selaksa makna

seperti kata-kata, hidup memiliki ribuan makna di baliknya..

Keresahan Dalam Stiker Plesetan Jorok

Keresahan Dalam Stiker Plesetan Jorok

Goenawan Mohammad memberi definisi plesetan (kurang lebih) sebagai kemahiran spontan orang Jawa untuk menempatkan satu kata atau kalimat yang mendadak arti dan nuansanya menjadi lain. Bahkan pada beberapa kasus, plesetan cerdas mampu menciptakan kontras arti dan nuansa.

Comedy of error, demikian Christanto P Rahardjo (Prisma, Januari 1996) menyebut “seni” mengolah nuansa tutur ini. Disebut comedy of error tidak lain karena kelucuan yang diharapkan timbul adalah kelucuan yang berasal dari kesengajaan untuk (terlihat) tidak sengaja meniadakan hubungan logis antar kalimat.

Plesetan pertama kali dipopulerkan melalui tuturan berwujud dagelan politik yang berangkat dari tutur/ucapan/kata-kata. Kemudian berkembang pesat sebagai sebuah bentuk perlawanan diam-diam atau samar-samar terhadap represi penguasa atau kekuatan lain yang dominan. Mudahnya, plesetan bisa disebut sebagai satire khas Jawa.

Bertambahnya waktu, membawa plesetan semakin berkembang, diterima luas oleh masyarakat. Kini, tuturan plesetan tidak lagi didominasi materi politik, tetapi hampir semua strata masyarakat mengenal dan melafalkan plesetan dalam kehidupan sehari-hari terhadap semua topik perbincangan.

Bahkan plesetan tutur ala Yogyakarta telah dijadikan komoditas dengan memberinya bentuk baru yaitu plesetan tercetak (print media). Contoh tersohor dari komoditas plesetan cetak Yogyakarta adalah Dagadu. Sebuah merk (awalnya) baju yang khusus menjual baju dengan desain serba error.

Sekarang plesetan sudah mengalami perluasan dan penganekaragaman bentuk. Bukan lagi melulu tutur (kata-kata), tetapi telah berkembang pula plesetan visual, terdiri dari gambar, tanda, atau simbol.

Gambar-gambar mapan, dalam arti telah dikenal luas sebagai identitas institusi tertentu, diplesetkan dengan desain yang tetap mengingatkan penonton/penikmat pada bentuk dan makna sebenarnya dari gambar tersebut. Karena memang disinilah kunci keberhasilan plesetan. Baik plesetan tutur maupun visual, harus berhasil mempertahankan hubungan asosiatif antara obyek asli dengan plesetannya.

Komoditas plesetan semakin jeli meraih pangsa pasar dengan meruahnya stiker-stiker plesetan. Anda bisa mudah menemukan stiker plesetan nama sebuah café terkenal menjadi “Bagus Dhewe” (paling ganteng), atau judul lagu grup band Queen yang diplesetkan menjadi “Too Much Study Will Kill You”.

Perbedaan karakter mencolok dari plesetan tutur dengan plesetan visual terletak pada perlakuan terhadap proses penciptaannya. Pada plesetan tutur, proses terbentuknya plesetan ditampilkan sekaligus dalam satu kemasan pertunjukan. Alur pertunjukan plesetan tutur diawali perbincangan serius, lalu terjadi pergulatan intelektualitas timpang, dan munculah plesetan sebagai klimaks dari  perbincangan.

Sementara dalam plesetan visual, proses “kreatif” terbentuknya plesetan sama sekali tidak diperlihatkan. Alasan utamanya, satu gambar tidak akan cukup membingkai urut-urutan proses terbentuknya plesetan. Disini penonton/penikmat dianggap sudah memiliki banyak referensi tentang gambar/simbol/tanda apapun. Sehingga, hanya dengan melihat visualisasi plesetannya (lalu mengasosiasikan dengan referensi masing-masing), penonton dapat menikmati kelucuan yang ditampilkan.

 

Stiker-stiker jorok

Terbaru, yang sedang marak dijalan-jalan Yogyakarta adalah stiker-stiker plesetan saru alias jorok/porno. Desain stiker café yang disebutkan sebagai contoh diatas, disini kembali menjadi salah satu korban dengan diplesetkan menjadi “Sarkem, Sarang …., Pusat Jajan dan Olah Raga”, atau stiker dengan desain mirip rambu lalu lintas tetapi gambar didalamnya tidak berkenaan sama sekali dengan lalu lintas, melainkan (maaf) siluet orang berhubungan badan.

Munculnya stiker-stiker plesetan jorok tersebut, disadari atau tidak, mengurangi prestise plesetan yang semula terkesan cerdas menjadi plesetan yang asal error. Lebih lanjut memunculkan dikotomi antara plesetan mapan/sopan (sebenarnya dahulu merupakan anti kemapanan terhadap kondisi politik otoriter) dengan plesetan anti kemapanan/jorok.

Siker-stiker plesetan jorok merupakan gejala untuk meruntuhkan konvensi pakem plesetan. Bisa jadi keinginan meruntuhkan pakem plesetan merupakan reaksi atas semakin mahalnya biaya untuk menikmati plesetan. Aktor-aktor plesetan semakin jarang tampil murah ditengah masyarakat, pun desain-desain plesetan ikut-ikutan mematok harga jual tinggi.

Plesetan sopan semakin mengarah pada kondisi mapan, yaitu suatu kondisi yang memunculkan “aturan baku” tentang bagaimana mleset yang baik. Pengaturan yang penuh dengan etika serta estetika bagaimana bersopan-santun dalam sebuah comedy of error. Suatu pertunjukan error yang diskenario sedemikian rupa, sehingga bagi para pelaku pertunjukan tersebut, error yang terjadi bukan lagi sesuatu yang segar, murni dan kepleset alami. Melainkan telah menjadi adegan error/kepleset yang serba terukur secara sistematis, serta temanya diulang-ulang. Perulangan adegan layak jual yang menjadi ciri utama komodifikasi plesetan.

Padahal comedy of error ini muncul dan dikembangkan dari keresahan masyarakat kecil tertindas. Sebuah tontonan yang mencoba membedakan diri dengan cara melepaskan kelaziman yang ada. Tujuan menggoyang kemapanan kelas penguasa pada awal kemunculannya, menjadikan plesetan menjadi tontonan yang butuh “keberanian” khusus untuk memproduksi serta mengkonsumsinya.

Kemungkinan kedua, stiker-stiker plesetan jorok tersebut muncul sebagai ekspresi dari desainer-desainer yang selama ini tidak diterima eksistensinya. Maka motif desain yang cenderung asal beda dan dijual murah menjadi pintu untuk keluar menuju kerinduan akan keberadaan mereka, serta tentu saja memenuhi kebutuhan ekonomis.

Stiker jorok memiliki setidaknya dua jenis desain, pertama adalah desain yang menampilkan kata-kata/tuturan, dan jenis kedua adalah desain yang hanya menampilkan gambar/ikon saja. Desain yang hanya menampilkan gambar/ikon tanpa keterangan kata-kata, membutuhkan penalaran yang lebih kuat dibanding desain yang memasukkan kata-kata didalamnya. Karena itu desain gambar/ikon dianggap lebih punya kelas dibanding desain hanya kata-kata.

Hal tersebut terlihat dari karakteristik konsumen/penikmat. Desain jenis pertama banyak diminati oleh remaja dengan latar pendidikan rendah, sementara jenis kedua banyak diminati oleh remaja berlatar pendidikan relatif tinggi.

Kemunculan gaya hidup/seni yang ingkar terhadap kelaziman bukan fenomena baru. Gejala seperti ini sudah lama ada dan selalu mendampingi keberadaan gaya hidup yang dianggap tidak cukup lagi menampung ekspresi sebagian anggota masyarakat.

Karena itu, diperlukan kearifan masyarakat dalam menyikapi kemunculan stiker jorok. Memang serba salah, antara membiarkan tumbuh kembangnya stiker jorok yang mengusik rasa susila. Atau mengambil sikap menghentikan tumbuh-edarnya stiker tersebut yang berarti suatu tindakan represi terhadap sekelompok kecil masyarakat.

Represi tidak pernah mampu menyelesaikan masalah. Stiker jorok merupakan ungkapan hati mereka untuk bertindak bebas dan vulgar, keinginan yang selama ini selalu ditekan oleh norma. Melakukan represi atas stiker-stiker tersebut, bisa jadi justru akan memunculkan perlawanan yang jauh lebih hebat dalam bentuk lain.

Gaya hidup bukanlah sesuatu yang muncul tiba-tiba tanpa alasan, lalu mati begitu saja tanpa sebab. Gaya hidup sebagai ekspresi diri hanya bisa usang dan menghilang jika ada bentuk ekspresi/penyaluran baru yang lebih cocok serta mengena. (Jogja, 19 Maret 2005)

About these ads

Single Post Navigation

2 thoughts on “Keresahan Dalam Stiker Plesetan Jorok

  1. tergelitik oleh pernyataan di akhir2 tulisan, dikotomi remaja berpendidikan ‘rendah’ dan ‘relatif tinggi’.. is it? Jadi teringat obrolan kita tentang tulisan2 yang sering nempel di gerobak atau angkot. ada yg “doa ibu” “gadis pujaanku” “bojo loro” dll, semuanya mewakili sisi diri terdalam dari masing-masing empunya gerobak/ angkot/ truk (kalau kesimpulan kita waktu itu sih, tulisan2 macam itu jadi semacam simbolisme masa lalu, tempat setiap orang bisa melarikan diri dari tekanan hidup yang paling aman murah meriah, karena masa lalu itu mutlak milik sendiri. meski agak berbeda dari konteks itu, tapi para sopir angkot/ truk memang (nampaknya) lebih puas dengan menempelkan gambar atau tulisan yang berbau-bau agak porno. kebetulan di jalan2 muntilan sana agak banyak truk lalu lalang, tak sedikit melukis ‘pameran badan perempuan’ di bodi truk dengan berbagai pose. selain itu, stiker2 yang ‘bernada serupa’ juga jadi tempelan favorit. kecenderungan itulah yang (mungkin) bergeser jadi kecenderungan bikin plesetan porno, atau bahasa pinter-nya, berbau seksual. apa kita masih mau menyimpulkan bahwa tulisan/ gambar plesetan itu juga merupakan cerminan dari wajah paling naif dari penempelnya, Mas? kalau memang iya, mungkin ada baiknya kita mengevaluasi ketidaksetujuan ‘kita’ pada teori freud ya? mungkin memang motivasi dasar setiap manusia itu seks… (mbuh laah, aku ming lagi sok keminter..)

  2. wii… menembus kajian pop culture nih. btw postingan blog ku ttg kucing garong dah dimanipulasi tempat dan latarbelakang profesi orang2nya. teneh mengko iso konangan hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: