selaksa makna

seperti kata-kata, hidup memiliki ribuan makna di baliknya..

“Perbandingan Sistem Hukum Hindia-Belanda dengan Indonesia”

Data Buku

Judul              : Sistim Hukum di Indonesia (Sebelum Perang Dunia II)

Pengarang      : Prof. Dr. R. Supomo

Penerbit          : Noordhoff-Kolff N.V., Jakarta

Tahun             : 1957, cetakan ketiga

Tebal               : xi + 123 halaman

  

”Even in so called revolutionary periods the old and the new are blended”

(pun, di zaman revolusi adalah suatu kenjataan, bahwa hal-hal jang lama dan hal-hal jang baru adalah tjampur baur)

-Karl Mannheim dalam Supomo (hal. i)-

 

Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945 -atau dalam perspektif lebih luas disebut sebagai masa awal kemerdekaan- banyak disebut sebagai salah satu milestone perkembangan hukum Indonesia. Apakah tepat jika perkembangan ini lebih dimaknai sebagai penggantian hukum? Atau mungkin terdapat pemaknaan lain yang lebih tepat?

Supomo melalui buku Sistim Hukum di Indonesia (Sebelum Perang Dunia II) ingin mengungkapkan kompleksitas perkembangan sistem hukum Indonesia (sebelum merdeka bernama Hindia Belanda) sebelum Perang Dunia II. Diterbitkannya buku ini pada tahun 1957 menunjukkan bahwa Supomo ingin (pembaca) melakukan suatu perbandingan antara sistem hukum Hindia-Belanda sebelum Perang Dunia II dengan sistem hukum Indonesia setelah Perang Dunia II.

Seolah-olah Supomo menggarisbawahi kenyataan bahwa di bawah pemerintahan baru, yaitu Pemerintah Republik Indonesia, sistem hukum lama tidak langsung diganti. Banyak hukum lama peninggalan penjajah Belanda yang dipergunakan kembali dengan atau tanpa revisi.

Hukum Belanda -baik yang dibuat sendiri maupun adopsi- yang diterapkan di Hindia Belanda, menurut Supomo, memegang peranan krusial dalam penciptaan ketertiban masyarakat di masa itu. Beberapa di antara hukum tersebut adalah Burgerlijk Wetboek Hindia Belanda; Reglement op de Burgerlijke Rechtsvordering; Wetboek van Strafrecht; Reglement op de Strafvordering; beberapa asas hukum adat materiil; hukum acara perdata landraad; hukum acara regentschapsgerecht dan districtsgerecht; hukum acara perdata pengadilan pribumi di daerah luar Jawa dan Madura; hukum acara perdata pengadilan swapraja; hukum acara pidana landraad; hukum acara pidana landgerecht; hukum acara pidana pengadilan pribumi; dan hukum acara pidana pengadilan daerah swapraja.

Salah satu contoh terkait perkembangan sistem hukum, yang bisa dibandingkan adalah, pada masa sebelum Perang Dunia II di Hindia-Belanda terdapat lima jenis peradilan. Kelima jenis peradilan tersebut adalah Peradilan Gubernemen, Peradilan Pribumi, Peradilan daerah-daerah Swapraja, Peradilan Agama, dan Peradilan Desa. Sementara setelah Indonesia merdeka, semua peradilan disatukan di bawah Mahkamah Agung yang kemudian demi efektivitas membagi kembali peradilan menjadi empat jenis, yaitu Peradilan Umum, Peradilan Agama, Peradilan Militer, dan Peradilan Tata Usaha Negara.

Beberapa dari (bentuk) peradilan yang ada di masa Hindia-Belanda masih tetap diadopsi sampai saat ini. Namun beberapa jenis peradilan lain tidak dipertahankan karena tidak sesuai dengan tata hukum sebuah negara kesatuan yang merdeka.

Selain peradilan, keterhubungan hukum antara masa sebelum dan setelah Perang Dunia II meliputi juga peraturan perundang-undangan. Dengan menguraikan ragam  peraturan perundang-undangan era pendudukan Belanda, Supomo mengajak pembaca untuk membandingkan dengan ragam hukum saat ini. Ternyata banyak peraturan perundang-undangan yang disebutkan Supomo masih tetap dipakai saat negara Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Bahkan beberapa masih dipergunakan hingga lebih dari lima puluh tahun setelahnya, antara lain saduran Burgerlijk Wetboek atau Kitab Undang-undang Hukum Perdata; Wetboek van Strafrecht atau Kitab Undang-undang Hukum Pidana; hukum acara; dan lain sebagainya.

Dari sisi sistematika pembahasan, Supomo membagi buku ini dalam lima bab. Secara berurutan bab pertama yang berjudul “Rakjat Indonesia” membahas mengenai kewarganegaraan Belanda yang mendasarkan pada UU 28 Juli 1850 Staatsblad No. 44 yang diubah dengan UU 3 Mei 1851 Staatsblad No. 46, dan Pasal 5 Burgerlijk Wetboek Tahun 1838. Selain itu hal-hal yang berkaitan dengan dikotomi penduduk negara dan bukan penduduk negara; serta pembedaan rakyat atas tiga golongan: Eropah, Bumiputera, dan Timur Asing; dibahas pula dalam bab ini.

Bab kedua yang berjudul “Urusan Hukum” membahas mengenai ragam peradilan yang ada di Hindia-Belanda pada masa itu. Seperti telah disebutkan di muka, peradilan masa Hindia-Belanda terdiri dari Peradilan Gubernemen, Peradilan Pribumi, Peradilan daerah-daerah Swapraja, Peradilan Agama, dan Peradilan Desa.

“Hukum jang harus Diperlakukan dan Atjara dari Pengadilan” menjadi judul dari bab ketiga. Sesuai dengan judulnya, bab ini membahas hukum acara yang dipergunakan oleh masing-masing lima peradilan.

Kemudian bab keempat diberi judul “Penundukan atas Kemauan Sendiri kepada Hukum Perdata Eropah”. Pembahasan mengenai penundukan antara lain meliputi cara dan maksud penundukan; seputar hukum campuran yang berlaku; serta peraturan perundang-undangan mengenai penundukan hukum tersebut.

Bab lima berjudul “Asas-Asas terpenting dari Tatanan Hukum sebelum Perang jang berlaku di Hindia Belanda”. Dalam bab terakhir ini Supomo melakukan inventarisasi terhadap asas-asas hukum terpenting yang berlaku pada masa itu.

Dengan menjelaskan sistem hukum Indonesia sebelum Perang Dunia II, Supomo ingin ”… menginsafi benar-benar djalannja perkembangan proses pembaharuan sistim hukum di Indonesia …” Sekali lagi, hal ini dilakukannya agar pembaca sekalian dapat melakukan analisa mengebai pengaruh sistem hukum Hindia-Belanda terhadap perkembangan sistem hukum Indonesia dewasa ini. (mw)

Single Post Navigation

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: