selaksa makna

seperti kata-kata, hidup memiliki ribuan makna di baliknya..

buku Kegelandangan di Jakarta

Yth. Rekan-rekan

Alhamdulillah, buku ini akhirnya dapat diterbitkan, dan telah siap untuk dijadikan sarana bertukar wawasan serta sasaran kritik (agar segera terbit edisi berikutnya, hehe..)

Pada intinya buku ini hendak menjawab tiga pertanyaan utama, yaitu a) Apakah menggelandang adalah perbuatan kriminal?; b) Apakah gelandangan telah tertangani dengan baik?; dan c) Bagaimana mengukur keberhasilan kebijakan penanganan gelandangan?

Tinjauan umum mengenai (ke)gelandangan menjadi bagian pembuka, yang menguraikan secara umum, antara lain, menyangkut definisi, fakta-fakta keseharian, serta rekaman sikap masyarakat terhadap kegelandangan.

Dari sisi implementasi kebijakan publik, untuk mengupasnya dipergunakan “four critical factors” yang digagas George C. Edwards III. Four critical factors dimaksud terdiri dari communication, resources, dispositions, serta bureaucratic structure.

Gagasan Edwards III dipergunakan untuk menemukan jawaban apakah implementasi kebijakan penanganan gelandangan terlaksana dengan baik. Namun, untuk mengupas gejala sosial kegelandangan secara lebih luas, tentu gagasan Edwards III patut disandingkan -dan hal itu telah dilakukan di sini- dengan gagasan/perspektif lain. Maka yang ditemukan kemudian adalah adanya faktor eksternalitas yang mempengaruhi kebijakan penanganan gelandangan dan implementasinya.

Beberapa dari faktor eksternal dimaksud adalah (i) pemahaman masyarakat (dan aparat) terhadap gelandangan; (ii) tata kota; yang akhirnya (iii) menciptakan kebijakan semu yang potensial gagal dalam implementasi bahkan sejak dirumuskan.

Kajian teoritis dalam studi ini didekatkan pada realitas dengan mengambil contoh konkret implementasi kebijakan publik mengenai penanganan gelandangan di Kota Jakarta Timur.

Daftar Isi

Bab I: Kegelandangan: Selayang Pandang

A. Jakarta dan Gelandangan

B. Memahami Jakarta dan Gelandangan

C. Penanganan terhadap gelandangan

Bab II: Tinjauan Literatur

A. Pemerintahan Daerah

B. Kebijakan Publik

C. Implementasi Kebijakan Publik

C.1. Communication

C.2. Resources

C.3. Dispositions

C.4. Bureaucratic structure

Bab III: Kebijakan Penanganan Gelandangan dan Implementasi

A. Peraturan Perundang-undangan Terkait

B. Wilayah Kota Jakarta Timur

C. Tata Kota

D. Karakteristik Penduduk

E. Kebijakan Nasional Penanganan Gelandangan

F.  Kebijakan Penanganan Gelandangan Kota Jakarta Timur

G.  Kegelandangan di Jakarta Timur

H.  Menjejak Gelandangan

I. Daerah Asal Gelandangan

J. Skema penanganan gelandangan

K. Operasi penjemputan gelandangan

L. Penampungan, Pemilahan, dan Pembinaan Gelandangan

M. Pascapembinaan

Bab IV: Analisis Terhadap Implementasi Kebijakan Penanganan Gelandangan

A. Communication

Tindakan Komunikatif

B. Resources

Staff

Information

Authority

Facilities

C. Dispositions

D. Bureaucratic Structure

Birokrasi dan pelayanan publik

E. Eksternalitas

Pemahaman terhadap gelandangan

Tata Kota dan Urbanisasi di Jakarta Timur

Membangun desa (untuk) memperbaiki kota

Bab V: Kesimpulan dan Saran

Daftar Pustaka

Data Buku:

Judul                   : Jakarta dan Kegelandangan: Studi Kasus Kegelandangan di Jakarta Timur

Penulis                : Mardian Wibowo (Kata Pengantar Prof. Dr. Eko Prasojo, Mag.Rer.Publ.)

Penerbit              : Kanisius (2012)

Dimenasi/Tebal : 15 x 23cm/260 hal.

Jika rekan-rekan ada yang berminat memmbaca dan memiliki, silakan menghubungi saya melalui email di mardian_w@yahoo.com. Ongkos cetak Rp.90.000,- (harga promo khusus) belum termasuk ongkos kirim.

Salam,

Mardian W

The Sapto (alias: Nasi Goreng Sapto)

The Sapto[1]

(alias: Nasi Goreng Sapto)

***

Namanya bukan Sapto, tetapi kami memanggilnya Sapto.

Tidak ada yang tahu persis nama aslinya. Pernah suatu ketika dia menyebutkan nama aslinya. Tapi tak menarik, lebih enak dan lebih terbiasa bagi kami menyebut dan memanggilnya, Sapto.

Dia tak pernah memandang kami saat berbicara. Hanya melirik saja sekilas, setidaknya menunduk. Tingginya sedang, dengan rambut yang selalu pendek. Dan lengannya kekar, bukan karena fitness, bertinju, beladiri, atau yang sejenisnya. Dia lelaki baik, yang bersetia menggoyangkan wajan ukuran 26 setiap malam, beserta adukan nasinya.

Memilih profesi penjual nasi goreng telah membuatnya berlengan kekar.

***

Namanya bukan Sapto, tapi kami memanggilnya Sapto.

Kami mengenal Sapto di Sendowo, sebuah “kampung kuburan” di sisi barat kampus Gadjah Mada, persis di pinggir ledhok[2] kali Code[3]. Kampung kuburan? Ya ya.., secara bercanda kami menjulukinya sebagai twin sister graveyard town atawa dua kampung kembar bekas kuburan. Kampung Sendowo bersisian dengan kampung Blimbingsari, yang sejarah keduanya belum cukup panjang, yaitu sebagai permukiman baru yang dibangun di atas puing-puing kuburan.[4] Bahkan menurut cerita, beberapa kuburan belum direlokasi karena tak ada lagi ahli waris yang dapat diminta merelokasinya.

Tapi jangan keburu membayangkan yang seram-seram macam miniseri Walking Death yang marak tayang di Home Box Office maupun Glodok[5]. Tak ada aroma seram di kampung ini, percayalah, karena kami sering menghindari siang yang terik dengan duduk-duduk di antara nisan-nisan bawah kerindangan pohon kapuk, mahoni, kamboja, maupun rerimbunan kersen.

***

Di kampung itu kami mengenal Sapto sang chef nasi goreng. Spesialis nasi goreng.

Warungnya kecil saja, dengan sebuah etalase pajang yang hanya berisi panci sayur bikinan istrinya, dan dua magic jar ukuran besar. Di sisinya, sebuah kompor pressure minyak tanah, semeja dengan termos super jumbo penuh nasi matang semi aking bakal nasi goreng. Bedanya dengan nasi dalam magic jar? Dua-duanya dari jenis beras yang sama, beras ekonomis, hanya perlakuannya yang beda. Nasi goreng perlu spesifikasi nasi agak keras, dan karenanya nasi harus didinginkan terlebih dahulu. Sementara nasi sayur tak perlu didinginkan, agar tak mengeras saat dikunyah. Tapi keduanya tetap sama, ketika menjadi dingin, kau seperti sedang mengunyah beras seduh.

***

Rumah Sapto merangkap rumah in de kost. Beberapa kamar di lantai atas, yang sebenarnya lebih tepat disebut loteng, menjadi peraduan para kolega, para utusan kota manca yang mendapat tugas mulia mencerdaskan dirinya di Kampus Biru[6], lalu pulang membawa kemakmuran bagi kampung halaman masing-masing.

Dan bersama merekalah kami berlomba, setiap ba’da maghrib, usai mas Aris mengakhiri doa bersama jamaah masjid Mustaqiem[7], bergegas kami melangkah cepat. Lalu merapatkan barisan sedekat mungkin dengan kompor pressure Sapto, berharap bahwa kedekatan fisik itu akan membuat kami memperoleh antrian pertama. Yup, antrian pertama untuk nasi goreng sang genuine chef berlengan kekar dari Wonogiri.

***

Lihatlah, belum sepuluh orang genap dilayaninya, Sapto telah berpeluh. Punggung tangan menyeka keringatnya, atau kadang jika ingat, handuk yang kuragukan jika warnanya dulu putih, ditarik sekenanya mengusap dahi, ujung hidung, dan kembali tersampir di tengkuknya, menutup manset leher menipis berserabut dari uniform kesukaannya, kaos biru kehijauan dengan gambar besar di punggungnya, seekor burung bango berdiri pada satu kaki.

***

Jika sang genuine chef sudah menggelar dagangannya, maka dipastikan antrian belum akan menyurut hingga dua atau tiga jam kemudian. Dua hal yang membuatnya menjadi sang genuine, pertama mengenai orisinalitas idenya untuk menentukan harga yang sangat tak wajar. Bahkan merusak mekanisme penetapan Harga Eceran Terendah untuk komoditas yang sama. Sebungkus nasi goreng Sapto, dilengkapi telur dadar, hanya tiga ribu rupiah. Sementara chef-chef yang lain, di jalanan sana, mematok tak kurang dari enam ribu rupiah.

***

Genuine bukan? Idenya orisinal untuk menyuguhkan hanya telur dadar. Karena dengan mengocok banyak telur bersamaan hingga berbuih mengembang, akan didapatkan telur dadar yang besar di penggorengan panas, tapi tanpa disadari akan menyusut pelan-pelan dalam bungkus nasimu, dan ketika kaubuka dia sudah menjadi sosok telur dadar yang jauh berbeda, terutama ukurannya. Apalagi dari adonan sepuluh telur yang dikocok bersama, akan bisa diciptakan setidaknya 15 telur dadar. Cerdas, dan tak mengundang protes, karena akad jual belinya adalah terhadap sebungkus nasi goreng telur, bukan sebungkus nasi goreng plus satu butir telur.

***

Kecerdasan kedua sang chef adalah ketika menutupi kerasnya nasi (semi) aking dengan cara memasaknya dengan api besar, dipadu minyak dan tajamnya aroma bumbu bawang merah-putih, serta cabe rawit. Tak lupa segenggam garam dan vetsin[8] diurapkan. Maka uap nasi gorengnya benar-benar membuat perut dan saliva kehilangan keteguhan, jatuh cinta pada bujuk rayu si nasi goreng.

***

Sebenarnya ada satu lagi kecerdasan yang secara (tak) sengaja ketemu saat kami sering menyimpan nasi goreng Sapto sebagai pengganjal perut kala begadang. Nah, ketika malam tlah larut, dan warung yang tersisa cuma burjo kuningan dan indomie rebus, maka nasi goreng Sapto adalah satu kenikmatan tersendiri, hemat dan…

Orisinalitas idenya di bidang kuliner masih membuatku terkagum-kagum (atau mungkin prihatin?:) hingga saat ini. Sapto menemukan masakan nasi goreng yang dapat difungsigandakan oleh anak-anak kost sebagai lauk makan malam. Bayangkan saja, betapa nasi goreng si chef itu kala dingin berubah menjadi nasi semi aking yang diaduk dengan garam, bawang, vetsin, dan cabe tumbuk, lalu disiram minyak goreng. Maka yang kaurasakan saat memakannya adalah keras, asin, pedas, sekaligus gurih. Serta muncul siklus sensasi lengket serta panas di sekitar mulut dan pangkal lidah, yang sensasinya akan hilang saat kita mengunyah dan menelan; kemudian sensasinya muncul lagi; lantas hilang lagi dengan meneruskan kunyah dan makan; demikian terus menerus sampai sebungkus nasi itu tandas. Dan besok, di antara antrian warung chef Sapto, kausadari dirimu ada lagi di sana.. Selain karena efek asin, gurih, pedas, dan berminyak, tidak usah ragu untuk mengakui bahwa keberadaanmu dalam antrian adalah karena dompet sudah beberapa hari tersimpan tenang dalam lemari tanpa terusik, dan hanya buku catatan[9] Sapto yang mampu menghidupimu.

***

Pameo jeruk makan jeruk, homo homini lupus, fren makan fren, berlaku juga di dunia pernasian. Nasi goreng Sapto adalah contoh cocok betapa nasi pun telah makan sesama nasi. Maksudnya adalah mengenai peruntukan dan kodrat nasi. Struktur dan strata di piring makan menganut pola piramida, yaitu golongan elit menempati puncak piramida, sementara berjenjang di bawahnya, dengan jumlah yang makin massif, adalah golongan yang stratanya lebih rendah. Seharusnya, dalam sebuah tata sosial piring makan, nasi goreng akan menjadi strata terendah dengan jumlah paling massif namun dengan nilai gizi dan kenikmatan paling kecil. Strata atasnya adalah krupuk yang jumlahnya mampu menutup hampir setengah luasan piring. Dan strata elitnya adalah telur dadar yang tentu ukurannya jauh lebih kecil, namun tertinggi gizi dan kenikmatannya.

***

Namun, Sapto sang genuine chef mampu memporakporandakan tatanan strata yang telah bertahan ribuan tahun itu. Ya, Sapto menemukan nasi goreng yang dapat dijadikan lauk bagi nasi putih.

Dalam keseharian, daily practice, secara kreatif sebagian dari kami terbiasa menanak nasi sendiri agar sedikit menghemat pengeluaran. Sayur atau lauk bolehlah beli dari berbagai warung di sepanjang jalan kampung Sendowo yang ujung buntunya berhenti di garasi ambulans Sardjito[10]. Dan ketika bulan makin menua, periuk nasi masih mengepul namun kunjungan ke warung makan adalah kegiatan pertama yang harus dikurangi, besar-besaran. Maka, nasi goreng Sapto, yang tentu karena rasa bumbunya yang sangat ekstrem, cocok dijadikan lauk gurih-pedes teman nasi putih. Heri, si kandidat dokter nan eksentrik kolegaku, biasanya, dengan datar akan bilang menu baru ini sebagai selingan, alias sekali-sekali saja. Tapi celakanya, yang selingan itu kok yo semakin tua bulannya, semakin sering kami seling-kan dalam menu harian, weleh..:)

***

Namanya bukan Sapto, tapi kami memanggilnya Sapto.

Kami tidak yakin apakah nasib kami akan sama, wallahu a’lam, jika Sapto tidak memilih profesi berjualan nasi goreng. Entah bagaimana pula jika garam, vetsin, cabe, dan minyak tidak meracuni pikiran Sapto, sehingga tentu tak lahir pula pikiran-pikiran genuine yang dapat membantu para mahasiswa duta manca menyambung hidup demi mengasah kegeniusan masing-masing.

***

Hampir satu dekade setelah hari-hari bersama Sapto, tetap segar di ingatan betapa panas-pengap dan ributnya kala makan pun kala antri di warung si chef wonogiri berlengan kekar itu. Raungan bungsunya keras seperti guruh, selalu merajuk, bergulung di lantai melempar apa saja yang terpegang oleh tangannya. Teriakan istrinya dalam usaha meningkahi raungan si bungsu. Gurauan para pengantri, yang konon para pelajar intelek, namun lebih sering bertindak sebagai kompor bagi perseteruan ibu-anak, alih-alih menengahinya.

Lalu terkeras, gelegar suara Sapto yang setengah marah menyuruh sulungnya menyiapkan es teh atau jeruk, sementara si sulung selalu berusaha diam-diam kabur, menikmati kemerdekaan masa remajanya. Ah ya, si sulung bengal yang selalu berusaha bebas, dialah sebenarnya si empunya nama Sapto, nama yang kemudian hari kami nisbahkan kepada bapaknya, si genuine chef.

[jakarta22maret2012]


[1] Untuk para kolega di Sendowo E-103, Yogyakarta, dan sekitarnya pada tahun-tahun sekitar Y2K (year of 2000). Dalam cerita ini, banyak hal sesuai fakta, namun banyak hal pula yang fiktif.

[2] Ledhok (Jw) = lembah.

[3] Jangan dibaca sebagai “kod” dengan ejaan english, baca dengan huruf c seperti mengeja cuplis.

[4] Pada mulanya daerah yang sekarang menjadi kampung Sendowo, terutama kampung Blimbingsari, adalah areal pekuburan luas yang menempati tanah Sultan ground dengan sistem sewa selama puluhan tahun. Lambat laun, banyaknya pendatang di Jogja mulai berekspansi masuk kawasan pekuburan, membangun rumah, bertempat tinggal, dan beranak-pinak di sana, sampai sekarang.

[5] Kompleks bangunan pertokoan elektronik di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta, yang bagian belakang pertokoan menjadi tempat hidup dan berkembangnya industri cakram padat film bajakan.

[6] Nama lain untuk kompleks UGM yang terletak di kampung Bulaksumur. Nama Kampus Biru melekat dengan UGM karena trilogi novel Ashadi Siregar sekitar tahun 1970-an ber-setting UGM, dan salah satunya diberi judul “Cintaku di Kampus Biru”, yang pernah difilmkan pada sekitar 1976 dengan bintang Roy Marten dan Yati Octavia.

[7] Masjid Al Mustaqiem, Sendowo E-103, Sinduadi, Mlati, Sleman, DIY.

[8] Istilah pendek untuk menyebut bumbu penyedap berbahan mono sodium glutamate atau disingkat MSG. Senyawa bumbu yang menimbulkan chinesse food syndrome, yaitu rasa tidak nyaman pada pangkal lidah dan tenggorokan, dan pada dosis tertentu menyebabkan pening serta mual. Efeknya adiktif alias nagih, sehingga biarpun terasa pahit di mulut, tetap saja kita suka mengkonsumsinya.

[9] Idealnya frasa “buku catatan” ini merujuk pada buku ekspedisi panjang yang berisi catatan rapi dalam kolom-kolom. Namun bagi Sapto, buku catatan itu tak harus berbentuk dan berformat khusus, kadang sisa-sisa halaman kosong buku sekolah anaknya pun jadi. Catatannya hanya berisi nama-nama dan empat digit nominal angka di sebelah kanannya. Ya ya ya.. gampangnya, sebut saja itu buku utang, hehe..

[10] Sardjito adalah nama Rektor UGM periode awal, yang diabadikan sebagai nama rumah sakit umum daerah sekaligus rumah sakit pendidikan yang diampu Fakultas Kedokteran UGM.

Masa Depan dan Segelas Kopi (4): Hilang

Masa Depan dalam Segelas Kopi (4): Hilang

Kereta merapat di gambir pukul tujuh lewat lima. Rutinitas tidak lagi membuatku perlu menghitung berapa jumlah dua ruas anak tangga dari peron hingga lobi utama, mungkin tiga puluh atau empat puluh. Lambaian ojek dan klakson motor bersahutan, menawarkan tumpangan, seperti prenjak menyambut mentari, atau induk ayam berkotek memanggil reriungannya.., atau seperti suit-kerling cowok-cewek yang menggodamu, menyebalkan tetapi senang juga hati dibuatnya..

Selintas setelahnya, selasar panjang mengantarku pada tiang ketiga penyangga rel kereta, tempat biasa emak berjongkok mengaduk kopi. Namun tak terlihat tanda keberadaannya, digantikan bak plastik beroda, warna hijau setinggi dada, dengan pengki, dan sapu lidi di sampingnya. Hari ini emak tak ada, digantikan bak sampah beroda berdiri ringan di sana.

Hari ini emak tak ada.

Entah emak dimana. Sengaja bolos berdagang tentu bukan pilihan rasional bagi orang yang hidupnya bergantung pada jumlah sachet kopi yang diseduhnya. Meluangkan waktu untuk liburan? Jangan bercanda. Berdagang kopi eceran tak perlu liburan muluk, cukup jikamana siang hari uangmu bisa untuk makan malam, kau boleh sedikit melepas beban, satu atau dua jam saja.

Hari ini emak tak ada.

Mungkin emak takut demo? Mungkin saja demikian mengingat beberapa hari belakangan di depan Gambir, yang berhadapan dengan menara pertamina medan merdeka timur, marak demonstrasi, hujan batu, petasan, gas air mata, dan teriakan-teriakan serta derap sandal, sepatu, lars, berlarian, yang tentu bukan pertunjukan yang kauinginkan menemanimu menjajakan kopi.

Tapi kukira emak tidak takut. Bukankah senyatanya mereka-mereka yang berhadapan dalam aksi, selalu memiliki waktu jeda untuk tanpa sengaja duduk bersama, menyeruput kopi yang sama, bertukar sapa, lalu membayar dengan harga yang sama, pada emak dan para sejawatnya. Sinergi yang menguntungkan.

Kecuali, kadang-kadang, memang kericuhan itu membuat membuat gelas-gelas berserakan dan kopi tumpah tanpa terbayar. Komposisi yang meresahkan.

Hari ini emak tak ada.

Kuyakin bukan karena takut demo. Emak tak pernah takut, setidaknya tak pernah menganggap ketakutannya terlalu berharga untuk dirawat. Jangankan pada demonstran, polisi, hujan batu, tentara, gas air mata, maupun peluru; pada kehidupan pun, yang terlalu berat bagi sebagian orang, emak tak pernah menyimpan jeri. Kata mereka, ketika kau berani menjalani kehidupan miskin papa, maka kematian adalah hadiah dari Tuhan. Karunia yang terindah.

Hari ini emak tak ada.

Bukan cuma aku yang kehilangan, juga satu dua penumpang, tukang ojek, sopir yang menunggu juragannya, pam parkir, dan beberapa lainnya. Kami kehilangan kopi panasnya, dan sosoknya yang ikal, kurus menjulang. Seandainya emak hidup pada susunan nasib yang berbeda, kukira model-model catwalk akan datang dan belajar darinya, bagaimana menjadi kurus tanpa harus mengidap anoreksia nervosa.

Hari ini emak tak ada.

Dan aku, yang selalu tergesa melintasi selasar, serta mereka, yang menghabiskan hari-harinya di Gambir, pagi ini kehilangan juru damai. Si emak juru damai yang selalu mengangsurkan padamu kopi mengepul dalam gelas plastik, dengan senyuman hangat yang selalu ikhlas. Ya ya.., senyum orang miskin selalu ikhlas. Yang tidak pernah ikhlas adalah senyuman orang-orang miskin yang merasa dirinya kaya.

 

gambir-monas-merdekabarat,29maret21012

Kaku

Kaku

Masih menumpang gerbong yang sama, dengan wajah-wajah sesama yang sama pula. Dua-tiga ibu hampir paruh baya yang selalu -tak pernah tidak- mengeluhkan buruknya manajemen kereta serta membincang berita terbaru selebritis, dari smartphone mereka atau curi-curi pandang koran sebelah. Sementara yang lain duduk terkantuk, menyumbat telinga dengan earphone, tak ingat benar sudah berapa ratus kali lagu yang sama didengarnya. Sisanya asik memainkan gadget-nya, atau sekadar melamunkan entah.

Semuanya nampak sama, kereta hari ini dan yang kemarin. Membincang kesamaannya dari hari ke hari, seperti halnya mengingat detil tarikan nafasmu. Bisa diingat, tetapi kita selalu menganggapnya tidak perlu, lalu melupakannya.

Kadang, menjalani segala sesuatu tanpa harus merasa ingin tahu segala sesuatunya, adalah hal yang menarik. Menetapkan satu tujuan, lalu menggelinding meraihnya. Satu tujuan. Dan itu membuat kita merasa ringan serta bebas.

Seperti kereta yang (di)tetapkan tujuannya, dari bekasi ke stasiun kota. Lempeng. Biarpun ada cabang jalan, pertigaan, perempatan, perlimaan, lajunya lurus. Selalu.

Untuk pilihan menjadi seperti kereta, kita dengan bangga menyebutnya teguh, gigih, pun ulet.

Sampai suatu ketika, jendela kereta, di sekitaran jatinegara, menghadirkan pemandangan anak-anak yang bermain-main dengan anjing kesayangannya. Sebenarnya kesayangan mereka atau bukan aku tak cukup tahu. Tapi sementara ini anggaplah saja demikian.

Sebuah bilah kecil bambu dengan makanan digantungkan di salah satu ujungnya, diikat pada punggung anjing sedemikian, hingga gantungan makanan itu berada sejengkal di depan si anjing. Begitu dilepaskan, si anjing mengendus, menatap girang, lalu bergerak maju meraih makanannya.

Hap, selangkah dia maju, selangkah pula makanan menjauhinya. Hupp, selompat ke depan, selompat pula makanan itu menjauhinya. Keinginan dan rasa penasaran yang memuncak mendorongnya berlari meraih makanan, dan secepat itu pula makanan berlari menjauhinya.

Dengan segera permainan itu menjadi mengasikkan bagi kelompok anak-anak kecil di antara lajur-lajur rel kereta. Mereka melihat anjing yang sehat, lincah, bergerak kesana-kemari, melompat ke depan, belok ke kiri, berguling ke kanan, mengendap, berputar dua kaki, menggeram, mengibas, berjingkat, dan makanan itu selalu saja sejengkal di depannya.

Kuyakin anjing itu menikmatinya, sebagai sebuah perjuangan; kegigihan yang mengagumkan; maupun sebuah tekad yang patut diteladani. Begitu pula dengan kita bukan?

Kukira semua orang yang setiap pagi bersamaku di dalam gerbong ini memiliki tujuan. Mengapa harus berangkat pagi, bergelantungan dan berdesakan di kereta, lalu pulang selepas mentari senja terbenam, jika tidak memiliki sebuah tujuan? Dan tentu dua belas jam lebih meninggalkan rumah, dalam sehari, harus dimaknai sebagai sebuah perjuangan; kegigihan yang mengagumkan; maupun sebuah tekad yang patut diteladani.

Sampai suatu ketika, manakala anjing itu habis nafas dan kosong tenaga, dia akan terduduk, menjulurkan lidah, bulu-bulu badannya bergetar-getar, menatap nanar makanan sejengkal di depannya, lalu menaruh kepalanya bertumpu kedua kaki depan. Gentar.

Dia menghabiskan segala upaya, namun tidak mendapatkan tujuannya.

Dia anjing. Cukup sulit baginya menyadari bahwa dalam setiap langkah dan lompatannya, dia memiliki kebebasan. Kebebasan untuk menentukan, apakah akan melompat mengejar makanan tergantung di depannya, atau cuekin gantungan itu, lantas mengeduk tanah di samping sembari berharap menemukan makanan lain. Anjing itu tentu juga tak cukup pintar untuk memahami konsep permainan kejar makanan. Konsep manipulasi hasrat yang menjadikannya seolah-olah sebagai perjuangan, kegigihan, dan tekad yang keras.

“One-dimensional man”.

Meminjam kata-kata mbah markus[1], itulah sebutanku untuk si anjing. Atau lebih tepatnya kusebut dia one-dimensional dog, yaitu anjing yang tidak pernah berusaha untuk memiliki pilihan dan alternatif lain dalam singkatnya hidup.

Sepertinya akan sulit menemukan anjing kota yang memiliki beragam dimensi dalam hidupnya. Namun apakah sesulit itu juga menemukan manusia (kota!) yang memiliki keragaman dimensi? Alternatif pilihan kita sebanyak pilihan si anjing. Kebebasan kita juga sebebas kebebasan si anjing. Perbedaannya hanyalah, dalam hal permainan kejar makanan, si anjing tidak mampu memahami sementara kita memang tidak mau memahami.

Entahlah.

Memikirkan hal itu sekarang, adalah sebuah langkah mundur, set back. Tetapi daripada tidak sama sekali, tentu lebih baik terlambat..

Dari jendela kereta, stasiun gambir sudah terlihat, dan permainan anjing kejar makanan telah lewat sejak lima belas menit yang lalu. Aku meraih tas dari para-para gerbong kereta, berusaha melangkah ke pintu, lalu memandang tanpa sengaja pantulan bayangku di buramnya kaca jendela. Desis rem kereta terdengar samar. Ada wajahku di kaca jendela. Tepat di tempat si anjing tadi mempertontonkan kegigihannya..

“To be (dog), or not to be, that is the question.”[2]

 [limaaprilduaribuduabelas-medanmerdekabarat]


[1] Nemu istilah itu dari sini. Herbert Marcuse, 1964, One-dimensional Man: studies in ideology of advanced industrial society.

[2] Dikutip sekenanya dari William Shakespeare, 1605 (?), Hamlet.

Anak dan Muasal Kekerasan

Anak dan Muasal Kekerasan

Kabar kekerasan oleh anak-anak dan remaja terus bermunculan, dan membuat kita pilu. Siswa sekolah dasar berinisial A di Depok, Jawa Barat, menusuk temannya karena ketahuan mengambil ponsel korban tanpa ijin; belum genap sebulan sebelumnya sekelompok remaja perempuan di Bali terpergok menganiaya dan menelanjangi temannya sendiri.
Lebih massal, Komnas Perlindungan Anak merilis data tawuran antarpelajar di Jabodetabek selama 2011 yang terjadi sebanyak 339 kali dengan korban tewas 82 orang. Meningkat lebih dari dua kali lipat dibanding jumlah tawuran tahun 2010 sebanyak 128 kasus. Dengan jumlah korban sebanyak itu, tentu saja dapat dipastikan adanya penggunaan senjata oleh anak-anak dan remaja. Lalu masyarakat berteriak, media memberitakan berhari-hari, berbagai analisis disusun, aparat negara bekerja, namun kekerasan demi kekerasan oleh anak tetap terjadi dan berulang.
Melelahkan bagi anak, karena orang tua dan sekolah, dua otoritas sosial utama tempat anak bernaung, akhirnya hanya dapat memberikan rumusan-rumusan daftar “what to do” demi menghindarkan anak-anak dari perilaku kekerasan. Sekolah dan orang tua giat menyusun berbagai ekstrakurikuler yang bertujuan untuk “memastikan” bahwa anak-anak tidak akan punya cukup waktu untuk terlibat dalam kekerasan, dan memastikan mereka selalu berada di bawah pengawasan.
Ya, anak-anak dari sekolah ternama yang berbiaya mahal, memang memiliki tingkat keterawasan yang lebih tinggi dibanding anak-anak dari sekolah yang biasa-biasa saja. Namun apakah terbukti hasil akhirnya, dalam menghindarkan kekerasan oleh anak, memiliki perbedaan? Program-program antarsekolah, seperti kompetisi olah raga, perkemahan, kunjungan, hingga pertukaran pelajar, mungkin dapat menenteramkan anak-anak sekolah untuk tidak saling memusuhi anak-anak dari sekolah-sekolah sekitarnya. Tetapi yang kadang luput dari pengamatan adalah, muasal kekerasan itu sendiri bukan dari interaksi antarsekolah.
Keberadaan sekolah-sekolah yang berdekatan, bahkan berhimpit di satu lokasi, bukanlah conditio sine qua non bagi terjadinya kekerasan. Kasus kekerasan oleh A dan kebanyakan kasus bullying menunjukkan secara tepat betapa kekerasan jamak juga terjadi di internal sekolah, bukan dengan tetangganya. Oleh karenanya, mengawasi seketat apapun, atau membangun pagar setinggi apapun, tidak akan ada gunanya jika dalam diri anak-anak telah hadir insting (hasrat akan) kekerasan.

Ruang keluarga muasal kekerasan
Ketika jam sekolah berakhir dan anak-anak kembali kepada keluarga dan rumahnya masing-masing, secara normatif orang tua kembali memegang tanggung jawab penuh atas pendidikan anak. Sebagian besar orang berpendapat, masalah tidak akan pernah muncul dari anak yang beraktivitas di dalam rumah. Pendapat yang menilai kekerasan anak hanya sebagai fenomena “ruang publik” belaka, membuat pemahaman akan muasal kekerasan tidak pernah menyentuh akar sesungguhnya.
Ada kalanya anak keluar rumah dan memasuki ruang-ruang interaksi sosial tidak dengan kondisi nirkekerasan. Meskipun belum teraktualisasikan menjadi kekerasan fisik, hasrat kekerasan dan “manual book” bagaimana melakukan kekerasan telah didapat anak dari dalam rumahnya sendiri. Hasrat dan pengetahuan bagaimana melakukan kekerasan ini menjadi mesiu yang siap meledak dengan pemantik dari interaksi-interaksi sosial di ruang keseharian.
Mari melongok ruang keluarga rumah kita masing-masing. Sepulang sekolah anak-anak dilarang bermain keluar rumah dengan alasan keamanan. Kompensasinya, tanpa didampingi orang tua, anak-anak diberi perangkat hiburan agar mereka betah di rumah. Maka anak-anak yang berpikiran polos dan sederhana sibuk memainkan console, laptop, personal computer, dan banyak gadget permainan lainnya, berjam-jam, setiap hari.
Permainan-permainan tersebut membuat anak betah di rumah, dan para orang tua merasa aman karena anaknya tidak berkeliaran di jalanan. Namun bahaya justru baru saja hadir melalui bermacam game yang mereka mainkan. Apakah para orang tua sadar bahwa game yang dimainkan anak-anaknya sebagian besar adalah game sarat kekerasan, yang terbungkus apik sebagai game anak-anak dan remaja. Digimon, Smack Down, Grand Theft Auto, Resident Evil, Call of Duty, Monster Hunter, Transformer, X-men, dan Street Fighter, hanyalah sebagian dari ratusan game kekerasan yang dimainkan setiap hari oleh anak-anak kita di ruang keluarga, sebagai sebuah hiburan. Selingannya adalah televisi, dengan tayangannya yang paling “mendidik” adalah sinetron dan film yang didominasi kata-kata kasar dan, lagi-lagi, kekerasan.
Tidak ada hal lain yang diajarkan oleh ragam game tersebut selain cara efektif (dan brutal) melumpuhkan lawan pada titik-titik vital (mematikan). Pengetahuan dan kemampuan menemukan titik-titik vital manusia menjadi hal yang sangat berbahaya saat anak mengalami konflik fisik dengan teman sebayanya. Hal tersebut menjawab pertanyaan, darimana anak-anak mendapatkan “manual book” untuk melakukan penganiayaan, bahkan pembunuhan. Maka jumlah korban dalam statistik yang dirilis Komnas Perlindungan Anak di muka-lah yang akan muncul kembali.

Melangkah untuk mengubah
Lalu bagaimana orang tua dan masyarakat harus bersikap jika aparat yang berwenang belum menemukan pola penyelesaian yang tepat. Bahkan, sentra industri cakram padat game maupun film porno seperti Glodok, Jakarta, yang jaraknya tak lebih dua kilometer dari Istana Negara, masih juga dibiarkan beroperasi. Lembaga Sensor Film dan Komisi Penyiaran Indonesia juga terlihat tidak banyak berkutik menghadapi serbuan tayangan-tayangan kekerasan dan pornografi. Apalagi terhadap game elektronik, jangankan diawasi, bahkan pengawasnya pun tidak pernah digagas, apalagi ada.
Tanpa berharap banyak pada pihak lain, orang tua harus memulai dari keluarganya masing-masing. Kuncinya adalah menjadi lebih peduli, dan mengakui kesalahan bahwa perilaku agresif anak antara lain diakibatkan sikap para orang tua yang terlalu permisif terhadap game dan tontonan anak-anak. Sekarang juga para orang tua dan masyarakat harus meluangkan waktu untuk menyeleksi dan mendampingi anak dalam memilih game dan tontonan; bahkan harus mulai mengurangi frekuensi game dan tontonan. Efeknya tentu tidak instan, tetapi ini cara yang paling mungkin untuk mengembalikan anak-anak dan remaja kepada perilaku normalnya.
Menyuarakan aksi individu para orang tua adalah langkah lanjutan yang dapat dilakukan melalui interaksi keseharian maupun dengan bantuan jejaring sosial. Harapannya, gerakan individu ini akan menjadi sebuah gerakan (dan kesadaran) komunal untuk mendepak game dan tontonan kekerasan serta pornografi dari ruang keluarga. (Mardian Wibowo, working parent, asisten hakim pada Mahkamah Konstitusi)

Masa Depan dan Segelas Kopi (3): Etos

Masa Depan dan Segelas Kopi (3): Etos

Masih tentang kopi, dan cerita-cerita yang dia bisikkan kepada kita.

Dalam modernitas yang tergesa dan lintang pukang, filantropi menjadi banal, bahkan mengandung cemooh. Etos pun dipertanyakan, bahkan ditertawakan. Lalu oportunis yang pragmatis?, fuuu.. kukira kredo kita sedang mengarah ke sana.

Gambir, 07:12 WIB.
Aku terbiasa naik gerbong 3, karena saat berhenti di Gambir, dia berada persis di sebelah tangga peron. Segera ketergegasan yang sama menyambut, menyeretku berlari-lari kecil di setiap undaknya, mengimbangi langkah-langkah cepat para kolega.
Ketergesaan yang ringan, namun monoton. Kami semua sama, bukan zombie memang, tapi lebih mirip bionic dengan program yang senada dan konstan: berangkat-kerja-pulang. Yang membedakan kami hari ini dengan kami yang kemarin tak substansial, hanya merek baju saja. Savero pink berganti zara marun; qirani bergaris berganti nevada berenda; levi’s dongker berganti lea tosca; arrow coklat berganti watchout abu. Kaos joger berganti C59. Alisan dan hidayah juga ada, berganti-ganti warna.
Atau tipe sepertiku, alisan putih setiap hari dengan perbedaan pada letak noda coklatnya saja, kadang di lengan, kadang di punggung.

Ketergegasan yang sama, jumlah undakan tangga yang sama, pintu keluar samping loket yang sama, dunkin donuts yang sama, serta lambaian para ojek yang juga sama di sepanjang selasar Gambir.

Nun, di ujung sana, setelah keluasan lapang parkir yang diselimuti mendung, si emak menyeduh kopinya. Aku berharap itu bukan pembelinya yang pertama, meskipun kukira harapanku terlalu berlebihan..

Max baren’s, sepatuku, menapak paving stone lapang parkir, berhenti selangkah di depan si emak. “Kopi susunya ada, mak?”
“Ada,” sambil dipilahnya beberapa sachet kopi beraneka jenis, mulai yang hitam murni, special mix, mocca, dan beberapa lainnya.
Berjongkok, satu dipilih, yang bertuliskan kopi susu. Lalu tangkas diambilnya gunting. “Mau sambil dibawa jalan ya?,” sambil dituangkannya isi sachet ke dalam gelas plastik. Mungkin emak ingat kopi darinya kemarin kubawa jalan.
“Iya mak, buat penghangat sambil jalan.”
Sepertiga air panas sudah tertuang, kemudian sendok teh bergagang panjang diambilnya dari wadah yang lain. Adukannya terhenti pada beberapa putaran, bahkan bubuk kopinya belum sempurna tercampur. Menatapku, lebih tepatnya menatap tanganku. “Yang pas saja, mas. Dua ribu. Emak gak ada kembaliannya.”
Rupanya emak melihat lembar puluhan ribu yang kutarik dari kantong M.Gee . Lembaran bergambar Mahmud Badaruddin II itu memang satu-satunya yang tertinggal di kantongku.
“Gak ada, Mak.” Reflek kujawab demikian, meskipun sebenarnya dalam lipatan tas punggungku, beberapa lembar duaribuan selalu tersedia.
Kuingin mendesakkan suatu situasi pada transaksi kopi kami, yang kadang-kadang secara manipulatif dipaksakan oleh penjual kepada pembeli, yakni tidak adanya kembalian sehingga pembeli terpaksa membeli lebih banyak dari yang semula diinginkannya. Manipulasi ini bukan oleh si emak penjual, tapi olehku, si pembeli, dengan harapan berhasil kupaksakan solusi bahwa sisa uangnya tidak perlu dikembalikan. Pagi ini, nilai guna uang delapan ribu rupiah itu akan kutransfer tanpa syarat kepada emak kopi. Kukira ini sebuah etos, bersedekah tanpa harus si penerima melihatnya sebagai sebuah sedekah.
Waktu pernah mengajariku, bahwa sedekah yang terformulasikan dengan kata-kata lugas, maupun sedekah yang terinstitusionalisasikan secara ajeg periodik, kadang kontraproduktif dan membuat para penerimanya semakin miskin; miskin harta dan miskin harga diri.
Dengan IQ yang tingginya tak terlalu jauh dari rata-rata, dengan tingkat kesalehan yang untuk dikatakan cukup pun aku masih ragu, secara kilat kuskenariokan sebuah sedekah insidental. Dengan berpura-pura tidak punya pecahan kecil.

“Gak ada, Mak.” Sekali lagi kuucapkan kepada si emak yang masih memandangku, mungkin berharap aku merogoh kantong dan menemukan nominal yang tepat untuknya. “Gak usah kembali, Mak. Sisanya dibawa emak saja.”
“Jangan, ini harganya cuma dua ribu.”
“Ya gak apa-apa. Bawa saja.”
“Enggak, gak boleh begitu.” Sambil diangsurkannya padaku kopi dalam gelas yang belum diaduk rata, berikut sendoknya, bergagang panjang kehitaman.
“Sudahlah Mak, kalo memang gak ada, kembaliannya besok saja.” Kuturunkan tawaran. “Besok saya mampir ngopi lagi”.
“Tidak bisa begitu, pak, mas. Emak ini dagang, gak baik seperti itu. Tunggu sebentar ya..,” sambil pergi bergegas-gegas menuju pilar beton agak diujung sana.

Aku mengaduk kopi dalam gelas yang ditinggalkanya di tanganku.
Bubuk hitam timbul tenggelam dalam air kecoklatan, dihempas sendok teh, dia berputar, terpilin, berpilin..

Mendatangiku, si emak mengacungkan delapan ribu rupiah di tangannya. “Makasih ya pak, mas.”
“Makasih kembali, Mak.” Kuterima uang itu, memberikan sendok pengaduk padanya, lalu melangkah menuju gerbang Gambir.

Jakarta masih pagi.
Gambir masih pagi.
Monas masih pagi.

Aku tak tahu harus memulai lamunanku darimana. Mungkin masalah etos, atau keteguhan batin, atau keyakinan pada yang maha transenden. Atau mungkin nanti di kerindangan bintaro kutemukan lamunan lain.

Pusaran dalam gelasku belum juga berhenti, hanya melambat. Bubuk hitam yang timbul tenggelam dalam air kecoklatan, berputar, terpilin, berpilin. Terlihat absurd tak beraturan menemani langkah-langkahku sepanjang gambir-monas, sementara jalanan semakin ramai, dan joki-joki three in one mulai bertebaran mengacungkan jarinya, satu atau dua.
Di balik hijau terali pagar monas, pada lintasan jogging yang batu-batunya mulai berlumut, seorang memandangiku, dia kotor, lusuh, bertelanjang kaki, “untuk makan pak..,” sambil mengusap perutnya.

–jum’atenambelasmaretsepanjangmonasdiantarapokokpokokbintaro–

Masa Depan dan Segelas Kopi (2)

Masa Depan dan Segelas Kopi

Bemula dari Gambir, sebuah tempat yang menyenangkan untuk memulai cerita..

Kereta pada jam yang seperti biasa, sekitar 7 pagi, merapat ke stasiun Gambir. Turunan tangga yang sama, langkah-langkah yang sama, kolega-kolega sesama pengguna kereta yang sama, dan menangkap sosok emak[1] penjual kopi yang sama. Kopi dalam segelas plastik, dengan air panas cukup dua pertiganya, segera berpindah tangan. Dua ribu rupiah. Transaksi cepat, kukira tidak kalah dengan layanan drive thru atau drive through..

Yang kupilih berbeda, kopi panas itu tidak kunikmati sambil duduk-duduk menyelonjorkan kaki di beton pembatas parkiran samping emak kopi. Aku memilih cara kedua, menikmati kopi panas sembari berjalan melintas monas menuju kantorku di sisi sebelah barat.

Monas berangin, semburat meniup uap kopi, kadang mampir ke hidung, kadang menerabas kerindangan pepohonan entah kemana. Sebagai aroma, sah-sah saja dia hendak pergi kemana. Tak perlu dituliskan klausula dalam bungkus kopinya bahwa kehilangan aroma kopi karena tiupan angin adalah bagian tak terpisahkan dari akad jual beli..

Monas sudah terlewat, security di halaman kantor tersenyum menyapa ramah, “ngantuk ya, Pak?”

“Hehe..,” aku tertawa kecil, mengangguk, dan melambai, sementara sebelah tangan, dengan tiga jari, memegang bibir gelas kopi, ringan namun erat.

Lift membuka, mempersilakanku masuk, bersama reriungan yang sudah menyambut di dalamnya.

“Kopi ya mas?,” suara ramah menyapaku. Ternyata si Mai. Rupanya aroma kopi, lembut dan pelan, mulai memenuhi lift dan menyapa kami semua yang berdesakan merapat di dalamnya. Bercampur dengan kesegaran aroma sabun mandi, shampoo, cologne, pengharum baju, dan bau jeruk yang khas dari pengharum ruangan.

“Beli dimana, kok gelasnya seperti itu?”

“Di Gambir, tadi sekalian jalan.”

“Kok?”

“Maksudnya?”

“Kok beli di stasiun?”

“Ya gak apa-apa. Pingin minum kopi aja.”

“Trus?”

“He?, ya gak ada terusnya. Terus ya begini ini..,” jawabku sambil mengangkat gelas kopi sedikit lebih tinggi.

“Trus dibawa jalan gitu?”

“Ya iyalah Mai. Gak keren ya jalan-jalan bawa gelas plastik?,” tanyaku balik padanya. Aku merasa itu pertanyaan yang tidak perlu dijawab. Si Mai pun cuma tersenyum, menghadirkan dekik[2] di pipinya, tentu sambil menggeleng kuat-kuat dan buru-buru berkata tidak. Namun, selain si Mai, tentu akan banyak yang mengatakan sebaliknya. Kira-kira mereka akan bilang membawa kopi seduh dua ribu rupiah di gelas plastik tak bisa dibilang keren. Ada banyak yang lebih keren, gelas semi stirofoam hijau ala café s****uck, tumbler merah ***cafe, atau mug milik salah satu gerai jajanan donat.

Harus diakui gelas plastik memang bukan bandingan gelas, mug, dan tumbler keluaran café-café yang gerainya keren, adem, bersih, dan segar. Tapi kukira bukan itu masalahnya. Ini soal ideologi kopi. Menurutku, kopi dan semua komoditas, seharusnya memiliki kemampuan memberdayakan. Dan kopi tidak dapat melakukan pemberdayaan oleh dirinya sendiri. Para peminum lah yang menjadi kepanjangan tangan bagi kopi untuk melaksanakan tugas mulianya.

Kukira sudah waktunya kita mengalihkan diri dari café-café dan gerai-gerai waralaba yang telah menangguk untung besar dari berjualan kopi. Dan berganti membeli dari mamang-mamang pendorong gerobak minuman, ujang-ujang pembawa kopi sepeda, atau kalau di Gambir, tentu pada emak penjual kopi itu, maupun pada para koleganya yang setia mengais rejeki di keteduhan kolong jalur kereta.

Lamunanku terputus ketika untuk kesekian kalinya lift berhenti, dan Joel, si security berkumis a la Antonio Banderas di film Zorro, mengingatkanku, “lantai tujuh, Pak.”

Pintu lift membuka, aku menengok pada si Mai dan para kolega yang tersisa, melindungi gelas kopi dari desakan, sambil menyapa, “Mari semuanya..”.

Dingin air conditioner lantai tujuh menghembus. Hanya sebentar saja dia tertahan oleh jaket dan topi, sebelum menyentuh tengkuk. Brrr…, namun dingin adalah sebuah ironi, kehadirannya justru membuat segelas kopi di tanganku jadi lebih hangat.

Di muka pintu mbak Ina menyapa, “Wah, sudah sempat ngopi..”. Sapa si mbak membuka lagi lamunanku. Seandainya dua ratus saja dari ribuan penumpang yang setiap harinya masuk dan keluar Gambir, membeli kopi emak, maka secara ceteris paribus,[3] dalam sebulan isi kotak kayunya akan bertambah ragam barang dagangan; dalam beberapa bulan berikutnya dia akan bisa memiliki gerobak kecil yang lebih mobile; dan dalam setahun terhitung sejak hari ini besar kemungkinan emak akan memiliki sebuah kedai kopi kecil di deretan kantin Gambir. Lalu kopi akan membuatnya menjadi emak yang hidup berkecukupan..

“Heh, malah ngelamun..,” si mbak mengagetkanku. “Hehe, iya mbak..,” sambil melintas kujawab sekenanya, “Lagi mbayangin ideologi kopi..”

–pagidiharikelimabelasbulanmaretantaragambirmonaskantor–


[1] Pada tulisan terdahulu (Masa Depan dan Segelas Kopi) dia kusebut nenek. Tapi sepertinya lebih nyaman kalau dia kusebut emak. Orangnya masih sama.

[2] Dekik = lesung pipit.

[3] Dalam ilmu ekonomi, lebih kurang, ceteris paribus adalah istilah kondisi yang diasumsikan sewajarnya, atau all other things being equal. Dalam cerita kopi ini ceteris paribus merujuk pada faktor emak yang hemat, tidak ada operasi tramtib, tidak ada jatah preman setempat, serta tidak ada sakit yang harus diobati segera.

Paradoks Kemarahan (2)

Kemarahan hanyalah sandiwara omong kosong, yang sama sekali tidak perlu mendapat penghormatan maupun perhatian, manakala kata-kata yang diucapkan tidak pernah menjadi nyata setelah kemarahan.

Paradoks Kemarahan (1)

Kemarahan adalah paradoksal, karena, ketika dengan kemarahan itu kita ingin menunjukkan kelebihtinggian derajat, kekuasaan, dan kemampuan kita, yang terlihat oleh orang lain justru ketidakmampuan kita mengendalikan diri, ketidakkuasaan kita untuk mengatur segalanya, serta tidak memadainya pengetahuan kita untuk mengatasi masalah; yang kesemuanya menunjukkan kekerdilan, kelemahan, serta sempitnya wawasan kita..
Maka sebenarnya kemarahan adalah pertunjukan, pertunjukan ketidakmampuan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang kita hadapi..

do’a

milikku hanya do’a,
bukan gaji, logam mulia, atau sejenisnya,
yang kadang tanpa sengaja terselip khilaf di dalamnya..

milikku hanya do’a,
yang sederhana dan murni seutuhnya,
sebagai penanda ulang tahunmu..

[jakarta6maret2012untukbundakimi]

Masa Depan dan Segelas Kopi

Masa Depan dan Segelas Kopi

Kereta tidak terlambat, lima belas menit sebelum pukul delapan, sudah sampe Gambir[1].

Gerbong yang berbeda, namun lintasan yang sama, tangga turun yang sama, ketergegasan yang sama, dan kerumunan ojek yang sama..

Sedikit di ujung stasiun, di sudut bawah pilar beton penyangga lintasan kereta, seorang perempuan tua yang sepantasnya disebut nenek, mengusap rambut putihnya ke belakang, persis saat aku membuka topi yang menguarkan aroma gatsby dari rambut tersisir rapi.

Hari masih bisa dibilang pagi, meskipun sudah tidak lagi dingin.

Jaketku, MGee, dapat di obralan Robinson seratus dua puluh lima ribu rupiah, minta dilepas karena gerah merambati punggung. Sementara, di ujung sana, nenek itu dengan sia-sia mencoba merapikan jaketnya, yang kusut dan warnanya tak lagi enak dilihat. Dia masih merasa dingin, kutahu itu dari bebatan syal di lehernya. Bukan syal, tepatnya selendang batik, yang bagi penyuka batik sepertiku kuyakin dulunya selendang itu sangat cantik, mungkin dari Tanah Abang[2], atau dapat dari anaknya, entahlah..

Tangannya mengaduk. Tangan yang renta tapi masih cukup kuat mengaduk kopi mengepul dalam dua gelas plastik, yang diletakkannya di tumpukan batako bersisian dengan kotak terbuka obat batuk bronchitis, berwarna hijau.

Sepertinya itu obatnya, mengingat tergeletak di dekat sendok dengan sisa-sisa cairan kecoklatan, dan kukira itu sisa obat batuk.

Alas kardus itu hanya muat satu orang, dua sisinya terhalang pilar beton dan kotak kayu yang serba muat apapun barang pribadinya. Tentu kotaknya tak besar karena tak banyak barang-barang pribadinya, sekaligus tempat sachet-sachet kopi tergantung, gula dalam kantong, setumpuk gelas plastik, dan termos yang terbebat erat plastik dan karet, mungkin agar hangatnya tetap kuat.

Diangsurkannya segelas yang mengepul kepada security Gambir, yang kuyakin membelinya dengan melupakan kebersihan, semata kasihan, mengingat tak jauh di lobi Gambir, berderet warung makan dengan beragam pilihan kopi, harga bersaing, tempat bersih, dan waiter yang ramah nan wangi.

Kopi hitam seduh, Kapal Api, kuingat slogannya di tivi “secangkir semangat”, seharga dua ribu rupiah. Kuhirup aromanya, wangi, dan seruputan pertama menghantarkan hangatnya melintas lidah mengalir ke lambung. Aku punya maag, sebentar lagi pasti nyerinya akan menusuk ulu hati, karena kopi. Tapi percayalah, nyeri ulu hati karena kopi pahit dalam gelas plastik, tidak ada apa-apanya dibanding nyeri ulu hati membayar pajak bulanan dan segala retribusi, sementara kita tahu orang-orang seperti nenek penjual kopi ini tidak pernah ikut merasakan nikmatnya santunan negara.

Seruputan kedua mengalir lega..

Satu dua kenalan lewat menyapa. Bersama ojek mereka melaju, berebut jalan, menembus keramaian menuju gedung-gedung megah yang menawarkan kesejahteraan dan jaminan masa depan.

Masa depan? Selangkah di samping gelas kopiku yang masih mengepulkan panasnya, nenek itu menyimpan masa depannya. Melipatnya dengan penuh kegamangan, atau mungkin sudah tidak lagi dipikirkannya, kemudian menaruhnya sembrono di bawah gantungan sachet-sachet kopi. Apalah bedanya hati-hati dan sembrono, masa depan apa yang bisa dirawat dengan baik di kolong lintasan rel kereta? Masa depannya adalah cangkir-cangkir kopi itu; pada security yang tidak mengusir dari kardus peraduannya saat malam menjelang; dan pada satu dua penumpang yang bersedia menukar kopi panas dengan dua ribu rupiah.

Masa depan itu tak pantas lagi disebut masa depan..

Sementara kita mulai membuka berkas kerja dalam ruangan dingin ber-AC sembari merencanakan dalam hati kegiatan akhir pekan, nenek itu masih setia menunggui kopinya; menarik-narik jaket yang diharapkannya selalu dapat lebih panjang melindungi dari dingin; mengusap rambut putihnya; dan memandangi kotak sirup bronchitis yang entah kapan dapat dibelinya lagi, sebotol saja.

Bahkan, bagi nenek itu, adalah luar biasa absurdnya, berpikir tentang hendak menghabiskan usia, dan meninggal dimana..

Dhuha di sepanjang Gambir, 10 Oktober 2012.


[1] Stasiun Gambir, Jakarta Pusat.

[2] Pasar Tanah Abang.

data buku “Cendekiawan dan Kekuasaan Dalam Negara Orde Baru”

Judul                     : Cendekiawan dan Kekuasaan Dalam Negara Orde Baru

Penulis                 : Daniel Dhakidae

Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2003

Tebal                     : xxxviii + 790 hal

Ukuran                 : 15 x 23 cm (hard cover)

Daftar Isi

Bab I Cendekiawan sebagai Manusia Tapal Batas dalam Bingkai Modal, Kekuasaan, dan Budaya Wacana Kritis

Siapakah Cendekiawan dan Kaum Cendekiawan?

Pendekatan-pendekatan dalam Mempelajari Kaum Cendekiawan

Cendekiawan dalam Dimensi Moral Absolut

Cendekiawan sebagtai Manusia Tapal Batas: Antara Modal dan Kekuasaan

Cendekiawan Indonesia dan Budaya Wacana Kritis

Rintangan Historis Nama “Cendekiawan” atau “Intelektual”

Kekuasaan dan Perlawanan

Bab II Politik Etis dan Etika sebagai Wacana Politik

Bagian Pertama-Eksistensi dan Resistensi Boemipoetra

Inlander-Nederlander sebagai Wacana Politik

Bahasa Belanda dan Cendekiawan Boemipoetra

Politik Etis, Pendidikan, dan Resistensi Boemipoetra

Sekolah dan Cendekiawan Boemipoetra

Politik Etis, Modal, dan Resistensi Boemipoetra

Agama dan Koeksistensi dalam Wacana Etis

Kemerdekaan dan Perlawanan sebagai Diskursus

Bangsa, Bahasa, dan Kebangsaan dalam Wacana Politik Etis

Politik Etis dan Radikalisasi Wacana Perlawanan

Bagian Kedua-Politik Etis dan Gerakan Kesusastraan

Poedjangga Baroe dan Politik Ko-eksistensi

Barat dan Politik Koeksistensi: Polemik Kebudayaan

Bagian Ketiga-Totalisasi dan Universalisasi Wacana

Cendekiawan Kiri dan Kanan

Bab III Orde Baru dan Rezim Neo-Fasisme Militer

Bagian Pertama-Orde Baru dan Pembasmian Komunisme

Bencana Politik dan Formasi Wacana

Perancis, Jerman, dan Indonesia dalam Perbandingan

Orde Baru dan Pembasmian Komunisme

Bagian Kedua-Neo Fasisme Militer

Orde Baru dan Kontrol Kebenaran

Orde Baru dan Formasi Wacana Politik

Pandangan Para Ahli Barat sebagai Wacana Politik

Peninjauan Kembali Fasisme dan Neo-fasisme

Neo-fasisme Militer Orde Baru dan Negara Karya

Militer dan Mitos tentang Militer

Golkar, Partai Neo-Fasis Orde Baru

Bagian Ketiga-Soeharto Sang Fasis dan Pembangunan Karisma

Media, Puitisasi Kekuasaan, dan Karisma

Modal dan Karisma

Catatan Penutup

Bab IV Organisasi Profesional dan Aliansi Kekuatan Baru

Bagian Pertama-Ilmu-Ilmu Sosial sebagai Kekuatan

Pelacuran Intelektual dan Pertandingan Wacana

Lembaga-Lembaga Kecendekiaan

Politik Ilmu-ilmu Sosial: ISEI dan HIPIIS sebagai Lembaga Politik Kaum Cendekiawan Orde Baru

Kebudayaan Ilmuwan Sosial Orde Baru

Bagian Kedua-Dunia Penelitian, Dunia Tertakluk

Kekuasaan dan Pengetahuan dalam Masa Orde Baru

Krisis Ilmu dan Cengkeraman Kekuasaan Orde Baru

Pengetahuan, Penyeragaman, dan Orde Baru

Kekuasaan, Kebenaran, dan Organisasi Ilmu-ilmu Sosial

Bab V Media, Bahasa, dan Neo-Fasisme Orde Baru

Bagian Pertama-Surat Kabar dan Perlawanannya

Kebebasan, Kebebasan Pers dan Kebebasan yang Bertanggungjawab

Bagian Kedua-Bahasa dan Kekuasaan

Akronim, Eufimisme, dan Disfemisme dalam Politik

Akronim, Kekuasaan, dan Resistensi Politik

Eufemisme dan Kekerasan Politik

Bahasa dan Ekonomi Politik Kekuasaan

Disfemisme dan Politik Transhistoris

Renungan Penutup: Bahasa dan Politik Orde Baru

Bagian Ketiga-Cendekiawan dalam Pembiasan Prisma

Prisma Organ Intelektual Orde Baru

Modernis Kritis, Prisma Periode 1971-1975

Ujung Tombak Ilmu-ilmu Sosial Orde Baru

Sejarah sebagai Kritik

Cendekiawan Orde Baru dan Kekerasan Terhadap Bahasa

Prisma, Cendekiawan Orde Baru, dan Kaum Kiri

Babak Akhir: Re-Teknokratisasi

Prisma dan Krisis Orde Baru

Prisma dan Cendekiawan yang Berubah

Bab VI

Bagian Pertama-Agama-agama, Cendekiawan Agama, dan Negara Orde Baru

Dua Pandangan Tentang Agama: Agama sebagai Kekuasaan dan sebagai Ideologi

Kosmologi Medan Politik

Agama dan Negara

Agama dan Ideologi

Bagian Dua-Negara Organik, Tubuh Politik Islam, dan Politik Tubuh

Politik Pengabaian

Cendekiawan Islam dan Kekuasaan

Tubuh Politik Islam dan Politik Tubuh

Ikatan Cendekiawan Muslim dan Politik Pengabaian Orde Baru

Orde Baru dan Politik Pembersihan: Darul Arqam dan Islam Shy’a

Islam dan Orde Baru dalam Renungan

Bagian Tiga-Kemahakuasaan dan Kemahadaulatan: Negara Organik dan Kaum Kristen

Warisan Kolonial

Katolisisme dan Negara Organik

Dasar-dasar Pemikiran Center dan Martin Heidegger

Center dan Negara Organik Orde Baru

Negara Organik, Bangsa Sejati, dan Center

Daoed Joesoef dan Wissensdienst

Golkar, das Man, dan the Floating Mass

Kebangsaan, Center, dan Militer

Bagian Empat-Kaum Kiri, Tubuh Politikal, dan Perubahan Politik

Kaum Kiri, Agama, Tubuh Politikal, dan Perubahan Politik

Islam: Pergeseran ke Kiri

Gereja Katolik: Pergeseran ke Kiri dan Hierarki kepada Rakyat Perubahan di Kalangan Gereja Katolik

Partai Rakyat Demokratik dan Eskatologi Politik

Runtuhnya Orde Baru dan Tubuh Politikal

Catatan Penutup Bab Enam

Bab VII Kesimpulan dan Catatan Penutup

Peringatan 11/9 dan Kesadaran Kita

Peringatan 11/9 dan Kesadaran Kita

Peringatan sepuluh tahun tragedi 11/9 (11 September 2001), berpusat di Ground Zero, bekas lokasi menara kembar World Trade Center Amerika Serikat, yang diledakkan teroris, diselenggarakan dengan khidmat. Namun, gaung 10 tahun peristiwa itu telah
meledakkan kekerasan di berbagai negara. 11/9 menjadi tonggak terpenting bagi pernyataan perang Barat (Amerika) terhadap musuh yang mereka namakan teroris(me).

Samuel P Huntington (1992) mempublikasikan hipotesis yang terkenal, the Clash of Civilizations, yaitu argumen bahwa pascaperang dingin atau pascakomunisme, Barat akan limbung karena kehilangan musuh. Itu artinya nasionalisme dan perekonomian yang mendukung eksistensi negara, akan ikut goyah. Pascakomunisme, pertentangan bukan lagi antarideologi, sebagaimana sebelumnya antara demokrasi-liberalisme vis a vis komunisme. Pertentangan bergeser menjadi pertentangan antarperadaban (clash of civilizations), yang menurut Huntington didominasi oleh setidaknya sembilan peradaban utama, yaitu Barat, Ortodoks, Islam, Afrika, Amerika Latin, China, Hindu, Budha, dan Jepang. Entah kebetulan atau terprovokasi oleh
Huntington, Barat “meminang” Islam sebagai musuh baru, melalui tragedi 11/9, untuk membangkitkan lagi nasionalisme dan perekonomian negara mereka.

11/9, terlepas dari perdebatan siapa pelakunya, berhasil mendorong munculnya sentimen antiIslam. Kemudian dimulailah petualangan Barat ke Timur Tengah, atas nama demokrasi dan memerangi terorisme, menghancurkan dan menata ulang negara-negara yang sebenarnya memiliki hak untuk mengatur hidupnya sendiri. Seharusnya, pada titik inilah kita berani memberikan penafsiran yang berbeda dari wacana mainstream bentukan Barat tentang peristiwa 11/9.

Bagi Barat, emosi dan kepedihan akibat peristiwa 11/9 disalahgunakan untuk menghidupkan kembali industri nasional dan mencari “tanah jajahan” atau sumber daya alam baru. Sulit diingkari bahwa akhir dari perang-perang di Timur Tengah adalah pembagian konsesi akan sumber daya alam terutama kandungan minyak bumi.

Jika peperangan tersebut semata-mata merupakan pembalasan terhadap teroris, untuk alasan apa negara-negara tertentu harus dihancurkan. Bukankah teroris tidak pernah maujud dalam bentuk negara, apalagi menguasai lahan-lahan besar cadangan
minyak bumi dunia? Apa rasionya tuntutan Barat agar negara dunia melakukan proliferasi senjata pembunuh massal, sementara di sisi lain Barat mengembangkan senjata yang jauh lebih canggih dan mematikan?

Membebaskan Kesadaran

Trauma dan kepedihan akibat peristiwa 11/9 memang tidak dapat dihindari. Namun harus ditanyakan, apakah perlawanan terhadap terorisme harus dilakukan dengan kekerasan, yang bahkan sebagian besar korban perang terhadap terorisme adalah
orang-orang yang tidak tahu-menahu mengenai terorisme.

Teror adalah kekerasan, entah itu mematikan atau “sekadar” menciptakan ketakutan. Tetapi bagaimanapun, peristiwa 11/9 sebagai sebuah teror adalah sebuah hegemoni makna. Tanpa mengurangi kerugian dan kepedihan bagi yang ditinggalkan korban,
peristiwa 11/9 tidak pernah memaksa kita untuk memaknainya sebagaimana makna yang dibentuk Barat selama ini. Adalah kita sendiri yang menerima begitu saja klaim Barat bahwa al Qaeda pelakunya. Jika memang benar, logika mana yang dapat
mengaitkan al Qaeda dengan kebijakan politik Barat terhadap Palestina, Libya, Iraq, Iran, Mesir, Afghanistan, bahkan kebijakan terhadap negara-negara Asia seperti Indonesia yang ikut disibukkan dengan beragam isu terorisme.

Sadar atau tidak, peristiwa 11/9 dijadikan alat bagi Barat untuk mengarahkan dan mengikat kesadaran kita akan setidaknya tiga hal: pertama, negara di luar Barat adalah jahat, yang diungkapkan oleh Presiden Bush mengenai axis evil (2002) yang terdiri dari
Iran, Iraq, dan Korea Utara. Kedua, memerangi negara lain dibenarkan sebagai strategi preemptive mengantisipasi aksi terorisme. Ketiga, pembaratan adalah mutlak terhadap negara-negara non-Barat yang telah dilumpuhkan. Hal ini terlihat pada contoh kasus Afghanistan dan Iraq yang pascaperang dipaksa untuk dikelola (menerima nilai dan kebijakan) secara Barat, yang kenyataannya tertolak dan tidak memunculkan kedamaian.

Perang secara selektif di Timur Tengah, menunjukkan arah menuju penguatan hipotesis Huntington; bahwa benturan peradaban sedang terjadi antara Barat dengan negara-negara (beridentitas) Islam. Lalu apa akhir dari benturan antarperadaban? Konsistensi pada hipotesis Huntington mengarahkan Barat, setelah “aman” dari Islam, beralih “meminang” peradaban lain sebagai musuh bagi warga negaranya.

Sulit membayangkan akhir benturan antarperadaban ini. Manakala Barat mengklaim dirinya memperjuangkan kebebasan dan kedamaian, kita justru menemukan paradoks kebebasan, karena kebebasan diperjuangkan dengan sewenang-wenang yang justru
menghancurkan kebebasan dan kedamaian warga dunia lainnya.

Dialog antarperadaban

Alasan menjaga keamanan dan perdamaian, pasca 11/9 ternyata menyeret dunia ke dalam barbarisme. Sebuah perang yang tanpa alasan adalah teror bagi negara yang diperangi. Teror akan dibalas dengan teror, lantas masing-masing saling menyematkan
predikat teroris kepada lawannya, seraya menghantam.

Perang tidak menghasilkan apa-apa selain hanya mengekalkan siklus kekerasan. Jika demikian, mengapa tidak mencoba dialog antarperadaban sebagai strategi menciptakan kedamaian. Akar kekerasan, termasuk terorisme di dalamnya, erat terkait dengan
kesenjangan kesejahteraan. Sentimen mudah ditumpahkan kepada kelompok atau negara yang tamak mengeruk kekayaan alam tanpa mempedulikan penduduk setempat; atau mereka yang menunjukkan kehidupan berkelimpahan sementara bagi yang lain, kemiskinan dan penyakit adalah sarapan pagi.

Dialog, merujuk Jurgen Habermas, bukan sekadar berbicara, melainkan menenggang posisi lawan bicara. Dialog mengandaikan sebuah kesetaraan, baik dalam kedudukan maupun kepentingan. Tidak ada dominasi mayoritas terhadap minoritas; maka
negara yang kuat tidak boleh memaksakan kehendaknya kepada negara yang lebih lemah.

Dialog antarperadaban membuka pintu pemahaman apakah yang dibutuhkan oleh orang lain dan diri sendiri. Selanjutnya berproses mencapai win-win solution dengan iktikad baik tanpa memanipulasi lawan dialog. Hasil dialog memang tidak memberikan keuntungan maksimal kepada masing-masing pihak, karena semua harus berbagi. Negara adikuasa tidak akan mendapatkan hasil yang setara dengan persentase kekuatan yang mereka miliki. Tetapi hasil dialog akan memberikan jaminan ketenangan bagi negara adikuasa karena negara/kelompok minoritas akan mencapai tingkat kecukupan hidup yang meniadakan potensi provokasi-provokasi kekerasan.

Terorisme dan kekerasan tidak dapat ditoleransi. Tetapi sebelum menuding pihak lain sebagai teroris , harus dipastikan adanya dialog, dan jangan ada provokasi menggunakan kelimpahan kesejahteraan. (Mardian Wibowo: bergiat di Lingkar Studi Politik dan Hukum)

Mungkinkah Membubarkan Partai Politik?

Mungkinkan Membubarkan Partai Politik?

Setiap hari masyarakat disuguhi tontonan perilaku aktor-aktor politik di dewan perwakilan, mulai dari penyusunan kebijakan yang seringnya membuat kecewa masyarakat yang diwakilinya; hingga pelaksanaan peran yang seolah-olah membela kepentingan bangsa dan negara namun ternyata dibaliknya bercokol kepentingan-kepentingan diri dan partainya sendiri. Masyarakat jumud menyaksikan tontonan panja, pansus, hiruk pikuk badan anggaran, korupsi departemen, kasus surat palsu Mahkamah Konstitusi (MK), dan banyak lagi kasus-kasus lain yang melibatkan aktor-aktor dari partai politik.

Apakah perilaku-perilaku menyimpang dari aktor-aktor tersebut adalah tanggung jawab individual pelakunya sendiri, atau sedikit
banyak terkait dengan keberadaan partai politk yang menaunginya? Dari sisi keterikatan aktor politik dengan partainya, terlihat bahwa perilaku aktor politik merupakan cerminan kualitas partai; karena partai -dengan fungsi rekrutmen- menjadi satu-satunya pintu masuk seseorang menjadi anggota dewan perwakilan.

Jika memang demikian, maka sudah sewajarnya partai politik memainkan peran untuk perbaikan kualitas anggotanya yang terpilih menjadi anggota dewan (mewakili rakyat). Posisi sebagai inisiator (perekrut) itu juga yang membuat partai politik harus ikut memikul tanggung jawab jika terdapat kadernya yang melakukan perbuatan menyimpang, baik dari sisi moral-etika, maupun, tentunya, dari sisi hukum.

Bentuk tanggung jawab partai politik beragam, mulai dari permintaan maaf, penarikan kader dari dewan perwakilan, pemecatan kader, atau jika permintaan maaf, penarikan, dan pemecatan sudah tidak lagi mampu menenangkan masyarakat dan memulihkan kerusakan (materi atau moral), maka pada titik ekstrem partai politik yang bersangkutan harus dibubarkan.

 

Sejarah Pembubaran Partai Politik

Pembubaran partai politik bukan hal baru, meskipun secara politik tabu, karena konsep (hukum) perpolitikan kita diarahkan pada pertanggungjawaban individu anggota partai politik dan bukan pertanggungjawaban partai politik sebagai badan hukumnya.

Menilik sejarah, terdapat beberapa kasus pembubaran partai politik di Indonesia dan wilayah yang secara historis merupakan cikal bakal Indonesia, yaitu Hindia-Belanda. Pada 1913 Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda membubarkan Indische Partij, dan membubarkan Partai Komunis Indonesia. Sementara Partai Nasional Indonesia dibubarkan oleh Ketuanya sendiri para 1930 karena penangkapan para pemimpin PNI oleh Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda.

Pada masa pendudukan Jepang, tidak ada pembubaran dengan secara spesifik menyebut nama partai politik. Tetapi Jepang melarang aktivitas penggalangan massa untuk rapat politik (vergadeering) yang sama artinya dengan membekukan semua partai
politik yang ada.

Era kemerdekaan Indonesia juga mencatat adanya beberapa pembubaran partai politik. Pemerintah (Presiden Soekarno) membubarkan Partai Majelis Sjuro Muslimin Indonesia (Masjumi) dan Partai Sosialis Indonesia pada 1960. Meskipun sebenarnya lebih tepat jika hal tersebut disebut “meminta” agar kedua partai dimaksud membubarkan diri.

Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, Partai Komunis Indonesia dibekukan pada tahun 1965 dan kemudian pada tahun 1966 PKI dilarang  dengan Ketetapan MPRS. Pada masa Presiden Soeharto ini juga, tepatnya 1973, dilakukan penggabungan
partai-partai menjadi Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Demokrasi Indonesia, serta satu Golongan Karya.

Dengan menilik sejarah pembubaran partai politik di Indonesia, pembubaran selalu menjadi inisiatif Pemerintah yang kemudian dikuatkan oleh lembaga legislatif (melalui pembentukan peraturan perundang-undangan). Inisiatif masyarakat (rakyat) dalam pembubaran partai politik tidak pernah terwujud nyata, melainkan maksimal hanya diwujudkan melalui ketidakikutsertaan
dalam pemilu.

Hanya saja, kelemahan penolakan masyarakat dengan cara bersikap apatis dalam pemilu, ternyata menyimpan kelemahan tersendiri. Kelemahan yang terutama adalah, partai yang bersangkutan, meskipun tidak akan dipilih lagi oleh rakyat pada Pemilu selanjutnya, tidak akan langsung bubar melainkan memerlukan waktu antara sebelum bubar dengan sendirinya. Dalam proses menuju bubar inilah, potensi kerugian yang ditimbulkan partai politik tidak langsung terhenti. Salah satu potensi kerugian muncul karena semua partai politik yang memiliki kursi di dewan perwakilan mendapat bantuan dana dari APBN/APBD, yang notabene adalah uang rakyat. Selain tentu saja, kebobrobrokan moral partai politik bersangkutan akan menularkan
pengaruh buruk kepada masyarakat.

Pembubaran Partai Politik oleh MK

Rezim undang-undang mengenai partai politik, baik UU 31/2002 tentang Partai Politik (Pasal 20), maupun UU 2/2008 tentang Partai Politik (Pasal 41) sebagaimana telah diubah dengan UU 2/2011, menyatakan bahwa partai politik bubar apabila: a) membubarkan diri atas keputusan sendiri; b) menggabungkan diri dengan partai politik lain; atau c) dibubarkan oleh Mahkamah
Konstitusi.

Berdasarkan hal tersebut, satu-satunya cara untuk menuntut pembubaran partai politik adalah dengan mengajukan permohonan
pembubaran partai politik kepada MK. UUD 1945 Pasal 24C dan UU 24/2003 tentang Mahkamah Konstitusi Pasal 10 ayat (1) menegaskan kewenangan “memutus pembubaran partai politik” dimaksud. Diberikannya kewenangan pembubaran partai politik ini kepada MK membuka harapan bahwa perilaku partai politik akan dapat lebih dikontrol.

Namun hal tersebut masih jauh dari ideal karena ternyata permohonan pembubaran partai politik hanya dapat diajukan oleh
Pemerintah (vide Pasal 68 ayat (1) UU MK). Parameter pengajuan permohonan pembubaran partai politik adalah jika partai politik memiliki ideologi, asas, tujuan, program, dan kegiatan yang bertentangan dengan UUD 1945.

UU 2/2008 sebagaimana telah diubah dengan UU 2/2011 mengatur asas partai politik dalam Pasal 9; tujuan diatur dalam Pasal 10; fungsi diatur pada Pasal 11; kewajiban diatur Pasal 13; larangan diatur Pasal 40; sanksi diatur Pasal 47 dan Pasal 48. Pada pokoknya ideologi, asas, tujuan, program, dan kegiatan partai politik tidak boleh bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. Dari ketentuan ini muncul harapan bahwa partai-partai yang korup maupun partai-partai yang melindungi perilaku korup dapat dimintakan pembubarannya kepada MK dengan alasan kegiatan mereka bertentangan dengan jiwa Pancasila dan UUD 1945.

Namun, ketentuan mengenai pembubaran partai politik seperti diatur dalam UU Partai Politik dan UU MK menyimpan celah tersendiri. Celah terbuka karena adanya pembatasan bahwa yang dapat menjadi Pemohon dalam perkara pembubaran partai politik hanya Pemerintah.

Dengan asumsi bahwa pemerintah (eksekutif) adalah lembaga yang benar-benar independen dan steril dari kepentingan partai politik, maka permohonan pembubaran partai politik akan menemukan bentuk idealnya. Namun, manakala pemerintah (eksekutif) didominasi oleh kekuatan partai politik -hal ini sulit dihindari karena secara tradisi Presiden adalah pemimpin partai
politik pemenang Pemilu- maka pembubaran partai politik akan dimanfaatkan sebagai sarana pertukaran kepentingan politik.

Apalagi jika partai politik yang melakukan penyimpangan adalah partai politik yang berkuasa; apakah mungkin pemerintah akan mengajukan pembubaran partai politik? Blunder bagi Presiden, karena membubarkan partai politik pemenang pemilu sama artinya dengan menurunkan diri sendiri dari panggung kekuasaan. Pembubaran partai politik makin muskil manakala tradisi
politik membiasakan adanya pembentukan koalisi-koalisi untuk memerintah bersama. Maka pembubaran partai politik berkuasa akan ditentang oleh koalisinya.

Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut, sudah saatnya pembentuk undang-undang memberi keleluasaan kepada masyarakat (warga negara) untuk dapat menjadi Pemohon dan mengajukan permohonan pembubaran partai politik kepada MK. Tetapi apakah pembentuk undang-undang -yaitu gabungan partai politik- bersedia membuat ketentuan (legislative review) yang kelak dapat dipergunakan untuk membunuh partai politik itu sendiri? Jika jawabannya tidak, masih ada harapan untuk mengubah ketentuan tersebut dengan mengajukan judicial review kepada MK.

Pengandaian terakhir, jika kemudian sembarang orang dapat mengajukan permohonan pembubaran partai politik kepada MK, apakah tidak akan dimanfaatkan oleh partai politik untuk saling menjegal pesaingnya? Hal ini memang mungkin terjadi, tetapi hal tersebut tetap saja lebih fair dibandingkan jika pengajuan permohonan pembubaran partai politik dimonopoli oleh Pemerintah sendiri.

(mardian wibowo)

Tata Cara Penggantian TNKB

Tata Cara Perpanjangan STNK lima tahunan (ganti Tanda Nomor Kendaraan Bermotor/plat) di Samsat Jakarta Timur (by pass Jl. DI Panjaitan, Kebon Nanas, Jatinegara, Jakarta Timur)

Saya mengurus perpanjangan lima tahunan untuk STNK sepeda motor pada 9 September 2011, yang pada pokoknya pengurusan dibagi menjadi dua besaran tahap, yaitu di luar gedung dan di dalam gedung.

Berikut ini urutan langkah yang bisa dijadikan panduan:

  1. Saat masuk ke halaman Samsat, jangan parkir motor dulu, tapi langsung saja menuju tempat gesek nomor rangka dan nomor mesin (ikuti arah panah). Di tempat gesek nomor, silakan antri menunggu petugas yang akan menggesekkan sepeda motor anda. Anda tidak perlu membeli formulir gesek apapun, karena petugas gesek sudah menyediakan formulir tersebut. Biaya formulir dan gesek adalah Rp.10.000,- dibayarkan kepada petugas gesek.
  2. Setelah dari petugas gesek, silakan menuju Loket 4 luar Gedung yang berada persis di sebelah tempat gesek. Silakan parkir motor di tempat parkir terdekat. Kemudian datang ke Loket 4 untuk menyerahkan: a) Asli BPKB, asli STNK, dan asli KTP; b) Copy BPKB, copy STNK, dan copy KTP, masing-masing cukup 1 eksemplar; c) Bayar Rp.30.000,-
  3. Petugas akan mencocokkan selintas berkas kita, kemudian akan mengembalikan kepada kita asli BPKB dan asli KTP. Kemudian silakan menunggu panggilan dari loket sebelahnya untuk menerima berkas selebihnya yang telah diperiksa. Setelah menerima kembali berkas kita dari Loket 4, silakan masuk ke gedung utama untuk melakukan proses lanjutan.
  4. Di dalam gedung utama, ambil formulir perpanjangan STNK di meja informasi, kemudian isi dan serahkan ke Loket 1 Pendaftaran dengan dilampiri semua berkas yang telah kita terima dari Loket 4 Luar Gedung, yaitu: a) asli BPKB, asli STNK, asli KTP, dan asli formulir gesek nomor rangka dan nomor mesin; serta b) copy BPKB, copy STNK, dan copy KTP.
  5. Setelah dicek sebentar, akan dikembalikan kepada kita asli BPKB dan nomor antrian untuk mengambil kembali berkas yang akan dicek.
  6. Kemudian kita akan dipanggil ke Loket 2 untuk mengambil notice (berupa formulir pajak) dan asli KTP dikembalikan.
  7. Selanjutnya bayar pajak di Loket 3 atau Loket 4 sejumlah Rp.277.000,-. (besaran pajak tergantung jenis dan tahun kendaraan). Sampai tahap ini STNK asli belum diserahkan kepada kita.
  8. Setelah membayar pajak, bawa bukti pembayaran pajak ke luar gedung untuk mengambil TNKB (plat) ke ruang cetak TNKB yang berada di samping tempat kita menggesek nomor rangka tadi. Pada saat mengambil TNKB ada biaya Rp.5.000,- atau biaya tersebut bisa juga dibayarkan di Loket 3 atau Loket 4 dalam Gedung.
  9. Kemudian balik ke Loket 3 atau Loket 4 dalam Gedung untuk mengambil asli STNK (yang baru) dan bukti pembayaran pajak.
  10. Proses selesai.

Waktu yang dibutuhkan sebenarnya sangat singkat, tetapi pada prakteknya memang tergantung banyak atau sedikitnya antrian yang ada.

Post Navigation

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.