptakan. Padahal budaya adalah perpaduan antara jasmani dan rohani, antara fisik dan psikis, antara olah tubuh dan olah pikir.

Keberadaan keraton ternyata tidak lagi mampu memberikan alternatif sudut pandang serta alternatif pemecahan atas masalah-masalah yang dihadapi masyarakat. Sekali lagi, keraton dengan segala peninggalannya tak ubahnya tumpukan artefak yang hanya bisa dilihat dan disentuh, tanpa bisa kepadanya dilakukan interaksi pikir.

Melihat keadaan demikian, janganlah dulu bertanya tentang relevansi keraton bagi masyarakat, pertanyaan yang paling mendasar adalah apakah keraton sendiri masih ada. Keraton sudah tidak ada di Indonesia, yang ada hanyalah sisa-sisa peninggalannya. Hakikat keraton adalah hubungan berjalin-kelindan antara posisinya sebagai pusat politik, pusat ekonomi, serta pusat sosial dan budaya sekaligus. Ketika hubungan tersebut dipecah-pecah dan saling dilepaskan satu sama lain, maka saat itu juga keraton telah kehilangan jatidirinya.

Namun kematian keraton bukan harga mati, kondisi kemunduran/kematian tersebut bisa dibalik menjadi keunggulan. Untuk mewujudkannya, keraton harus bekerja keras mereposisi peran mereka dalam masyarakat. Keraton jangan hanya nguri-uri kebudayaan fisik semata, melainkan harus lebih peka menangkap kebutuhan psikis-spiritual masyarakat. Kebutuhan psikis-spiritual yang harus dijawab keraton dengan mengajukan alternatif-alternatif pemikiran untuk menyelesaikan masalah kontemporer atau mengajukan diri sebagai teladan moral dan tingkah laku.

Keraton-keraton Indonesia jelas bukan tempat terakumulasinya modal, sehingga terlalu riskan untuk menjaga eksistensi melalui kegiatan-kegiatan materiil. Satu-satunya terobosan bagi keraton adalah bermain diarea psikis-spiritual, karena yang dibutuhkan masyarakat saat ini adalah pencerahan pikir-sikap-tingkah laku.(mw)


[1] dimuat di Harian Kompas Edisi Jawa Tengah, Rubrik Akademia, Kamis, 07 Oktober 2004

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: